Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Mulai Penyelidikan ll


__ADS_3

Suami Rani itu segera menyalakan sepeda motornya dan kemudian melaju ke jalan raya, menuju ke tempat tujuan mereka.


Mereka menuju ke kantor polisi dan segera pulang ke apartemen mereka karena hari telah malam.


...****...


Komisaris Saga dan Rani yang dalam rangka penyelidikan kasus pembunuhan di pesta dansa, memastikan hari Selasa berikutnya sebagai hari pementasan misterius itu.


Persiapan-persiapan yang dilakukan sangat menggugah rasa ingin tahuku. Layar putih dipasang di satu sisi ruangan, diapit tirai-tirai yang berat pada masing-masing sisi. Seorang laki-laki muncul membawa perlengkapan tata cahaya, dan akhirnya sekelompok anggota teater menghilang ke dalam kamar tidur yang digunakan sebagai kamar rias sementara.


Beberapa saat sebelum pukul 20.00, Inspektur Alex yang tiba dengan suasana hati yang tidak riang.


Rani merasa inspektur itu kurang menyetujui rencana komisaris Saga.


"Agak sensasional, seperti semua gagasannya. Tetapi, cara ini tidak membahayakan, dan seperti yang dikatakannya, dapat menyelamatkan kita dari kesulitan. Sejauh ini dia telah menangani perkara ini dengan amat brilyan." ucap Inspektur Alex pada Rani.


"Saya sendiri mempunyai pemikiran yang sama, tentu saja itu,, karena secara naluri aku merasa kamu itu tengah memaksakan menerima kebenaran." kata Rani yang menebarkan pandangannya ke sekitarnya.


Lord Cronshaw muncul pertama kali, mengawal Nyonya Mallaby yang belum pernah dilihat baik Rani, Komisaris Saga dan inspektur Alex, dia seorang wanita yang cantik, berambut gelap, dan nampak gelisah.


Kemudian menyusul Davidson dan istrinya Chris Davidson juga baru kali ini mereka ketahui. Davison itu orangnya cukup ganteng, tinggi, berkulit gelap, dan gayanya menunjukkan bahwa dia memang seorang aktor.


Komisaris Saga telah mengatur tempat duduk kelompok ini menghadap layar yang disorot cahaya terang. Dimatikannya lampu-lampu lainnya sehingga ruangan itu menjadi gelap gulita.


Suaranya terdengar diantara kegelapan.


"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, ada sedikit penjelasan. Secara bergantian, enam figur akan melewati layar. Tokoh-tokoh ini tidak asing lagi bagi Anda. Pierrot dan Pierrette-nya; Punchinello, si badut, dan Pulcinella yang elegan; si cantik Columbine yang berdansa dengan ringannya, dan Harlequin, si peri, gaib bagi manusia."


Dengan kata-kata pembukaan ini pertunjukan pun dimulai.


Setiap tokoh yang telah disebutkan oleh Poirot bergantian berjalan keliling di hadapan layar, berhenti sejenak, lalu menghilang. Lampu-lampu menyala dan desah kelegaan terdengar dari setiap penonton. Setiap orang gelisah karena mereka tidak tahu apa yang dimaksud.


Bagi Rani, kelihatannya acara ini cuma begitu saja. Apabila pelaku pembunuhan berada di antara mereka dan Poirot mengharapkannya patah semangat lalu mengaku pada waktu melihat tokoh yang telah dikenal, jelas sia-sia padahal hampir pasti inilah tujuan Poirot.


Bagaimanapun juga, Poirot tidak nampak gelisah sedikit pun. Dia melangkah ke depan dengan wajah berseri-seri.

__ADS_1


"Nah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, sudikah Anda secara bergantian mengatakan kepada saya apa yang baru saja kita saksikan ini" Bagaimana kalau Anda mulai, milor'?" tanya pembawa acara yang mampu membuat Lord Cronshaw kelihatan agak bingung.


"Saya rasa, saya tidak sungguh-sungguh mengerti."


"Katakan saja apa yang baru saja kita lihat."


"Saya ..eh, saya harus katakan bahwa kita melihat enam figur lewat di depan layar, berpakaian mewakili tokoh-tokoh dalam komedi Italia kuno, atau... eh... kami sendiri pada malam yang lalu itu."


"Jangan pikirkan malam yang lalu itu, milor'," Komisaris Saga yang memotong.


"Bagian pertama kata-kata Anda itulah yang saya inginkan. Madame, Anda sependapat dengan Milor' Cronshaw?" ta ya komisaris Saga seraya menoleh kepada Nyonya Mallaby.


