
Sementara itu, Bima juga ikut nimbrung dalam diskusi tersebut. Sementara bibi Dewi, Desy, bibi Inah dan nyonya Lani sudah beranjak ke tempat tidur masing-masing.
Setelah menyelesaikan makan dan minumnya, Rani melihat semua mata yang tak sabar mendengar cerita Rani.
Gadis itu terdiam, dalam hati masih berkecamuk antara akan bercerita atau tidak. Kalau cerita mungkin mereka tak percaya, tapi kalau tak cerita mereka semakin penasaran.
"Rani cucuku, cepat ceritakanlah! Jangan buat Kakekmu ini mati penasaran!" bujuk kakek Darma yang nampak serius.
"Iya Rani, kami juga penasaran dengan senjata kamu" kata tuan Wibowo yang juga ikut membujuk putri angkatnya itu.
"Tapi Rani tak bisa cerita!" ucap Rani dengan pasang wajah memelas.
"Dasar pendekar cengeng pakai acara pasang wajah melas segala! bikin kami mati penasaran saja!" seru Raditya yang tak sabar dengan tingkah Rani.
"Iya Rani kami sangat ingin tahu, berbagi ceritalah dengan kami!" seru Arya yang sejak tadi diam, ternyata juga menyimpan rasa penasaran juga.
"Maaf Rani tak bisa cerita!" seru Rani sambil menunduk dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Sssssstt....! adik tua, saatnya kau beraksi! pakai jurus andalanmu...!!" bisik Raditya pada Sersan Saga.
"A..apa! Aku.....!" seru Sersan Saga yang sangat terkejut. Dia tahu Rani tak akan cerita bila tidak dipaksa.
Tak mungkinlah dia menggunakan jurus rayuannya dihadapan semua orang, lagi pula dia sudah janji tidak akan menggunakannya.
Kemudian Sersan Saga berdiri dan berjalan menuju kamarnya, nampaknya dia sedang mengambil sesuatu.
Tak berapa lama, Sersan Saga keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki menghampiri gurunya, Kakek Darma. Kemudian Sersan Saga duduk di samping gurunya itu.
Tiba-tiba Sersan Saga mencium punggung tangan kanan Kakek Darma dan semua mata memandang Sersan Saga, dan tanpa terkecuali Rani.
"Guru...! sebenarnya kedatangan saya kemari selain rindu sama guru dan perguruan, ada hal penting yang ingin saya utarakan." kata Sersan Saga dengan perlahan-lahan tapi jelas didengar oleh semuanya..
"Apa maksudmu? apa kau mau jadi pacar Rani?" tanya Kakek Darma yang mencoba untuk menebak.
"Tidak Guru!" jawab Sersan Saga tegas.
"Lantas apa?" tanya Kakek Darma yang penasaran.
Dan semua mata yang semula memandang Rani dengan penasaran, kini beralih menatap Sersan Saga juga dengan rasa penasaran.
"Mohon maaf bila tidak berkenan di hati Guru, saya tidak mau jadi pacar Rani. Saya mau melamar Rani!" jawab Sersan Saga dengan tegas dan mengumpulkan seluruh keberaniannya.
__ADS_1
"A...apa!" seru kakek Darma yang sangat terkejut.
"Adik tua akhirnya kau!" seru Raditya yang juga terkejut.
"Kak Saga!" kata Rani yang tak percaya, akhirnya kekasihnya meminta ijin pada kakeknya, dan tanpa sengaja kedua matanya berkaca-kaca.
"Apa kau serius?" tanya Kakek Darma yang menatap Sersan Saga dengan tajam.
"Iya guru, saya serius!" jawab Sersan Saga yang kemudian menunjukan sesuatu yang tadi dia ambil dari kamarnya.
Sebuah kotak perhiasaan kecil yang berisi dua buah cincin polos yang didalamnya bertuliskan nama mereka.
Kakek Darma melihat cincin itu, dan merasakan memang ada keseriusan dalam diri murid seniornya itu.
Semuanya juga demikian, melihat ke arah Sersan Saga dan mereka benar-benar terkesima karenanya.
"Rani kemarilah kau nak!" pinta Kakek Darma yang menatap ke arah Rani.
