Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Cerita saat Sarapan


__ADS_3

"Tuan Sersan Saga, Nona!" jawab si bibi sambil mengisi gelas dengan susu putih.


"Trus yang menggantikan pakaian Rani, siapa bi?" tanya Rani lagi yang menatap wanita setengah baya itu.


"Itu saya Nona, sebelumnya Tuan Sersan Saga, memanggil saya untuk menggantikan pakaian nona!" jelas si Bibi dengan terbata-bata.


"Oh, syukurlah!" batin Rani yang merasa lega, dan tidak lagi berprasangka buruk pada Sersan Saga. Gadis itu pun mengambil sarapannya dan memakannya.


"Trus Kak Saga sekarang ada dimana Bi?" tanya Rani yang selesai mengambil makanannya yang dia letakkan diatas piring.


"Sepertinya beliau masih tidur, Non!" bisik si Bibi yang mengulas senyumnya.


"Oh, kalau begitu jangan dibangunkan dulu ya Bi! Biar Rani berangkat ke sekolah dulu,baru bibi bangunkan dia!" seru Rani yang menatap si bibi asisten rumah tangga di rumah itu.


"Baik non!" balas wanita setengah baya itu seraya menganggukkan kepalanya.


Rani membalas dengan senyuman dan kemudian dia segera menyantap makanan yang ada dihadapannya, namun sebelumnya dia berdoa terlebih dahulu.


Selesai makan, Rani bergegas berangkat ke sekolah dengan sepeda kayuhnya.


Sementara itu, Sersan Saga yang saat ini masih tidur pulas di tempat tidur Raditya.


Hingga sinar matahari pagi menerpa wajah tampannya, membuat sang Sersan perlahan membuka kedua matanya.


"Hah...! aku kesiangan...!" Sersan Saga yang kemudian dia menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Sersan pun keluar kamar dan hendak menuruni tangga.


Namun sebelumnya, dia menengok ke kamar Rani. Dilihatnya gadis pujaannya itu sudah tidak ada ditempatnya.


Bergegas dia turun dan menuju ke ruang makan, dan disana gadis yang dicari pun juga sudah tidak ada.


Lantas Sersan Saga menghampiri si bibi asisten rumah tangga tuan Wibowo.


"Bi...! apa Non Rani sudah berangkat sekolah?" tanya Sersan Saga saat mendapati si Bibi beres-beres di dapur.


"Oh sudah tuan, tadi naik sepeda kayuh" jawab si bibi.


"Ya sudahlah bi, saya mau sarapan bisa bibi siapkan?" tanya Sersan Saga.


"Baik tuan" jawab si bibi dan bergegas mengambil makanan yang ada di alamari es, kemudian memanasinya.


"Tuan ini omlet kesukaan Non Rani, tiap pagi minta dibuatkan seperti ini, katanya selama di lereng gunung, makanan mewahnya itu telur. Karena setiap hari Non Rani cuma makan lauk tahu, tempe kadang cuma sambal dan lalapan" kata si bibi sambil menyuguhkan omlet beserta nasi dan susu.

__ADS_1


"Begitu ya Bi? maklumlah dulu dia hidup di lereng gunung, jauh dari pasar bi" kata Sersan Saga yang kemudian meminum susu yang dituangkan si bibi.


"Tuan Sersan sudah pernah kesana?" tanya si bibi.


"Waktu saya kecil disana bi..kurang lebih setahun saya tinggal disana. Pertamanya sih nggak betah bi karena makanan. Tapi karena lama-kelamaan terbiasa. Malah sekarang jadi kangen, ingin kesana merasakan kesejukan udara disana" jawab Sersan Saga sambil makan makanan yang ada dihadapannya.


"Saya jadi kepingin kesana juga tuan..!" kata si bibi sambil tersenyum. Dan Sersan Saga pun ikut tersenyum.


"Bi.. saya nitip cuci seragam lagi ya bi.. ada di kamar Radit" pinta Sersan Saga


"Iya tuan nggak apa-apa" itu sudah jadi tugas saya.


"Hari ini aku ambil tugas malam, aku mau menggantikan Sania jaga Radit. Biar Sania bisa pulang dan istirahat." kata Sersan Saga.


"Tuan Saga." panggil si bibi asisten pembantu.


