Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 85 Mengambil Kunci


__ADS_3

Nathan memang sengaja tidak menggandakan kunci rumahnya karena ia tak ingin ada orang lain yang bisa masuk ke kamarnya selain dirinya. Semua ruangan di rumahnya ada duplikat kuncinya, hanya kamarnya saja yang tidak ada duplikat kuncinya.


“Mungkin sebaiknya lain kali aku akan menggandakan kunci kamarku.” Nathan baru merasakan susah karena tak bisa masuk ke kamarnya sendiri tanpa adanya kunci serf.


Ia pun segera melepas blazer dan dasinya yang ketat agar bisa bernafas lebih longgar. Ia menyampirkan begitu saja blazernya ke kursi kemudian duduk bersandar di sofa.


“Tuan, kenapa tidak ganti baju ?” Bibi Ijah lewat di tempat Nathan berada setelah membereskan cucian di dapur. “Aku tak bisa masuk ke kamar, bi. Makanya aku tidak ganti baju.” Nathan menanggapi dan menoleh ke samping kiri menatap sang bibi.


“Kunci kamar tuan hilang ?” tanya Bi Ijah lagi karena penasaran. “Tidak bi, kuncinya ketinggalan di kantor.” Nathan kembali menjawab dengan singkat.


“Apa biar Burhan saja yang mengambil kunci tuan di kantor ?” Bi Ijah menawarkan agar supir yang mengambilnya. “Tidak bi, tidak usah dan tidak perlu. Aku akan mengambilnya sendiri besok saat di kantor saja.” Nathan menolaknya dengan tegas.


“Baik tuan, jika anda memerlukan sesuatu panggil saja aku.” Bi Ijah kemudian kembali ke belakang untuk beristirahat.

__ADS_1


Nathan yang biasanya tetap bekerja meskipun setelah pulang dari kantor dengan menggunakan laptopnya, kini ia hanya menyaksikan tayangan televisi karena laptopnya ada di dalam kamar.


Dua jam berikutnya pria itu membawa bantal ke ruang tengah lalu mana tanya kemudian tidur di sana.


Pagi hari


Deon keluar dari kamar setelah memakai kembali bajunya.


“Ck... ck... bukan urusanku.” Deon kemudian berlalu pergi dari sana dan segera bersiap untuk berangkat ke kantor.


Lima unik setelahnya Jovi bangun dan membuka matanya. Ia pun berdiri dan langsung menuju ke depan cermin.


“Syukurlah alergi di tubuhku sudah pergi.” Jovi melihat tubuhnya sudah kembali normal, tak ada ruam merah lagi di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


“Sebaiknya aku bersiap sekarang.” Jovi melepas jaket Nathan yang ia pakai. “Klang.” sesuatu jatuh saat ia melepas jaketnya. “Ini...” melihat sebuah kunci jatuh di lantai dan yang segera mengambilnya.


“Ini pasti kuncinya kak Nathan tertinggal di saku jaket.” Jovi menyimpan kunci itu dan memasukkannya dalam tas. “Tapi kunci apa ya, semoga saja itu bukan kunci kamar.”


Jovi kemudian segera keluar dari kamar dan masuk kamar mandi karena ia sudah hampir terlambat.


“Sepertinya aku memang kesiangan kali ini.” Jovi berjalan menuju ke depan dan tak melihat Deon di rumah. Padahal pria itu biasanya berangkat lebih siang daripada Jovi.


Jovi masuk ke mobil kuning miliknya dan segera meluncur ke kantornya. Di tengah jalan ia teringat pada kunci Nathan dan ia pun segera mengeluarkan ponselnya.


“Halo...kak Nathan ?” ucap Jovi ditelepon setelah panggilan tersambung. “Ya halo Jovi, ada apa ?” Nathan mengangkat telepon sambil berjalan menuju ke kantornya setelah turun dari mobil. “Kak, aku menemukan kunci di jaket mu. Ku harap itu bukan kunci ruangan penting dan aku akan mengantar nya setelah ini.” Jovi merasa tak enak hati dan ingin mengantarnya khawatir Itu kunci yang sangat penting.


“Oh Jovi kau tak perlu repot kemari. Biar aku saja yang ke sana untuk mengambil kunci ku.” balas Nathan singkat.

__ADS_1


__ADS_2