
"Dito sudah pergi, ayo ke makam bibi Dina." ajak Sersan Saga yang melihat Dito bangkit dari jongkoknya dan meninggalkan makan ibunya, Rani mengikuti dibelakangnya.
Mereka pun menuju makam Bibi Dina, yang masih ada taburan bunga yang masih segar diatas taman tersebut
Setelah menabur bunga dan berdoa, mereka segera melangkahkan kaki meninggalkan makam nyonya Dina dan menuju ketempat dimana sepeda motor yang tadi membawa mereka itu terparkir.
"Boleh tidak Rani memanggil Sersan Kakak? Bukankah Sersan Saga juga kakak seperguruanku" tanya Rani saat dalam perjalanan pulang.
"Boleh saja, lebih akrab jadinya." jawab Sersan Saga dengan tetap menjalankan laju kendaraannya.
"Oya kapan-kapan aku ingin menjajal ilmu kamu" lanjut kata Sersan Saga.
"Boleh saja." jawab Rani dengan semangat.
"Kaaak...kak Saga..!" panggil Rani yang mulai mencoba membiasakan dirinya dalam memanggil lelaki yang ada dihadapannya.
"Hem..." yang dipanggil hanya menjawab dengan deheman.
"Kakak Saga...kakak..!" panggil Rani sekali lagi.
"Ada apa?" jawab Sersan Saga yang gemas dengan Rani.
Dan sekali lagi Rani memanggil dengan menggoda.
"Kakak Saga...kakak Saga sayang....!"
Dan Sersan Saga jadi gemas dibuatnya.
"Iya Rani adikku sayang." balas Sersan Saga yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Setelah cukup lama menyusuri jalan raya, akhirnya mereka sampai juga di kediaman keluarga Wibowo.
Sersan Saga disambut sinis oleh Raditya, pada saat keduanya turun dari sepeda motor dan melangkahkan kaki menuju ke teras rumah, dimana Raditya dan nyonya Lani telah menunggu Rani dengan qkhawatir.
"Kakak sudah bilang, jangan dekat-dekat dia. Kenapa masih saja nempel sih!" seru Raditya sambil menarik tangan Rani agar menjauh dari Sersan Saga.
"Kak Radit tunggu! Rani mau menjelaskan dulu!" seru Rani yang menatap kakaknya dengan tajam.
"Apa yang mau kamu jelaskan? jelas-jelas dia mata-matain kamu kemarin!" Raditya dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Kakak Saga..." kata Rani yang belum selesai
"Apa katamu? Kakak Saga? kakakmu itu hanya aku!" sahut Raditya seperti nggak mau Rani punya kakak lagi selain dirinya.
"Saya Murid Kakek Darma." Sahut Sersan Saga yang langsung saja tanpa teseng aling-alinh.
__ADS_1
"Apa...!" seru Raditya yang tak percaya.
"Maaf sebelumnya, aku tahu Rani gadis bertopeng Ran dan Rana adalah satu orang. Itu karena senyum ketiganya sama. Dan aku kemarin penasaran karena jurus-jurus yang dipakai Ran sama dengan jurus-jurus yang diajarkan Kakek Darma kepadaku." jelas Sersan Saga.
"Jadi aku punya dua kakak sekarang, seorang Sersan dan seorang kakak yang cerewet!" seru Rani sambil menatap Raditya.
Radit pun melempari Rani dengan bantal sofa yang ada di sofa ruang tamu.
Sersan Saga memperhatikan Rani dan Raditya, tiba-tiba terbesit rasa rindu pada adiknya Sari yang telah tiada. Dulu dialah yang sering menggoda dan digodain Sari adikknya itu. Dia menunduk menahan air matanya mengingat kematian tragis adiknya itu.
Rani dan Raditya melihat hal itu menghentikan candaannya dan saling pandang.
"Sersan, Sersan tidak apa-apa?" tanya Rani yang khawatir.
"Tidak apa-apa, melihat kalian seperti ini mengingatkanku pada adikku Sari." jawab Sersan Saga.
"Hm, jadi begitu ya! Oya Sersan, ayo kita latihan di halaman belakang. Katanya ingin menjajal ilmu aku!" seru Rani yang agak memaksa agar Sersan Saga tidak larut dalam kesedihan.,
Sersan Saga menoleh ke arah Raditya kakanya, seolah minta persetujuan. Raditya pun menganggukkan kepalanya, karena sebenarnya dia juga ingin tahu sejauh mana ilmu Sersan Saga dan adiknya Rani. Karena dia mengakui bahwa dirinya tak sehebat Sersan Saga dan Rani.
