Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Bertemu Nenek Lasmi dan Cucunya


__ADS_3

"Akhirnya kita akan makan siang, perutku dari tadi konser dari tadi!" celoteh Rani saat turun dari sepeda motor sambil melepaskan helmnya, demikian pula dengan Sersan Saga yang juga melepaskan helmnya.


"Mana ada konser? aku ingin mendengarkannya!" canda Sersan Saga sambil mengarahkan daun telinganya ke perut Rani.


Rani yang kaget, mundur dua langkah.


"Eh, Kak Saga....! jangan bercanda deh!" seru Rani yang sedikit kesal


"Katanya konser, kan kakak ingin dengar suaranya? He...he...he...!" kata Sersan Saga.


"Aahh! kak Saga memang nyebelin....!" seru Rani sambil melangkahkan kakinya menuju restoran.


"Walaupun nyebelin kamu kan cinta! He...he...he...!" jawab Sersan Saga sambil sambil tersenyum dan kemudian mengejar langkah pujaan hatinya itu.


Sesampainya di pintu restoran, ternyata hari ini restoran sedang ramai-ramainya. Hampir tak ada tempat duduk kosong, karena semua penuh pelanggan.


Rani melihat meja keluarganya sudah penuh, karena satu meja ada empat kursi.


"Yah kita tak dapat kursi kak!" seru Rani dengan wajah yang memelas.


"Kita bisa duduk, itu di sudut arah jam sembilan ada dua kursi kosong. yang ada dua wanita disana!" seru Sersan Saga seraya menunjuk ke arah yang dimaksudkan oleh Sersan Saga.


"Masak gabung dengan orang lain?" keluh Rani.


"Apa boleh buat, dari pada makan sambil berdiri!" seru Sersan Saga yang menatap Rani.


Rani mengernyitkan kedua alisnya, nampaknya gadis itu sedang penasaran.


"Sebentar Kak! kita bisa gabung sama mereka!" seru Rani yang saat melihat kedua wanita itu.


"Kamu kenal mereka?" tanya Sersan Saga memastikan apa yang di dengarnya.


"He...em...! Rani kenal mereka!" jawab Rani sambil menganggukan kepalanya, dan kemudian melangkah mendekati meja makan yang di mana dua orang wanita itu duduk.


Sementara itu Sersan Saga mengikuti langkah gadis tomboy itu.


"Permisi, apakah benar anda nenek Lasmi?" tanya Rani saat sampai di depan meja yang ditujunya.


"Iya! oh, hai Rani! apa kabar sayang? kenapa kamu ada di sini?" jawab nenek yang tadi dipanggil Rani dengan nama Lasmi, yang kemudian balik bertanya kemudian berdiri dan memeluk Rani.


Sersan Saga dan keluarga Rani yang melihat dari kejauhan pun terkejut, Rani berpelukan dengan orang yang bagi mereka asing itu.


"Rani, kangen sama nenek...!" kata Rani.

__ADS_1


"Apa kamu tidak kangen sama aku juga?" tanya gadis yang sejak tadi bersama nenek Lasmi.


"Eh, kak Yuki ya? cantik sekali sekarang?" sapa Rani yang kemudian memeluk gadis yang bernama Yuki itu.


"Hm...hm...!" suara Sersan Saga memberi kode akan keberadaannya. Dan Rani pun menoleh ke arah Sersan Saga.


"Oh iya, perkenalkan nek ini Kak Saga. Murid kakek Darma, kakak seperguruan Rani." kata Rani memperkenalkan Sersan Saga.


"Saga." Sersan Saga yang menyalami kedua wanita itu.


"Lasmi, adik seperguruan kakek Darma." kata nenek Lasmi memperkenalkan diri.


Dan lanjut Sersan Saga bersalaman dengan Yuki.


"Yuki, cucu perempuan nenek Lasmi. apa sebelumnya kita pernah bertemu ya?" kata Yuki memperkenalkan diri dan sepeti mengenal Sersan Saga.


"Iya, kamu yang dulu sering mengirimi saya makanan ya?" tanya Sersan Saga.


"Iya, waktu itu kan anda tidak betah di perguruan karena masakan nenek Darma ya? he...he....!" kata Yuki dan mereka berdua seperti bernostalgia mengingat masa lalu mereka.


