
Secara Rani itu memang seorang pendekar, yang mana dia tak tega melukai lawannya apalagi membunuh mereka. Karena itulah, sampai-sampai Sersan Saga menjulukinya sebagai pendekar cengeng.
Sersan Saga menyadari perubahan sikap Rani. Dia pun bermaksud mengakhiri pertemuan ini, agar tak timbul masalah di antara mereka.
"Maaf bibi dan Yuki, kali ini biar saya yang traktir. Anggap saja balasan dari saya, karena dulu Yuki sering mengirimi aku makanan. Saya permisi ke kasir sebentar" kata Sersan Saga yang kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kasir restoran.
Yuki terus memandang Sersan saga yang terus berlalu, Rani semakin gerah di buatnya.
Tanpa mereka sadari, nenek Lasmi memperhatikan mimik muka Rani dan Yuki.
"Apa hubungan Rani dan Saga hanya sekedar saudara seperguruan? dari tingkah Rani, sepertinya mereka punya hubungan special. Hm...! Hal ini mengingatkan aku pada cintaku pada kakak Darma waktu dulu!" gumam nenek Lasmi dalam hati.
"Yuki, kamu cepat berkemas. Aku ingin malam ini kita bisa sampai di perguruan. Agar kami bisa memulai latihan." kata Nenek Lasmi yang menatap Yuki.
"Iya Nek. Nenek dan Rani, saya permisi dulu ya!" pamit Yuki yang sambil membereskan piring bekas mereka makan tadi.
"Rani kamu yang semangat ya! jangan seperti nenek yang mencintai tapi tak bisa memiliki." kata nenek Lasmi setengah berbisik.
"Ha..! Apa maksud nenek? Rani belum paham?' tanya Rani yang menatap nenek Lasmi dengan mengrenyitkan kedua alisnya.
"Nenek tahu kamu suka kan sama kakak seperguruanmu itu? seperti nenek yang suka sama Kakek kamu sampai sekarang. Tapi nenek tidak bisa memilikinya. Nah, nenek punya tantangan buat kamu dan Saga. Dalam Turnamen nanti, pakailah jurus Pedang Sepasang dan Tarian Dewi Cinta. Jika kamu berhasil, nenek punya hadiah buat kalian.' kata nenek Lasmi panjang.
"Jurus Pedang Sepasang dan Tarian Dewi Cinta? itu kan jurus biasa Nek? Rani, Nando dan Yuda sering latihan pakai jurus itu?' tanya Rani yang ingin tahu kenapa nenek Lasmi menyuruhnya memakai kedua jurus itu yang memang Rani kenal itu jurus biasa.
"Kamu bisa tanyakan pada kakekmu nanti bila sudah sampai di perguruan." jawab nenek Lasmi yang mengulas senyumnya.
"Satu lagi, kamu akan bersaing dengan cucuku Yuki selain karena persaingan ilmu persilatan, juga bersaing karena cinta." lanjut kata Nenek Lasmi.
"Maksud nenek apa?" tanya Rani yang bertambah bingung.
Belum sempet nenek Lasmi memberi tahu, Sersan Saga dan kedua orang tua angkat Rani, Raditya serta si bibi asisten rumah tangga mereka, sudah menghampiri Rani dan juga nenek Lasmi.
"Bibi guru, perkenalkan ini Om Wibowo dan Tante Lani. Mereka ini adalah orang tua angkat Rani, dan yang ini Raditya kakak kandung Rani. Dan juga si bibi pembantu keluarga Wibowo." kata Sersan Saga yang memperkenalkan satu persatu keluarga Rani pada nenek Lasmi.
__ADS_1
Dan mereka saling berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing.
Kemudian mereka bergegas undur diri untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Rombongan itu melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir kendaraan mereka. Dan seperti biasanya Raditya, Si bibi, nyonya Lani masuk ke dalam mobil yang dikemud8kan oleh Tuan Wibowo.
Sementara itu Rani dan Sersan Saga melangkahkan kaki menuju ke sepeda motor yang tadi mereka tumpangi dan masih terparkir diposisinya.
