
Sssssssstttt.....!!"
"Argghh....!!"
Suara orang yang seperti tercekik di dalam rumah tersebut.
Seringai senyum kemenangan di bibir para penaruh botol gas beracun itu.
"Suara apa itu..?" tanya seorang gadis yang bangkit dari posisi berbaringnya.
Yang tak lain adalah Rani yang sengaja bangun untuk menggantikan Inspektur Saga dan Jonathan untuk berjaga-jaga.
"Racun..! aku tak akan membiarkan raga Rani mati karena racun itu sebelum aku mengajaknya ke kerajaan langit..!" gumam Leony karena dia sangat berharap Rani sebagai perantaranya menyampaikan pesan dan rasa kangennya pada ke dua orang tuanya.
"Rani...ada racun, aku pindahkan kau dari rumah ini..! tutup mata dan tahan nafas..!!" seru Leony dari dalam liontin Rani.
"Racun..??" tanya dalam hati Rani sambil menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Dan dalam sekejap Rani sudah berada di semak-semak dimana dia melihat beberapa orang berpakaian hitam mengelilingi rumah dimana dia tadi berada.
"Rupanya mereka tahu keberadaan kita..!!" kata Rani yang bertelepati dengan Leony.
"Benar, kita harus hati-hati..!!" kata Leony yang kini dia sudah keluar dari liontin kalung harpanya.
Tak berapa lama, mereka mengeluarkan lima orang yang terkapar di rumah tersebut.
Inspektur saga, Yuki, Jonathan,Jarwo dan Emi. Yang semuanya dengan mulut berbusa di bawa oleh mereka dengan menggunakan kereta kuda menuju markas pusat.
Rani dengan mengendap-endap mengikuti kereta kuda itu.
Kereta kuda itu berhenti di sebuah bangunan dimana bangunan itu terbesar dari bangunan lainnya.
Dia memperhatikannya dengan seksama dari balik semak-semak itu.
"Hlepp...!!"
Tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang.
"Aaa...aaa....aaa...!"
Rani meronta-ronta.
"Ssstttttttt.......!! Ini aku, kak Radit..!" bisik orang yang membekapnya, yang ternyata Raditya yang sedang menyamar sebagai pelayan laki-laki peracik racun.
"Kak Radit .!" seru Rani yang kemudian memeluk Raditya, dan Raditya pun menerimanya karena dia begitu rindu pada adiknya perempuannya itu.
"Kamu bersama siapa saja...?" tanya Raditya.
"Kak Saga, kak Yuki, Jonatan, bi Emi dan Om Jarwo..! mereka semua keracunan kak...!" jawab Rani dengan suara berbisik.
__ADS_1
"Yuki ada di sana..!?" tanya Raditya yang senang sekaligus khawatir, karena Yuki juga keracunan.
"Iya kak, tadi dia tidur bersamaku..! aku bisa lolos dari racun itu karena aku bisa keluar dari rumah itu." jelas Rani yang di dengarkan dengan seksama oleh Raditya.
"Jadi begitu, Kakak ingin kamu masuk ke sana sebagai pelayan wanita pembawa makanan untuk mereka. Aku akan membereskan tempat ini biar perhatian mereka terpecah..!" kata Raditya yang kemudian memberikan Rani satu botol racun.
"Apa ini kak..?" tanya Rani yang belum tahu kalau itu racun.
"Itu Racun..! pahamkan maksud aku..?" tanya Raditya.
"Ya aku paham kak..!" jawab Rani yang akhirnya memahami maksud Kakaknya itu.
"Hati-hati..!!" pesan Raditya, sambil menepuk lengan kanan Rani.
"Iya kak..!" jawab Rani yang kemudian mereka berpisah.
Rani kemudian mencari pakaian untuk pelayan wanita dengan mengendap-endap di ruang dapur mereka.
Gadis itu mencari tempat pakaian mereka, setelah menemukannya dia mencari kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sedangkan Raditya kembali ke tempat pembuatan racun.
Rani yang sudah memakai pakaian pelayan, segera berbaur dengan para pelayan wanita.
Dan dia di beri tahu makanan-makanan untuk para petinggi mereka.