"Bolehkah kami duduk nek?" tanya Rani, karena sedari tadi mereka berdiri.


"Eh iya mari silahkan duduk, mau pesan apa?" tanya Yuki mempersilahkan mereka duduk dan menayakan pesanan pada Sersan Saga dan Rani.


"Iya saya masih kuliah, dan sekarang sambil bekerja di restoran ini sebagai pelayan." jawab Yuki yang apa adanya.


"Wah! aku juga kepingin begitu besok. Sekolah pakai biaya sendiri. He...he....he....!'' celetuk Rani sambil menuliskan pesanannya.


"Sekolah dulu yang benar!" seru Sersan Saga pada Rani, yang kemudian menyerahkan pesanan mereka pada Yuki.


"Iya, kak Saga yang menyebalkan!" seru Rani yang sedikit manyun, dan Sersan Saga mengulas senyumnya saat melihat ekspresi Rani.


Sementara itu Yuki segera menuju ke dapur restoran, guna mengambilkan makanan untuk nenek, Rani, sahabatnya Sersan Saga dan untuk dirinya.


"Sekarang ini berarti nenek mengunjungi kak Yuki ya?" tanya Rani.


"Iya." jawab Singkat nenek Lasmi.


"Kenapa nenek Lasmi repot-repot datang kemari? Kenapa juga tidak lewat ponsel atau mengutus seseorang saja Nek?' tanya Rani yang penasaran.


"Nenek sudah mengutus dua orang murid dan bahkan menelepon Yuki, bahkan sudah berkali-kali kirim pesan. Barusan saja nenek juga di tolaknya!" kata nenek Lasmi yang wajah.


"Memangnya masalahnya apa Nek? kok sampai Yuki ngotot menolak nenek?" tanya Sersan Saga yang ikut.

__ADS_1


Kemudian nenek Lasmi menceritakan perihal kunjungannya ke restoran tempat Yuki bekerja.


"Tiga hari lagi ada turnamen antar perguruan yang selalu di adakan sepuluh tahun sekali. Nenek ingin Yuki yang satu-satu wanita, dapat mewakili untuk perguruan nenek di antara dua laki-laki yang nenek kirim ke Turnamen." jelas Nenek Lasmi.


"Yang dua orang siapa nek?" tanya Rani yang penasaran.


"Kalau nenek sebutkan, kamu pasti ikut dalam turnamen ini. Ha...ha....!" jawab nenek Lasmi yang merasa yakin akan tebakannya.


"Apakah Yuda dan Nando ikut nek?" tanya Rani setengah berbisik.


"Seratus!" jawab nenek Lasmi seraya menunjukkan ibu jari tangan sebelah kanannya.


"Kami ikut ya?" lanjut pinta nenek Lasmi pada Rani.


"Saat ini kami perjalanan pulang ke Lereng Gunung, nek. Tapi entah kami bisa ikut entah tidak!" kata Rani.


"Ikut saja, aku dengar kamu jadi murid kesayangan kakekmu. Bukan karena kamu cucu asli, tapi karena prestasimu dalam ikut lomba-lomba kecil antar perguruan. Dan kamu selalu bersaing kan sama Yuda dan Nando?" kata Nenek Lasmi yang mencoba merayu Rani. Karena sejatinya dia penasaran dengan kemampuan Rani.


"Apakah kak Saga boleh ikut, Nek?" tanya Rani sambil menatap Sersan Saga.


Kemudian Sersan Saga membalas tatapan Rani dan berkata


 "Saya sudah lama tidak berguru pada Kakek, apa mungkin masih dianggap murid. Lagi pula, masih ada murid-murid lain yang lebih berbakat!"


"Bukankah kamu dulu yang memboyong piala turnamen kategori remaja?" kata nenek Lasmi mencoba mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu.


"Benarkah begitu? Ah, Kak Saga ikut saja ya? temani Rani ya kak!" seru Rani dengan sikap memohon.


"Biar Guru yang memutuskannya nanti." kata Sersan Saga sambil memandang Nenek Lasmi dan Rani yang bergantian


Tak berapa lama Yuki datang bersama temannya yang ikut membawa pesanan mereka.


"Wah, nampaknya seru sekali perbincangan kalian!" seru Yuki yang meletakkan satu-persatu pesanan mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2