"Saya... eeh... ya, tentu saja." jawab nyonya mallaby


"Anda sependapat bahwa Anda melihat enam tokoh yang mewakili Komedi Italia?" tanya Rani.


"Tentu saja." jawab nyonya Mallaby.


"Monsieur Davidson, Anda juga?" sambung tanya nyonya Mallaby.


"Bagaimana dengan Anda tuan-tuan dan nyonya?" tanya Nyonya Mallaby yang masih penasaran.


"Ya! Kamu setuju!" seru Komisaris Saga yang memandang satu persatu secara bergantian wajahnya menjadi agak pucat, kedua matanya berwarna hijau seperti mata kucing.


"Kalau demikian - kalian keliru! Mata kalian telah menipu kalian - seperti juga halnya pada malam pesta dansa itu. 'Melihat dengan mata sendiri', seperti kata orang, tidak selalu berarti melihat yang sebenarnya. Orang harus melihat dengan mata pikiran; orang harus menggunakan otak! Nah, ketahuilah bahwa pada malam pesta dansa itu kalian tidak melihat enam tokoh, melainkan lima! Mengerti!" seru nyonya Mallaby yang menjelaskan.


"Lampu padam lagi. Sesosok figur melompat ke depan layar!" lanjut seru nyonya Mallaby.


"Siapa itu?" tanya Inspektur Alex yang penasaran. "


"Apakah dia Pierrot?" tanya Rani yang mencoba menebak.


"Benar. Lihatlah lagi!" seru Komisaris Saga


Dengan satu gerak cepat orang itu membebaskan diri dari pakaian Pierrot-nya yang longgar. Di sana, di bawah sorot lampu yang kuat sekali, berdirilah Harlequin yang gemerlapan! Pada waktu yang sama terdengar jeritan dan suara kursi dijungkirkan.

__ADS_1


"Terkutuklah Anda!" suara Davidson menggeram.


"Terkutuklah Anda! Bagaimana Anda bisa menerka?"


Lalu terdengarlah denting borgol tangan dan suara inspektur Alex yang tenang dan resmi,


"Saya menahan Anda, Christopher Davidson dengan tuduhan melakukan pembunuhan atas diri Viscount Cronshaw apa pun yang Anda katakan akan digunakan dalam kesaksian yang memberatkan Anda." ucap Inspektur Alex.


Seperempat jam kemudian jamuan makan malam kecil telah tersedia. Dengan wajah berseri-seri, Komisaris Saga menjawab semua pertanyaan mereka yang penuh rasa ingin tahu.


"Semuanya sederhana sekali. Rumbai sutra hijau yang ditemukan dalam tangan almarhum Lord Cronshaw langsung memberi kesan bahwa itu telah ditarik lepas dari kostum si pembunuh. Saya coret nama Pierrette dari benak saya (karena diperlukan tenaga yang cukup besar untuk menghunjamkan pisau makan) dan memastikan Pierrot sebagai pelakunya. Akan tetapi, Pierrot meninggalkan pesta dansa itu hampir dua jam sebelum pembunuhan terjadi. Jadi, dia pasti kembali lagi ke pesta itu untuk membunuh Lord Cronshaw ataubdia sudah membunuh Cronshaw sebelum mengantar Nona Courtenay!" jelas Komisaris Saga.


"Apakah kemungkinan ini mustahi.? Siapa yang melihat Lord Cronshaw setelah makan malam?" tanya Inspektur Alex yang penasaran.


"Hanya Nyonya Davidson, yang pernyataannya tentang rumbai sutra hijau yang hilang itu, jangan-jangan, sengaja dibuat-buat. Pasti rumbai itu sengaja ia gunting dari pakaiannya sendiri untuk menggantikan rumbai yang hilang dari kostum suaminya. Kemudian, Harlequin yang terlihat di balkon pada pukul 01.30 itu pasti tiruan saja." jelas Komisaris Saga.


"Sebelum ini, saya sekilas mempertimbangkan Beltane sebagai pelaku pembunuhan. Tetapi dengan kostumnya yang rumit jelas tidak mungkin ia merangkap peran Punchinello dan Harlequin. Di pihak lain, peniruan ini gampang sekali dilakukan oleh Davidson, laki-laki muda dengan tinggi badan yang kira-kira sama dengan korban dan berprofesi sebagai aktor." lanjut jelas Komisaris Saga.


"Satu hal yang mencemaskan saya. Mustahil seorang dokter tidak dapat merasakan perbedaan antara orang yang sudah dua jam meninggal dengan yang baru sepuluh menit tiada!" terka Rani.


"Nah, dokter itu memang merasakannya, tetapi ia tidak diajak memeriksa tubuh jenazah itu saat ditanya!" jelas Komisaris Saga.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...¹...


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2