
Setibanya di airport, Nathan masuk ke mobil yang ia parkirkan di sana selama lima hari, tentu saja bukan dia sendiri yang mengemudikannya melainkan driver-nya tadi yang ikut bersamanya.
“Silahkan masuk tuan.” driver membukakan pintu mobil setelah keluar dari tempat parkir dan berhenti tepat di depan Nathan menunggu. “Jalankan mobilnya sekarang.” Nathan Tak sabar ingin segera tiba di rumah.
Mobil pun meluncur keluar dari airport dan menuju ke rumah Nathan.
“Tuan, maaf semua barang tuan ditaruh di mana ?” Driver mengeluarkan semua barang Nathan dari bagasi setibanya mereka di rumah. “Masukkan saja ke ruang tengah nanti aku akan membawanya sendiri ke kamar.” Nathan berhenti sebentar menatap driver kemudian kembali melangkah masuk ke rumah.
Driver membawa semua barang bawaan Nathan dan menaruhnya di ruang tengah seperti permintaannya.
Nathan masuk ke kamar. Ia pun segera berganti baju piyama karena merasa gerah dan ketat memakai pakaian kerjanya selama berjam-jam.
__ADS_1
“Jovi...” hanya gadis itu saja yang diingat oleh pria itu sampai detik ini. Ia pun mengambil ponselnya yang masih ada di saku baju kerjanya yang lupa ia keluarkan. “Astaga Sekarang sudah pukul 23.00, oh sial... dia pasti sudah tidur.” Nathan terkejut saat melihat jam yang ada di layar ponselnya. Ia pun menaruh kembali ponselnya mengurungkan niatnya untuk menelepon Jovi.
“Mungkin besok pagi saja aku akan menemuinya.” Nathan yang sedari tadi dalam pesawat tidak tidur sama sekali kali ini ia merasa lelah dan mengantuk. Setelah mencium aroma lavender di kamarnya pria itu pun tertidur pulas.
Pagi harinya
Nathan bangun kesiangan, mungkin karena kelelahan.
Pria itu kemudian segera bersiap masuk ke kamar mandi. 15 menit kemudian beda itu sudah terlihat rapi dan juga wangi.
“Tuan muda, ini sarapan anda.” Bi Ijah segera menghidangkan sarapan pagi begitu melihat pria itu sudah selesai bersiap. “Terima kasih, bi.” Nathan mengambil hidangan yang ada di meja dan segera menyantap nya.
__ADS_1
“Dimana barang-barang ku ?” Nathan yang selesai makan menuju ke ruang tengah dan mencari barang-barangnya yang semalam diturunkan oleh driver. “Bibi.... apa bibi tahu di mana semua barang bawaan ku semalam ?” Nathan memanggil Bi Ijah siapa tahu saja wanita itu mengetahuinya.
“Ya, tuan.” Bi Ijah berjalan dengan cepat dan segera menghampiri Nathan. “Barang tuan ada di meja dekat kamar tuan. Semalam bibi yang memindahnya ke sana.” jawab wanita itu sambil menunjuk ke sebuah meja.
“Ya, aku akan mengambilnya sendiri.” Nathan perjalanan menuju ke meja yang ditunjuk oleh sang bibi. “Ini dia barang untuk Jovi.” mengambil satu tas penuh kemudian keluar dari rumah dan masuk ke mobilnya.
“Tuan membeli barang-barang wanita untuk siapa ya ?” Bi Ijah sempat melihat barang-barang yang di beli oleh tuannya saat memindahkannya. “Apa tuan sedang dekat dengan seorang wanita ?” merasa aneh tapi tersenyum kecil.
Nathan tiba di kantor dan suasana di tempat parkir sudah sepi. “Aku terlambat.” ia melihat jam di tangannya yang menunjukkan sudah pukul 08.00 lebih. “Tapi tak apa, ini kantor ku sendiri.” berjalan dengan tenang masuk ke kantor.
“Tuan... anda sudah kembali ?” Chris berjalan cepat menyambut Nathan dengan membawa dokumen penting. “Tuan ini ada dokumen urgent yang membutuhkan jawaban dari anda segera.” Chris menambahkan.
__ADS_1
“Hiss....” Nathan hanya menarik nafas berat, baru datang dan belum sempat duduk sudah kena deadline tugas.