
“Brr....” Jovi terlihat kedinginan namun ia tak mengambil jaket Nathan dan hanya menahan dinginnya saja.
“Gadis ini...kenapa dia tak mau memakai jaket ku meskipun dia kedinginan seperti itu ?” Nathan melihat Jovi meletakkan jaketnya di dasbor. “Jika kau tetap kedinginan seperti itu maka alergi mu akan semakin parah meskipun kau sudah minum obat.” Nathan menepikan mobilnya sebentar.
Ia mengambil kembali jaketnya kemudian memakaikan jaket itu pada Jovi.
“Lalu kakak pakai apa, jika aku memakai jaket mu ?” Jovi menoleh dan menatap Nathan. “Kau tak usah pikirkan diriku. Jaket ku banyak.” kembali duduk setelah memakaikan jaket. “Dan yang lebih terpenting lagi aku tidak kedinginan saat ini.” melajukan mobil kembali dan meyakinkan Jovi agar tidak melepas jaketnya.
“Emm... ya baiklah kak.” Jovi kembali menatap Nathan dan mulai menarik resleting jaketnya ke atas. “Hmm... jaketnya tebal sekali, dan aku langsung merasa hangat.” kembali menatap Nathan dan merasakan jaket itu hangat sekali.
“Ya, jaket itu memang tebal dan aku memang memesannya untuk ku pakai di saat cuaca dingin sekali.” Nathan balas menatap Jovi dan tersenyum lebar. “Awalnya kau akan memakai jaket ku tapi nanti aku sendiri yang akan menyelimuti tubuhmu agar hangat, Jovi.” Pria itu terlihat senang sekali rencananya untuk selangkah lebih dekat dengannya berhasil.
Mobil terus melaju menuju ke Villa Cempaka. Ia pun menghentikan mobilnya di dekat gerbang masuk villa.
__ADS_1
“Kak... terimakasih sudah banyak membantuku.” Jovi segera turun dari mobil dan tak bisa menyebutkan satu per satu rasa terima kasihnya atas semua bantuan Nathan. “Nanti saat kita bertemu lagi aku akan kembalikan jaket ini padamu.” menyentuh jaket tebal berwarna coklat yang terasa lembut dan nyaman sekali dipakai.
“Tak perlu memikirkan hal itu. Jika kau suka, maka kau boleh memakainya terus.” Nathan kembali menawarkan dan mengumbar senyumnya yang tak bisa ia tahan sendiri tadi karena saking gembiranya.
Jovi yang merasa lelah mengucapkan kata terima kasih hanya mengangguk saja.
“Kak, aku pergi dulu.” Jovi masuk dan menutup kembali pagar rumah. “Kabari aku besok kalau kau sudah selesai menandatangani kontrak kerja kita.” balas Nathan sekaligus mengingatkan kembali agar gadis itu tidak lupa.
“hmm...” Jovi segera meminumnya di saat masih hangat dan minuman jahe membuat tubuhnya semakin lebih hangat lagi.
Ia kembali berjalan menuju ke kamarnya setelah menghabiskan minuman jahe hangat yang dibuatnya. Ia berhenti sebentar di kamar sebelah yang tertutup pintunya.
“Mungkin Deon belum pulang jam segini jadi tak ada suara sama sekali dari balik kamar ini.” Jovi segera masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Efek dari obat anti alergi mulai bereaksi dan ia pun merasa mengantuk sekali.
“Oh tunggu dulu.” Jovi memakai kaos kaki sebelum naik ke tempat tidur agar tubuhnya tetap hangat. Ia pun tertidur tak lama setelahnya.
“Aaah... tuan muda...” dari kamar sebelah terdengar suara ******* seorang gadis saat Deon menyalurkan hasrat kelelakian nya. Namun sayang sekali kali ini Jovi tak mendengarnya sama sekali.
Di rumah Nathan, pria itu baru tiba di rumah. Ia pun segera menuju ke kamarnya dan mencari kunci kamar.
“Astaga... aku menaruh kuncinya di jaket yang di pakai Jovi tadi.” Nathan baru ingat jika ia menaruh kuncinya di jaket itu.
Ia mencoba untuk menelepon Jovi dan menanyakan tentang kunci kamarnya.
“Mungkin dia sudah tidur sekarang.” Nathan memasukkan kembali ponselnya yang barusan ia ambil. “Aku tidur di ruang tengah nanti malam.” Nathan duduk di sofa yang ada di depan kamarnya.
__ADS_1