Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Perjalanan Balik Ke Kota


__ADS_3

"Sepertinya aku belum tega membiarkanmu mengemudi nanti. Lebih baik aku yang mengemudi nanti!" pinta Sersan Saga yang sedikit cemas.


"Kalau kami yang mengemudi, lantas sepeda motor kamu bagaimana?" tanya Raditya yang bingung.


"Sepeda motor biar aku tinggal disini, lagi pula ada Arya, biar dia yang menjaga dan merawat sepeda motorku!" seru Sersan Saga yang menatap ke arah Arya.


"Boleh saja!" sahut Arya sambil mengulas senyumnya, kemudian sersan Saga melempar kunci sepeda motornya pada Arya.


"Happ...!"


Dengan gesit Arya mampu menangkap kunci itu.


"Hm....! Jadi kalian akan berangkat setelah sarapan?" tanya Kakek Darma yang memastikan.


"Iya guru!" jawab Sersan Saga dan Raditya dengan kompak.


"Perguruan Darma putih ini akan sepi lagi!" keluh kakek Darma.


"Kakek, kakek jangan khawatir! Nanti kalau liburan sekolah lagi, Radit janji akan ajak semuanya kemari lagi kek!" seru Raditya yang mencoba untuk menghibur kakeknya.


"Sarapan sudah siap!" seru Rani pada saat dari dalam rumah dan melangkahkan kaki menghampiri semua laki-laki yang asyik berbincang-bincang di depan teras rumah itu.


"Arya, panggil teman-teman untuk sarapan!" seru Kakek Darma pada Arya.


"Baik guru!" sahut Arya yang kemudian bangkit dari duduknya dan Arya bergegas melangkahkan kakinya menuju ke tempat latihan.


Tak butuh waktu yang lama, semuanya telah berkumpul dihalaman perguruan Darma Putih, dan pagi ini mereka semua sarapan bersama setelah Rani dan yang dibantu Sersan Saga dan yang lainnya, membagikan nasi dan lauk-pauk yang mereka masak tadi pagi.


Setelah semua mendapatkan makanan itu, kemudian mereka sarapan bersama.


Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai sarapan dan para murid-murid perguruan Darma putih berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing dan yang tinggal hanya beberapa murid yang ditugaskan oleh kakek Darma untuk membantu merenovasi perguruan yang saat ini sebagian telah hancur itu.


Di susul kemudian Nenek Lasmi yang diantarkan oleh Paman Sidiq, untuk kembali ke perguruan anggrek putih..


Sementara itu Rani dan yang lainnya , juga berpamitan untuk kembali ke kota.


"Kakek jaga kesehatan ya!" pesan Rani saat sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Ya, kalian semuanya harus berhati-hati....! kasih kabar kalau sudah sampai!" seru kakek Darma seraya melambaikan kedua tangannya.


"Iya kek!" balas Rani yang juga melambaikan tangan pada Kakek Darma, Arya, bibi Dewi dan Desi.


Mobil mewah milik Tuan Wibowo yang dikemudian oleh Sersan Saga, dengan posisi Rani duduk didepan bersama Sersan Saga yang mengemudi, sementara nyonya Lani bersama Raditya, itu pun melaju meninggalkan perguruan Darma putih dan menyusuri jalan kembali ke arah kota.


Di sepanjang jalan terlihat beberapa anggota geng Kobra di amankan oleh beberapa anggota polisi.


Sersan Saga sedikit lega melihat kinerja polisi-polisi yang bertugas di daerah sekitar lereng gunung itu.


Mobil itu terus melaju dengan tanpa hambatan, menyusuri jalan yang membelah persawahan dan terkadang hutan dan juga melewati beberapa kali jembatan.


Tak berapa lama mereka masuk ke perkampungan dan tetap melaju menyusuri sepanjang jalan beraspal.


"Kak itu bukannya restoran tempat Kak Yuki kerja kemarin?" tanya Rani yang dari kejauhan melihat adanya restoran dimana mereka bertemu nenek Lasmi dan Yuki.


"Iya, kau benar! kita makan dan istirahat di restoran itu saja!" seru Sersan Saga yang kemudian menepikan mobilnya, dan hendak menyeberang.