"Iya ada apa Bi?" tanya Sersan Saga yang menatap wanita setengah baya itu.


"Tuan dan Nyonya nanti siang pulang Tuan" kata si bibi." jawab si bibi asisten rumah tangga keluarga Wibowo itu.


"Oh, Syukurlah." jawab Sersan Saga sambil menghela nafasnya.


"Tuan nampaknya anda sudah waktunya memiliki pendamping hidup, biar ada yang selalu ada disamping tuan. Non Rani sepertinya cocok dengan tuan?" kata si bibi sambil tersenyum.


"Ah bibi ini." kata Sersan Saga dengan wajah memerah.


"Kenapa harus menunggu tiga tahun lagi tuan?" tanya si bibi yang penasaran.


"Iya, karena aku dalam ujian kenaikan pangkat, lagi pula Rani masih kecil. Dia harus lulus sekolah terlebih dahulu. Karena kalau mau jadi istri seorang polisi syaratnya pendidikan Aya minimal Sekolah menengah atas." jelas Sersan Saga.


"Oh jadi begitu ya?" kata si bibi seray menganggukkan kepalanya.


"Sudah ya Bi, saya masih harus mengambil sepeda motor saya di hotel. Tadi malam kan saya bawa mobilnya Radit." Kata Sersan saat sudah menyelesaikan makan dan minumnya.


"Ya, hati-hati tuan" jawab si bibi yang melihat Sersan Saga bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruang makan dan menuju pintu keluar rumah.


Setelah keluar dari halaman rumah, Sersan segera memanggil tukang ojek, dan mereka menuju hotel tempat dimana semalam di gelas pesta ulang tahun putri Komisaris.


Sementara itu Rani yang berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda kayuhnya, sudah tiba di depan pintu gerbang sekolahnya.


Gadis itu terus mengayuh masuk ke halaman dan menuju ke tempat parkir sekolah, kemudian menuju ke kantin untuk menitipkan sepeda kayuhnya.


"Aku sebagai Rani, aku harus pura-pura tidak tahu kejadian semalam. Okey Rani, kamu harus semangaaaat....!" kata Rani dalam setelah memarkirkan sepeda kayuhnya. Gadis itu berjalan menuju ke lorong tempat dia menimba ilmu.

__ADS_1


Sengaja Rani berangkat lebih awal, agar bisa ada kesempatan membaca kembali materi pelajaran yang telah disampaikan guru-guru di sekolah.


Sampai dikelas, benar saja belum ada siswa yang masuk. Rani melangkahkan kakinya menuju ke bangkunya dan bergegas duduk di tempat duduknya, setelah itu mengeluarkan buku pelajarannya dan membuka buku-buku pelajarannya itu.


"Wah... wah... wah..! tumben cupu nggak telat. Lagi patah hati ya? ha...ha...ha...kasihan...!" kata seorang gadis yang baru saja masuk ke kelas.


Rani tak menggubrisnya, Dia tetap sibuk dengan buku-buku di depannya.


"Brakkk....!" gadis yang baru datang itu menggebrak meja, dia sangat kesal karena Rani tak menggubrisnya.


"Hai punya telinga tidak sih! jangan-jangan tuli ya kamu!" seru gadis itu yang tak lain Bella sambil menjatuhkan buku-buku Rani ke lantai.


"Bugh...!"


Karena keterlaluan, Rani pun menatap Bella. Rani juga menggebrak mejanya.


 "Brakkk....!"


"Nggak punya mata ya? jangan-jangan kamu buta! kau lihat! aku sedang belajar, jangan ganggu!" balas Rani.


"Cihh...! beraninya kau..!!" umpat Bella yang hendak menampar Rani, namun dapat ditangkap Rani.


Kemudian Rani mendorong Bella hingga terduduk.


"Brukk...!''


"Jangan kau kira karena kau kaya dan cantik, bisa seenaknya membulliku. Kau yang bilang kalau aku patah hati, rasakan emosi orang yang lagi patah hati!" seru Rani pada Bella.


"Ada apa ya?" tanya teman-teman Rani yang baru datang.


"Bella..Rani..!! bubar semuanya..!!" suara Dio diantara kerumunan teman kelasnya.


Rani tak menggubrisnya, dia sibuk memunguti buku-bukunya yang tadi di jatuhkan Bella ke lantai.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


.


__ADS_2