
Tiba waktunya istirahat kedua, menunjukan jam dua belas siang.
Rani yang masih menjalani hukuman pun, mendadak matanya berkunang-kunang dan dia pun seketika ambruk.
Tak ada yang mau menolongnya baik murid maupun para guru, setelah tahu siapa yang menghukumnya. Si guru Killer.
"Raniiii...!!"
Teriak Dito, hanya Dito lah yang mau menolong Rani dan membopongnya secara tertatih ke ruang kesehatan.
Sedangkan Dio dan yang lainnya hanya memperhatikannya dari lorong depan kelas masing-masing.
Susah payah Dito membopong Rani ke ruang kesehatan.
Dengan terengah-engah Dito membaringkan Rani di tempat tidur.
Dito pun mencari minyak kayu putih di dalam lemari obat, dan kemudian mengoleskannya pada hidung dan bawah hidung Rani.
"Rani...! bangunlah...!" seru Dito yang cemas.
Tak berapa lama, Rani pun membuka matanya.
"Syukurlah kamu sudah sadar..!" ucap Dito yang sedikit lega.
"A..aku dimana..?" tanya Rani saat memandang Dito dan sekelilingnya.
"Ada diruang kesehatan..!" jawab Dito yang kemudian mengambil dua gelas air putih kemasan gelas yang selalu tersedia di meja dekat lemari obat.
Setelah menancapkan sedotan pada air mineral kemasan gelas itu, Dito pun memberikannya pada Rani. Dan dia juga minum air mineral kemasan gelas yang satunya.
Dito mengambil roti semir di saku depannya, dan memberikan roti semir itu yang sudah gepeng pada Rani.
"Maaf sudah tak berbentuk lagi..!" kata Dito.
"Nggak apa-apa..! Makasih ya..!" ucap Rani sambil tersenyum pada Dito. Dan kemudian memakan roti itu.
Dito pun membalas senyuman Rani, dan jantung Dito seakan mau lompat saat melihat Rani tersenyum padanya.
"Siapa yang suruh Dia di bawa ke sini..?" tanya seseorang yang tiba-tiba masuk tanpa permisi yang tak lain guru killer.
"A..aku yang membawanya..!" jawab Dito sedikit gugup.
"Brugh...!!"
__ADS_1
"Dasar anak tak berguna...!!" seru guru killer itu yang kemudian mendorong Dito hingga jatuh terduduk di kursi yang ada di ruangan kesehatan itu.
"Apa yang anda lakukan..!!" seru Rani kesal dan berusaha bangkit walau masih sedikit lemah.
Kemudian Guru itu mendorong Rani untuk tetap terbaring.
"Mana ada guru seperti ini..!!" batin Rani yang menatap guru killer itu yang berusaha mengusap pipi dan turun ke leher Rani.
Rani tak bisa berontak karena tubuhnya masih lemah.
Tiba-tiba...
"Brakkk...!!"
Sebuah kursi menghantam punggung guru killer itu
"Dasar mesum...! jangan sentuh Raniku...!!" seru seorang pemuda yang tak lain Dito.
"A..apa? nggak salah dengar aku? Rani ku?" batin Rani.
"Nona cepat makan pil langit..! di luar ada yang menantimu...!!!" seru Kity yang ternyata sudah keluar dari liontin pusaka.
Rani segera mengeluarkan labu kuning yang di perolehnya kemarin dari dalam liontin.
Tanpa menunggu waktu lama, Rani membukanya dengan belati pusakanya.
Diambilnya dua butir pil langit dan langsung di telannya.Kemudian Rani memasukan kembali labu kuning itu.
"Itu apa Rani?" tanya Dito yang heran.
"Untuk menambah staminaku karena tadi tenagaku terkuras karena hukuman guru killer ini...!" jelas Rani.
"Dia bukan guru...! tapi anak buah Papa. Edo namanya.Aku tahu kamu pendekar bertopeng, selamatkanlah Tuan Wibowo dan Tuan Anggara yang saat ini ada di rumah yaitu markas utama geng kobra." jelas Dito menggebu.
"Aapa...! berarti dia tangan kanan papa kamu? papa Wibowo di sekap di rumahmu..?" tanya Rani agar lebih jelasnya.
"Iya...!" jawab Dito.
Guru Killer alias Edo tersadar dan berusaha bangkit dari pingsannya.
Dengan tendangan berputarnya, Rani membuat Edo si guru killer itu ambruk kembali.
"Aku tak bisa membuat luka atau membunuh jika masih di lingkup sekolah." batin Rani.
__ADS_1
"Dito..! kita kembali ke kelas..! aku harus pulang lebih awal..!" seru Rani yang mengintip dari balik pintu, memang benar kata Kity kalau geng kobra berada di halaman sekolah.
"Pergilah..! mereka tidak akan menyelakaiku. Jangan khawatirkan aku..!!" kata Dito meyakinkan.
"Terima kasih atas bantuanmu, jaga dirimu baik-baik..!" kata Rani sambil memegang tangan Dito.
Setelah itu Rani memegang liontin pusakanya.
"Ke kelas..!!"
Seru Rani pada liontin pusaka itu dan dalam sekejap Rani sudah berada di ruang kelasnya.
Gadis itu mengambil tas sekolahnya, dan keluar dari ruang kelasnya dengan mengendapa-endap.
"Itu dia...!!" seru salah seorang berjaket geng kobra saat melihat Rani keluar dari ruang kelas.
Rani mempercepat langkahnya menerobos teman-temannya yang masih bergerombol di lorong -lorong sekolah menuju tempat parkir.
Rani menyempatkan diri mengambil batu alam yang ada di setiap pot bunga depan ruang guru.
Sampai di parkiran, ternyata Rani di sambut puluhan anggota geng kobra.
Tanpa pikir panjang, Rani melempar batu alam yang di ambilnya tadi.
"Takk...! takk...!! takkkk...!!'"
Batu alam yang kecil-kecil itu mengenai beberapa anggota geng kobra.
Anggota geng kobra yang tadi di halaman, bergabung sama anggota geng kobra yang ada di tempat parkir.
Dan mereka pun mengepung Rani.
...~¥~...
Yuk dukung Novel GADIS TIGA KARAKTER, dengan memberi like/komen/favorite/rate 5/gift maupun Vote-nya ya...
Dukung pula novel saya yang lainnya;
*CINTA UNTUK YULIA
*SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
*HITAM BUKAN HITAM HIDUPNYA
__ADS_1
Terima kasih.
...Bersambung...