
Nathan masih mengikuti mobil kuning Jovi dan menyisip diantara mobil lainnya seperti sebelumnya, tanpa Jovi ketahui.
Sepuluh menit kemudian gadis itu berhenti di depan sebuah rumah mewah berlantai dua di kawasan perumahan Lebak Bulus.
“tok... tok... tok...” Jovi segera mengetuk pintu rumah setelah turun dari mobil.
“Ya... tunggu sebentar.” suara seorang gadis dari dalam berjalan ke pintu. “Jovi ?!”
“Sha...” Jovi segera memeluk temannya itu segera setelah keluar dari pintu. “Hey ada apa ? Kenapa kau malam-malam seperti ini kemari ?” Shasha memeluk temannya itu sekaligus terkejut melihat wajah Jovi yang kusut.
“Malam ini saja biarkan aku menginap di tempatmu, oke ?” Jovi melepas pelukannya dan bicara dengan memohon yang membuat Shasha tak tega menolaknya melihat kondisi temannya seperti itu. “Ya-ya baiklah ayo kita masuk dulu. Nanti kau saya ceritakan padaku apa masalahmu.” Shasha merangkul Jovi dan mengajaknya berjalan masuk ke rumah.
Dua meter di seberang jalan tepat di depan rumah Shasha terlihat mobil Nathan yang berhenti.
__ADS_1
“Hmm... jadi di sini rumah temannya itu ?” Nathan melihat Shasha menetap kemudian mengunci pintu rumah. “Yah aku merasa lega ternyata dia menginap di rumah temannya.” menarik nafas panjang karena sebelumnya sempat berpikiran negatif pada Jovi.
Karena sudah larut malam maka nonton segera memutar balik mobilnya dan mengembalikannya menuju ke rumah.
“Hoahem... ngantuk sekali.” Nathan segera berganti piyama setibanya di kamarnya yang nyaman.
Pria itu kemudian naik ke tempat tidur sambil mengangkat kedua tangannya ke atas kemudian menekuknya dan menjadikannya sebagai bantal.
“Jovi... kini aku sudah mengetahui masalahmu. Mungkin sedikit sulit untuk mendapatkan mu, tapi aku bisa melangkah setelah mengetahui masalah yang menimpamu dan mengambil keputusan dengan yakin.” Nathan merasa lega dan tenang, beberapa menit setelahnya pria itu sudah tertidur pulas.
“Jadi begitu ceritanya Jovi.” Shasha menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu dengan iba setelah mendengar cerita dari Jovi yang sungguh miris bahkan hingga membuat dirinya kesal hanya dengan mendengarnya saja.
“Ya Sha... kau bisa belajar dari pengalaman ku. Jika tidak suka dengan seorang lelaki maka jangan pernah mau menikah dengan nya, juga jangan korbankan perasaan demi keluargamu.” Jovi tersenyum getir menceritakan pengalaman hidupnya sendiri.
__ADS_1
Mereka pun mengobrol hingga jam 01.00 dini hari.
“Jovi... lalu apa kau tidak ingin cerita pada orang tuamu ?” Shasha bertanya pada Jovi, namun tak ada respon. “Hyaah... dia sudah tidur rupanya.” menoleh ke arah Jovi yang ternyata sudah tidur. “Pantas saja tak ada respon darinya.” Shasha pun akhirnya ikut memejamkan matanya.
Di Villa Cempaka, terlihat Deon dan gadisnya yang baru keluar dari kamar mandi membersihkan tubuh mereka yang kotor dan lengket karena coklat panas milik Jovi.
“Untung saja tidak terjadi luka bakar. Jika saja sampai kulit ku sedikit saja melepuh, maka Jovi akan menanggung akibatnya dalam waktu dekat ini.” Deon berulang kali melihat bagian tubuhnya bekas siraman coklat panas yang terlihat berwarna merah meskipun tidak melepuh.
Ia pun kemudian duduk di ruang tamu hingga dua jam lamanya bersama gadisnya.
“Kenapa Jovi belum pulang juga jam segini ?” Deon melihat jam yang tergantung di dinding yang menunjukkan Jika waktu saat ini sudah pukul 01.00 dini hari.
“Sayang, aku mengantuk.” ucap gadis Deon sambil menguap dan menutup bibirnya. “Gadis itu takkan pulang hari ini pasti takut denganmu. Jadi sebaiknya tak usah menunggunya dan kita kembali ke kamar saja.” tambah gadis itu merasa lelah ikut menunggu sambil menarik tangan Deon mengajaknya pergi dari sana.
__ADS_1
“Ya benar dia pasti takut untuk pulang.” Deon kemudian beranjak dari duduknya dan mengikuti gadisnya masuk ke dalam, menuju ke kamar.