
“Sayang sekali aku harus menaruh kembali spaghetti ini meskipun sebenarnya rasanya enak hanya saja pedas luar biasa.” Deon menatap piring berisi spaghetti di depannya yang terlihat sayang untuk membuangnya. “kruuk.” tiba-tiba perutnya berbunyi dan terasa mulas.
Ia pun segera keluar dari dapur dan masuk ke toilet.
“Auwh... lemas kakiku.” Deon berada satu jam di toilet sampai kakinya terasa lemas karena murus. “Gila benar baru 5 suap saja perutku sudah tak bisa diajak kompromi seperti ini. Tapi Bagaimana dengan Jovi ? Apa perutnya tidak bermasalah makan sepedas ini ?”
Baru saja Deon melangkahkan kakinya sejauh tiga langkah tiba-tiba ia kembali merasakan perutnya mulai luar biasa.
“Haah... sialan kau Jovi ! Kau berniat mengerjai ku !” Deon pelari masuk ke toilet karena sudah di ujung tanduk dan tak bisa ia tahan lagi.
Satu jam berikutnya barulah pria itu keluar dari toilet dan benar-benar terlihat lemas sehingga dia duduk di kursi sebentar dengan kaki yang gemetar, baru bersiap untuk berangkat kerja.
__ADS_1
Jovi sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan 40 km/second. Di sepanjang jalan ia terus tersenyum melihat jalanan menuju ke kantor ayahnya, Champion Group.
“Akhirnya aku tiba juga di sini.” Jovi tiba di kantor setelah menempuh perjalanan selama 30 menit yang sebenarnya bisa ia tempuh dalam waktu 10 sampai 15 menit saja.
Ia keluar dari mobil dan berdiri di samping mobilnya sambil melihat sekitar sebelum masuk ke dalam.
“Ayah, I'm coming back.” Jovi yang memakai kacamata hitam melepas kacamata itu dan menaruhnya dalam tas.
Ia pun kemudian berjalan masuk dan melewati beberapa staf yang sedang keluar dari ruang check lock.
“Nona Jovi kembali lagi masuk ke kantor setelah lama vacum ?” ucap seorang staf setelah melihat gadis itu masuk ke dalam lift. “Ya, mungkin baru selesai honey moon. Secara dia kan masih pengantin baru.” staf lain menimpali sampai tersenyum kecil dan sekarang berlalu dan masuk ke ruangan kerja mereka masing-masing.
__ADS_1
“klak.” Jovi tiba di lantai 3 dan pintu lift terbuka. “tac... tac..” suara heels 5 cm nya yang terdengar menghentak lantai masuk ke sebuah ruangan.
“kriek...” Jovi membuka pintu ruangan ayahnya.
“Jovi...” pekik ayah saat melihat putrinya membuka ruangannya dan masuk. Pria itu segera berdiri dan menyambut kedatangan putrinya dengan senyuman lebar. “Sayang kau kembali kesini akhirnya.” Ayah menghampiri Jovi yang berdiri di depan pintu ruangannya dan mengajaknya duduk di dalam.
Mereka bicara dan mengobrol sebentar hingga jam masuk dan akhirnya Jovi keluar dari ruangan ayahnya dan masuk ruangannya yang berada tak jauh dari ruangan ayahnya berada.
“Selamat pagi nona.” seorang wanita masuk ke ruangan Jovi. “Ya Rani.” Jovi menatap staf yang juga merupakan sekretarisnya. “Nona ini berkas laporan keuangan selama nona cuti menikah.” Rani menyerahkan setumpuk dokumen pada Jovi dan meletakkannya ke meja. “Ya Rani tinggal saja. Aku akan mengerjakannya setelah ini.” Jovi menatap dokumen di mejanya yang setinggi satu meter dan menutupi pandangannya ke arah pintu.
Di kantor Nathan, Chris, sekretaris pria itu masuk ke ruangan Nathan dengan membawa daftar meeting.
__ADS_1
“Tuan ini jadwal meeting anda hari ini.” Chris menyerahkan jadwal meeting nya pada Nathan. “Champion Group ? Baru kali ini perusahaan kita meeting dengan perusahaan ini.” Nathan menyerahkan kembali jadwal meeting pada Chris. “Ya tuan, ini pertama kalinya perusahaan itu mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita.” Chris menjelaskan.
“Baiklah nanti ingatkan kembali jika aku lupa dengan jadwal meeting ku.” Nathan hanya membacanya sekilas dan tentu saja ia tidak hafal jam berapa saja ia akan mengikuti meeting.