Mereka bertiga melangkahkan kaki menuju halaman belakang.Rani dan Sersan Saga bersiap-siap,setelah itu memberi penghormatan dan pasang kuda-kuda.
Beberapa jurus telah di tunjukan,kadang Rani terdesak dan tak jarang Sersan harus mundur beberapa langkah.Akhirnya mereka bisa saling mengimbangi,dan hasilnya seri.
"Ilmu itu sejak kecil aku melatihnya.Butuh konsentrasi."balas Rani."Kapan-kapan saya ajari,jangan sekarang.Mungkin kak Radit atau kak Saga bisa ajari bertarung pakai senjata?Soalnya belum begitu fasih dengan senjata baruku ini."kata Rani.
"Coba kamu tunjukan dulu sebisa kamu.Biar kami lihat, mana yang perlu diperbaiki"kata Raditya.Dan Insspektur Saga menyetujuinya.
Kemudian Rani menunjukan beberapa jurus yang dia kuasai.
Ada seorang Bibi pembantu Papa Wibowo menghampiri Raditya," Mas Radit ada tamu, Tuan dan Nyonya sedang keluar" kata Bibi itu.
"Iya bi,,suruh tunggu di ruang tamu. Saya akan menemuinya." kata Raditya.
Raditya pun menghampiri Sersan Saga.
"Sersan, saya ke dalam dulu ya.Ada tamu,Papa mama tidak ada dirumah."pamit Raditya.
Sersan Saga mengangguk dan memberi kode jempolnya. Karena dia masih harus memperhatikan Rani yang sedang berlatih.
"Sersan ,Rani mau tanya. Kayaknya Dito kembarannya Dio, tapi kok nggak sama ya?" tanya Rani.
"Kalau itu aku nggak tahu,yang aku tahu setelah kematian Bibi Dina, Mereka mengasuh kedua anak itu pilih kasih. Dio dibelikan barang branded sedangkan Dito hanya pasar tradisional.
Kalau makanan, Dio segala seafood dan daging sedangkan Dito masih mending tahu tempe, kadang cuma kecap sama garam." jelas SersanSaga.
__ADS_1
"Kok seperti itu ya? Padahal Dito juga darah dagingnya sama dengan Dio?" tanya Rani.
"Entahlah.." SersanSaga menghela nafasnya.
"Dito sudah pergi, ayo ke makam bibi Dina." ajak SersanSaga.Mereka pun menuju makam Bibi Dina. Setelah tabur bunga dan berdoa, mereka segera menuju ketempat dimana motor terparkir.
"Boleh tidak Rani memanggil SersanKakak?Kan Sersankakak seperguruanku" tanya Rani saat dalam perjalanan pulang.
"Boleh saja, lebih akrab jadinya" jawab SersanSaga.
"Oya kapan-kapan aku ingin menjajal ilmu kamu" kata SersanSaga.
"Boleh saja.." jawab Rani semangat.
"Kaaak...kak Saga..!" panggil Rani."Hem..." yang dipanggil jawab singkat. "Kakak Saga...kakak..!! " panggil Rani sekali lagi.
"Ada apa..?" jawab SersanSaga. Dan sekali lagi Rani memanggil dengan menggoda "Kakak Saga...kakak Saga sayang.." SersanSaga jadi gemes dibuatnya.
"Iya Rani adikku sayang" balas SersanSaga yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Akhirnya mereka sampai juga di kediaman keluarga Wibowo. Sersan Saga disambut sinis oleh Raditya.
"Kakak sudah bilang, jangan dekat-dekat dia. Kenapa masih saja nempel sih?" tanya Raditya sambil menarik tangan Rani agar menjauh dari Sersan Saga.
"Kak Radit tunggu! Rani mau menjelaskan dulu!" seru Rani.
"Menjelasikan tentang apa, jelas-jelas dia mata-matain kamu kemarin." kata Raditya yang apa adanya.
"Kakak Saga..." kata Rani belum selesai
"Apa katamu? Kakak Saga? kakakmu itu hanya aku!" sahut Raditya seperti nggak mau Rani punya kakak lagi selain Dia.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
.
__ADS_1