"Yuki...! seandainya kamu kemarin tidak ikut turnamen, pasti kamu tidak akan hilang!" gumam pelan Raditya yang masih bisa di dengar oleh orang-orang yang dalam satu mobil dengannya.


Rani, Sersan Saga dan Mama Lani pun saling pandang saat mereka hendak turun dari mobil dan mendengar gumaman Raditya.


"Padahal niat kakak mendekati Yuki kemarin agar bisa menjauhkan Yuki dari adik tua.Tapi ada perasaan aneh, beda yang kak Radit rasakan bila bertemu dengan Sania. Perasaan ini ada sejak kakak mengantar Yuki ke perguruan Anggrek putih. Terlebih saat Turnamen bela diri kemarin, sebelum Yuki menghilang. Katanya Yuki sayang kak Radit!" jelas Raditya yang mengungkapkan perasaannya.


"Kenapa ya, mama juga ada perasaan sama gadis itu. Sepertinya dia itu gadis yang baik!" kata nyonya Lani pada saat menghampiri mereka setelah keluar dari dalam mobil.


"Eh, ayo jalan! Sudah lapar nih!" ajak Sersan saga yang mencairkan keheningan sejenak untuk mengenang Yuki.


"Ayo!" seru Raditya yang Raditya menggandeng nyonya Lani dan masuk terlebih dulu ke dalam restoran.


Sementara itu Sersan Saga, mencegah Rani yang hendak melangkahkan kaki menyusul Raditya dan juga nyonya Lani.


"Jangan masuk dulu Sayang, kak Saga mau ngomong sebentar!" kata Sersan saga saat menarik tangan Rani yang bejalan mendahuluinya.


"A...ada apa kak? Jangan mesum disini ya!" seru Rani sedikit takut bila tunangannya, tiba-tiba akan berbuat hal yang tidak dia inginkan seperti biasanya.


"Berarti mesum di tempat lain boleh ya?" goda Sersan Saga seraya mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Ih...! kak Saga...!" seru Rani sambil mencubit lengan Sersan Saga.


"Auw...! ampun sayang!" seru Sersan Saga yang pura-pura sakit untuk menggoda tunangannya itu.


Mereka pun saling tersenyum.


"Ok...! Sekarang serius nih!" ujar Sersan Saga kemudian.


"Tentang apa?" tanya Rani yang penasaran.


"Kak Sata khawatir kematian Annet akan berdampak pada hubungan mereka. Sebaiknya kamu jangan pakai identitas Ran, dan Rana. Kak Saga juga khawatir karena Sania pasti tahu identitas Ran itu sama dengan Rana. Secara mereka selalu berhubungan dengan Raditya.


Seperti pada saat di pemancingan Om Jordy, pesta ulang tahun Lilian dan terakhir Turnamen bela diri kemarin." jelas Sersan Saga.


"Iya kak, Rani juga berpikir begitu. Kematian Annet pastinya akan membuat geng Kobra semakin marah!" seru Rani, dan mereka pun saling pandang.


"Itu yang aku pikirkan selama ini!" sahut Sersan Saga.


"Kita pikirkan nanti setelah makan ya! Rani nggak bisa berpikir kalau perut dalam keadaan kosong. He...he...he.,.!" lanjut Rani sambil tersenyum dan kemudian menarik lengan Sersan Saga untuk masuk ke dalam restoran.


"Wah, kalau urusan perut, pasti nomor satu!" celetuk Sersan Saga.


"Oh, jelas itu!" seru Rani seraya mengulas senyumnya, sambil terus melangkah menghampiri Raditya dan nyonya Lani yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing.


"Dari mana saja sih, kok lama banget!" seru Raditya saat melihat Adik dan tunangannya menghampiri dirinya dan nyonya Lani.


"Ada deh...! mau tahu aja...!" goda Rani yang kemudian duduk di samping nyonya Lani dan memilih menu makanan yang akan dia santap untuk makan siangnya.


"Sssst....! Adik tua, memangnya ada apa sih?" bisik Raditya pada saat Sersan Saga duduk disampingnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2