
"Akhirnya sampai juga kita di depan air terjun."
kata Rani saat sampai di depan air terjun.
"Hm....! ternyata malam ini bulan purnama!" seru si Kity saat memandang langit.
"Kity....!" panggil Rani yang pandangannya fokus pada sesuatu.
"Ada apa nona?" tanya si Kity yang penasaran
"Kau lihat pohon disana! seperti ada cahaya? baru tahu pohon yang biasa tempatku main, buahnya bercahaya! apa karena sinar bulan ya?" tanya Rani yang penasaran.
Si Kity menatap ke arah benda bercahaya yang ditunjukkan oleh Rani.
"Cepat petik buah itu, belah dan ambil bijinya. Itu pil langit yang bagi orang bumi sebagai sumber daya dan obat. Ambil sebanyak mungkin dan masukkan dalam liontin kalung mu, karena sewaktu-waktu kamu akan membutuhkannya!" seru si Kity.
"Begitu ya? baiklah akan Rani petik buah itu!" balas Rani yang bergegas berlari ke arah pohon yang letaknya di dekat air terjun yang dahan rantingnya menjuntai ke kolam air terjun itu.
Setelah menurunkan si Kity, Rani bergegas memanjat pohon itu denga segala kemampuannya.
"Ingat ya yang bercahaya, ambil bijinya dan buahnya lemparkan ke arahku!" seru si Kity.
"Baik...!" balas Rani yang sudah sampai di atas pohon dengan buah yang bercahaya itu.
Rani pun segera memetik buah yang bercahaya itu dan membelahnya Kemudian gadis itu mengambil biji-biji kecil yang berwarna keemasan di dalamnya.
Biji-biji itu di masukannya ke dalam liontin bambu kalung pusaka, dan melemparkan buahnya ke arah si Kity, sesuai apa yang disarankan si kucing putih itu.
Kity dengan sigap menangkap dan memakannya dengan lahapnya.
"Baru kali ini aku melihat seekor kucing makan buah!" gumam Rani dalam hati yang memperhatikan kucing putih itu yang makan dengan lahapnya.
"Aku mendengar isi hatimu nona!"" seru si Kity dengan menyantap buah itu dengan lahapnya.
"Eh!" Rani sangat terkejut di uat ya.
"Apa kau lupa kalau aku ini kucing langit?" tanya si Kity yang memandang Rani seraya mengunyah buah langit yang dia santap itu.
"Oh iya diakan kucing langit, beda dengan kucing di bumi!" gumam Rani saat melihat si Kity yang begitu lahapnya kembali menyantap buah bercahaya yang dia lemparkan.
"Jangan bengong, kamu juga bisa memakannya. Buah langit ini rasanya tergantung suasana pemakannya. Kalau hatimu senang, maka rasanya akan manis! " seru si Kity.
"Baik aku akan coba untuk memakannya. Kebetulan juga aku sedang lapar!" seru Rani yang kemudian memetik buah langit yang bercahaya dan membelahnya. Lalu gadis itu mengambil isi dan kembali memasukkan ke dalam liontin kalung pusakanya.
Rani mencoba untuk memakan buah langit seperti apa kata Kity, tanpa ragu lagi dia melahapnya.
__ADS_1
"Hm..manis!! aku suka rasanya!" seru Rani.yang mengulas senyumnya.
"Betul kan! Ayo petik lagi dan lemparkan buahnya padaku, aku masih lapar!" seru si Kity.
"Baiklah Kita!" seru Rani yang kemudian mengambil lagi buah langit, setelah mengambil bijinya, buah dari buah langit dilemparkan Rani ke arah Kity.
Hingga terdengarlah suara orang memanggil Rani dari kejauhan.
"Raniii....! Ranii......!"
Suara panggilan seorang laki-laki dari kejauhan.
"Nona Rani...! Nampaknya ada yang mencarimu dari kejauhan. Nampaknya seorang laki-laki !" seru Kity yang menggerakkan telinganya dan menajamkan pendengarannya.
"Iya! aku juga mendengarkannya. Nampaknya aku sudah terlalu lama meninggalkan perguruan!" gumam Rani.