Dengan hati-hati, Rani membubuhi racun di makanan itu. Dan dia ikut dalam rombongan pengantar makanan.
"Dari kelima orang ini, yang aku kenal hanya tiga orang. Saga, Om Jarwo dan bi Emi...! Lantas mana Rani nya..!!" teriak Dio yang kesal karena sasarannya tidak ada. Dan dia mengamuk sejadi-jadinya.
"Tenang Dio..!! kita gunakan mereka sebagai umpannya..!" ucap King kobra.
"Oiya..!! kita ikat dan letakan mereka di atas kompayer batu bara itu saja..!" kata Dio yang kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengikat mereka diatas kompayer yang di gunakan untuk membawa batu bara masuk ke perapian.
Batu bara merupakan sumber listrik, tenaga dan bahan bakar mereka selama ada di dalam hutan.
"Saga..!! apa kekasihmu ada bersamamu dalam misimu..??" tanya Dio seraya menarik rambut Inspektur Saga ke belakang.
"Aaaghh...!!'
Inspektur Saga tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya lemas bahkan untuk membuka mata saja dia tak mampu.
"Rani berarti tidak ada bersama kami? apakah dia selamat..?" batin Inspektur saga dan lainnya.
Mereka berharap Ranibselamat dan menolong mereka saat ini.
Tak berapa lama, para pelayan membawakan makanan untuk mereka. Dan Rani ada diantara mereka.
"Ayo kita pesta...! rayakan kemenangan kita..!! makanlah yang banyak..! sebentar lagi kita akan menyaksikan pertunjukan yang menyenangkan..! Lima manusia yang akan terpanggang...! ha..ha..!" seru King kobra pada para penjaganya yang sedang berkumpul.
__ADS_1
Dan mereka pun makan dan minum dengan lahapnya.
"Aarghhh...!! aarghh...!! aargh...!!"
Satu persatu dari mereka berjatuhan.
"Apa..! makanannya beracun..!!" seru salah satu penjaga yang belum sempat makan.
"Ambil penawarnya di pabrik sana..!!" seru King yang mulai gusar.
"Duaaaarr.....! duuaaaarr....!!"
Terdengar ledakan di bangunan peracik racun. Hal itu membuat kalang kabut semuanya.
"Pabrik terbakar king..!" seru salah satu penjaga yang ketakutan.
"Kurang ajar..! pasti ulah Rani..!!" seru Dio dengan geram.
"Nyalakan kompayernya sekarang..!! sekarang kita tak boleh main-main lagi..!!' seru King Kobra yang khawatir jika Rani bisa menyelamatkan tahanannya.
Kompayer itu menyala dengan membawa lima orang terikat berurutan.
"Kak Saga...Kak Yuki dan lainnya..!! aku harus bebaskan mereka..!!" batin Rani dan dia mengamati kompayer guna mencari tuas dimana untuk menyalakan dan mematikan kompayer.
Setelah menemukan tuas yang di maksud, Rani mengeluarkan pedang yang ada dalam tubuhnya.
"Pedang Azuya...!!"
Keluarlah pedang berkilat biru yang seolah mempunyai nyawa,. dia melayang menuju tuas kompayer dengan cepat dan kemudian kembali lagi ke tangan Rani.
"Pedang Azuya..? jadi kaulah si Rani itu..!!" seru King kobra yang sebelumnya begitu penasaran dengan kemampuan Rani.
"Iya akulah Rani, aku akan menghabisi kalian..!!" seru Rani geram dan sudah bersiap dengan pedangnya.
"Coba saja..! nyawa kekasihmu tak akan selamat dalam hitungan menit..!!' seru Dio yang mengingatkan kalau Inspektur saga dan yang lainnya sedang kritis dan butuh menangkal racun.
"Apa maksudmu..?" tanya Rani yang baru sadar bahwa racun dalam tubuh kelima orang yang berada di atas kompayer itu, sudah menjalar ke tubuh mereka.
"Aku punya penawarnya, tapi aku mau nyawa dan tubuhmu..!" ucap Dio dengan tatapan mesumnya.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel GADIS TIGA KARAKTER ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...