Mereka perlahan-lahan melajukan kendaraan mereka, keluar dari restoran dan dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya yang menuju ke lereng Gunung.
Dalam perjalanan itu, Rani hanya diam saja. Gadis itu memikirkan apa yang telah di sampaikan nenek Lasmi padanya.
"Selain bersaing karena ilmu silat, tapi juga bersaing karena Cinta dengan cucu nenek Lasmi. Itu berarti Yuki? apa Yuki menyukai kak Saga? secara mereka berteman sejak kecil. Dan ta...tadi pandangannya saat melihat kak Saga! oh, membuat hatiku rasanya ingin meledak-ledak!" gumam Rani dalam hati.
"Rani...Ran....Rani....! jangan tidur sayang! kalau kamu ngantuk, pindah ke mobil saja ya!" seru Sersan Saga sambil memegang dan menggoyangkan tangan sebelah kiri Rani.
Sersan itu takut bila Rani gadis pujaannya tertidur lagi seperti pada saat mereka bersepeda motor kemarin.
"Rani tidak tidur Kak, Rani sedang berpikir." sahut Rani yang nggak mau kekasihnya itu khawatir.
"Tentang apa yang di bilang nenek Lasmi tadi.Turnamen itu lho kak." jawab Rani.
"Terus apa yang nenek Lasmi katakan pada kamu?" tanya Sersan Saga yang penasaran.
"Rani sedikit khawatir kalau Rani tidak bisa seperti dulu, bisa menang di setiap perlombaan." jawab Rani yang tak mengatakan hal yang sebenarnya.
"Oh, jadi kamu sedang gugup ya? Sudah, yang biasa saja! Anggap saja kalau kamu itu sedang latihan." kata Sersan Saga yang berusaha untuk membuat pujaannya tenang.
"Rani sudah tahu itu kak!' celetuk Rani.
"Lantas?" tanya Sersan Saga yang sedikit bingung.
"Kak Saga, kak Yuki itu menurut kakak seperti apa sih? Bisa ceritakan masa kecil kalian?" tanya Rani tiba-tiba.
__ADS_1
Sersan Saga kembali menggenggam tangan kiri Rani. Dia tahu gadis pujaannya itu sedang labil. Sersan Saga akhirnya menjelaskan secara hati-hati.
"Kak Saga berteman dengan Yuki kurang dari setahun, waktu itu sehabis Turnamen kak Saga di jemput Ayah Bunda kak Saga karena kematian bibi Dina. Kak Saga waktu itu berkeinginan menjadi polisi, kakak mau menyelidiki kasus bibi Dina. Dan pada saat pendidikan, adik kakak Sari juga meninggal dunia. Kakak tidak memikirkan hal lain, dalam hati dan pikiran kakak hanya pengupas kematian bibi Dina, itu saja" jelas Sersan saga panjang.
"Maaf kak, bukan maksud Rani..." kata Rani yang belum selesai, Sersan Saga mencium punggung tangan Rani.
"Kakak dengan Yuki tidak ada apa-apa. Hanya sebatas teman itu saja." jelas Sersan Saga kembali meyakinkan Rani agar tidak salah sangka.
"Iya kak. Rani percaya pada kak Saga." kata Rani yang semakin mengencangkan pelukannya.
"Rani percaya dengan kak Saga, tapi tidak untuk Kak Yuki!" kata Rani dalam hati.
Tiba-tiba Rani melihat adanya deretan Turk yang membawa banyak laki-laki yang berusia kurang lebih dua puluh sampai dua puluh tahun.
"Mereka ini rombongan apa ya? dan mau kemana?" tanya Rani pada Sersan Saga.
Sersan Saga yang pada awalnya berkonsentrasi melihat ke arah depan, secara tak langsung sersan Saga melihat pada rombongan truk berjajar yang lewat disampingnya.
"Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya mereka mengarah ke lereng gunung." jawab Sersan Saga.
"Apakah ada kemungkinan mereka itu rombongan yang ikut Turnamen?" tanya Rani yang menduga-duga.
"Hm, ada kemungkinan begitu!" gumam Sersan Saga.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...