"Rani...Rani...! Di mana kamu sayang...!" seru seseorang yang di antara kegelapan dengan cahaya lampu senter di tangannya.
"Ranii.....!"
Sekali lagi suara panggilan itu yang kembali terdengar semakin mendekat ke arah air terjun.
"Kak Saga..!" seru Rani menebak, siapa lagi berani memanggilnya sayang kecuali keluarga dan kekasihnya itu.
"Iya..!" jawab Rani, dan dia berusaha untuk menuruni pohon tersebut.
"Rani itu kah kamu!" seru Sersan Saga sambil mengarahkan sorot lampu senternya ke arah pohon yang di lihatnya ada bayangan seseorang.
"Kak Sagaaaa...!" panggil Rani dari pohon di mana dia metik buah langit.
Karena terkejut, Rani terpeleset dan jatuh ke dalam kolam dekat air terjun.
"Byuuuuurrr....!"
Air kolam yang tadinya tenang, jadi ber gelombang mana kala tubuh mungil Rani tercebur di dalamnya.
"Raniiii.....!" seru Sersa Saga yang tanpa pikir panjang langsung melempar lampu senter dan melepas alas sepatunya, kemudian menceburkan diri ke kolam dan berenang hendak menolong Rani.
Dengan cepat dan sekuat tenaga Sersan Saga berenang dan meraih tubuh Rani.
"Eh, apa ini? apakah kak Saga mengira aku akan tenggelam karena nggak bisa berenang? Baiklah, ini kesempatanku menjahili kak Saga! He....he..he....!." gumam Rani dalam hati sambil tersenyum.
Kemudian Sersan Saga berenang dengan tangan kiri membawa Rani sampai ke tepi kolam.Sersan Saga membopong Rani ke tempat yang lebih kering dekat lampu senter yang dia lemparkan tadi.
"Rani, sadar sayang....!" panggil Sersan Saga yang sangat panik.
__ADS_1
Sersan Saga mengusap wajah Rani yang terkulai, lalu ditepuknya ke dua pipi Rani dan kemudian di usap-usapnya kedua punggung tangan gadis itu secara bergantian. Untuk sekedar memberi kehangatan pada kekasihnya itu.
Lalu Saga berkali-kali menciumi punggung tangan sebelah kanan Rani
"Bangun sayang...!" racau Sersan Saga yang sekarang ini dalam keadaan sangat cemas sekali.
Dan kemudian menaruh kedua telapak tangannya di dada Rani dan menekan agar air dalam tubuh gadis itu dapat keluar.
"Rani sauang,bangun! jangan buat kakak khawatir..!!" seru Sersan Saga yang begitu cemasnya..
"Mungkin dengan nafas buatan kamu bisa bangun!" gumam Sersan Saga.
"Hei, rupanya mencari kesempatan dalam. kesempitan ya! tak akan aku biarkan!" gumam Rani dalam hati saat mendengar Sersan Saga, pada saat mengucapkan kata nafas buatan.
"Hukk....hukk...hukk....!"
Terdengar suara Rani yang pura-pura rerbatuk.
"Rani! Kamu tak apa-apa kan sayang!" seru Sersan Saga yang langsung memeluk Rani pada saat itu juga.
"Hukk....!"
Rani seakan sesak napas pada saat Sersan Saga yangmemwluk dubuhnya dengan eratnya.
"Kak....kak Saga! Ra...Rani tak bisa bernapas!" suara Rani yang lirih namun masih bisa didengarkan oleh Sersan Saga.
Akhirnya kamu sadar sayang..!!" kata Sersan Saga yang kemudian memeluk dan mencium kening gadis pujaannya itu.
"Ahh...! kak Saga pelukanmu hangat sekali!" seru dalam hati Rani.
"Kak dingiin!" seru Rani yang kemudian gadis itu terkulai lemas dan pura-pura pingsan.
"Rani..Rani...!" panggil Sersan Saga, yang sangat ke ingungan dan khawatir, kemudian Sersan Saga membaringkan Rani di atas rumput.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1