
Sore hari Nathan pulang dari kantor dan menjemput Jovi. Ia sengaja pulang lebih awal dan memangkas semua jadwalnya hari ini untuk menepati janjinya, membahas rencana pernikahan mereka.
“Lihat itu hampir setiap hari CEO Nathan menjemput nona Jovi.” ucap seorang staf melihat Jovi yang berjalan keluar kantor bersama Nathan. “Aku yakin di antara mereka berdua pasti ada sesuatu.” tambahnya melihat kedekatan mereka berdua yang tak bisa dideskripsikan lebih terlihat sebagai pasangan suami istri.
“Berarti kabar keretakan rumah tangganya karena CEO Nathan benar adanya.”
“Kenapa tidak mencari wanita single saja ?” timpal staf lain.
“Entahlah aku tak mengerti jalan pikiran mereka.” mereka pun terlalu begitu saja sebelum percakapan mereka terdengar oleh Jovi dan Nathan.
“Kak kenapa hari ini pulang lebih awal ?” ucap Jovi setelah duduk di dalam mobil.
“Sesuai yang kubilang tadi pagi kita akan membahas rencana pernikahan kita. Apa kau lupa itu ?”
Jovi menggeleng sembari tersenyum lebar ke arah Nathan. “Lalu kita pergi ke mana sekarang ?” tanyanya saat mobil melaju ke jalanan lain bukan menuju ke apartemen.
“Kau akan tahu nanti.”
Tak lama kemudian Nathan menghentikan mobilnya di sebuah tempat.
“Toko perhiasan ?” pekik Jovi terkejut melihat toko tempat mereka berhenti.
__ADS_1
“Ayo masuk. Kau yang pilih cincin pernikahan kita.” Nathan segera turun dari mobil kemudian membukakan pintu dan mengajak Jovi turun dari sana.
Di dalam toko Jovi melihat lihat cincin yang ada di etalase. Beberapa kali dia mencobanya.
“Aku kurang suka dengan model yang ini, kak.” ia menaruh sebuah cincin yang dicobanya dan kembalikannya pada pelayan toko.
“Aku juga kurang menyukainya sepertinya tidak pas di tanganku.” Nathan ikut melepas cincin yang dicobanya.
Hingga satu jam kemudian mereka akhirnya menemukan sepasang cincin yang cocok untuk mereka. “Aku mau yang ini saja kak.”
“Tolong yang ini.” Nathan menyerahkan sepasang cincin pilihan Jovi yang simple modelnya lalu segera membayarnya.
“Tentu saja kita akan mencari gaun untukmu.” jawab Nathan singkat dan fokus mengemudi.
Beberapa saat setelahnya mereka tiba di toko gaun pengantin.
“Gaun mana yang kau pilih ?” Nathan menunggu Jovi memilih-milih gaun pengantin.
“Aku bingung kak karena semuanya bagus di sini.”
“Ambil saja yang menurutmu bagus dan bawa ke ruang ganti. Aku akan memberikan penilaian untukmu.” Nathan tak mau melewatkan moment yang satu ini.
__ADS_1
Jovi mengambil beberapa gaun pengantin yang menurutnya bagus lalu membawanya ke ruang ganti dengan Nathan yang mengikutinya dan menunggunya di depan ruang ganti.
“Kak bagaimana menurut mu dengan gaun ini ?” tanya Jovi membuka pintu ruang ganti dan menunjukkan gaun yang dipakainya.
“Kau cantik sekali memakainya tapi itu terlalu terbuka. Coba ganti yang lain.”
Jovi melepas gaun yang barusan dicobanya dan mencoba gaun pengantin lainnya lalu menunjukkannya pada Nathan.
“Bagaimana kak ?” Nathan menggelengkan kepala. Ternyata pria itu benar-benar picky dan belum ada gaun pengantin yang menurutnya cocok setelah lebih dari lima kali Jovi mencoba gaun lainnya.
“kalau yang ini ?” Jovi menunjukkan gaun ke-7 yang dicobanya.
Nathan tak menjawab dan malah mengajak Jovi masuk ke ruang ganti sembari menutup pintunya.
“Kak... kenapa kakak ikut masuk ?”
“Kau terlihat sangat menggoda bagiku mengenakan gaun ini.” Nathan menyentuh leher jenjang Jovi dan mendaratkan ciuman di sana.
“Kak, kita sedang berada di tempat umum.” Jovi berusaha mundur.
“Sebentar saja.” Nathan menarik kembali Jovi mendekat padanya dan ia pun ******* bibir Jovi.
__ADS_1