"Iya kakek!" jawab Rani.
Gadis itu melangkahkan kakinya mendekat dan bersimpuh di hadapan kakeknya.
"Apa kamu bersedia bertunangan dengan Saga?" tanya Kakek Darma pada cucu perempuannya itu.
Setelah yakin dengan hatinya, Rani menatap kakeknya.
"Apa Rani boleh bertunangan dengan kak Saga, Kakek?" tanya balik Rani
"Kalau kalian saling cinta, kakek mengijinkan kalian bertunangan." jawab Kakek Darma.
Tentu saja jawaban dari kakek Darma ini membuat kedua mata Rani berbinar-binar, dan demikian juga dengan Sersan Saga serta yang lainnya.
"Ra...Rani bersedia kek!" seru Rani sambil tersenyum.
"Tunggu apa lagi, Saga! Cepat sematkan cincinnya ke jari Rani!" seru kakek Darma pada Sersan Saga.
"I...iya guru!" sahut Sersan Saga yang tergugah dari rasa terkejutnya.
Kemudian Sersan Saga menyematkan cincin ke jari Rani dan demikian sebaliknya Rani menyematkan cincin ke jari Sersan Saga.
Rani mencium punggung tangan kanan Sersan Saga dan Sersan saga mencium kening Rani.
__ADS_1
Sersan Saga mencium punggung tangan kanan gurunya dan kemudian kakek Darma memeluk muridnya dan berbisik.
"Setelah tiga tahun ke depan. Entah aku masih hidup atau sudah tiada, aku ingin kau tepati janjimu dan bahagiakanlah Rani. Jadilah suami yang bertanggung jawab pada istri dan keluarganya." pesan kakek Darma.
"Baik guru...!" balas Sersan Saga seraya menganggukkan kepalanya.
Kemudian giliran Rani yang mencium punggung tangan kanan kakeknya.
Kakek Saga mencium kening cucunya, dan kemudian memeluk erat cucu perempuannya. Dan kemudian kakek Darma berbisik,
"Kakek sayang padamu, asal Rani bahagia kakek merestui kalian. Jika tiga tahun ke depan kakek sudah tiada. Dan kamu telah menikah dengan saga, jadilah istri idaman. Belajar masak dan dandan ya, biar suamimu tak kelain hati." pesan Kakek Darma pada cucu perempuannya itu.
"Iya, kakek. Rani akan selalu ingat akan hal itu." jawab Rani yang menitikkan air matanya seraya menyekanya secara bergantian.
Semuanya terharu dan semua mengucapkan selamat pada Rani dan Sersan Saga, dengan saling bersalaman.
"Selamat ya nak! Papa yang juga mewakili mama Lani merestui kalian, semoga sampai ke jenjang pelaminan. Ingatlah ini awal dari hubungan kalian, tentunya nanti akan banyak cobaan yang kalian hadapi nanti." kata tuan Wibowo yang berpesan pada Rani dan Sersan Saga, pada saat menyalami dan memeluk Sersan Saga dan Rani secara bergantian.
Kemudian Paman Sidiq menghampiri Rani dan Sersan Saga, dan mereka saling bersalaman dan berpelukan.
"Ingatlah tiga tahun ke depan adalah cobaan hubungan kalian ini, bila cinta kalian kuat maka saya pastikan kalian akan bahagia." pesan Paman Sidiq.
"Iya paman." jawab Rani dan Sersan Saga yang hampir bersamaan.
Tak berapa lama, Raditya juga menghampiri Ranibdan juga Sersan Saga.
"Hei, Pendekar cengeng! kamu jangan cengeng lagi. Akan ada yang menjaga hatimu!" seruvRaditya sambil mencium kening dan memeluk adik satu-satunya itu.
"Hm..hm.. jangan lama-lama..!" bisik Sersan Saga yang sambil berdehem, karena tidak nyaman bila Rani di peluk laki-laki lain padahal nyata-nyatanya Raditya adalah kakak kandung Rani.
"Kak Saga....!" panggil Rani lirih.
"Belum-belum sudah ada yang cemburu!" seru Raditya sambil memukul lengan sebelah kiri tunangan adiknya itu dengan pelan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...