
Mata Jovi terbelalak kaget saat melihat banyaknya kiss mark di dada Deon, meskipun harusnya ia tahu hal itu wajar saja ada di sana karena sebelumnya ia melihat pria itu bermalam dengan wanita lain.
“I-ini...” Jovi menyentuh kiss mark di dada Deon. “Ini... siapa... dengan siapa kau menghabiskan malam ?” Jovi mencoba untuk tenang di saat ia mulai merasakan amarah.
“Sayang...ini...ini hanya salah paham saja. Ada gadis liar masuk kesini dan memaksa ku melakukannya.” Deon menjawab dengan terbata setelah menemukan alasan yang terlintas di pikirannya sambil memegang tangan Jovi.
Jovi yang awalnya menahan amarahnya menjadi lepas kendali dan tak bisa menahannya lagi karena pria itu sudah berbohong padanya. Sudah jelas-jelas ia berselingkuh dengan seorang gadis di depan mata tapi malah menyalahkan pasangan selingkuhnya.
“Gadis liar apa ?” Jovi menatap Deon dengan melotot hingga rahang tulang pipinya terlihat menonjol. “Bukankah kau menikmati itu bersamanya ? Naif sekali.” tak habis pikir kenapa pria itu mau jujur saja dan mengakui kesalahannya, meskipun tetap saja pada ujungnya ia juga tak bisa memaafkan perbuatan itu.
“Jovi jadi kau semalam melihat nya ?” Deon terkejut dan tak menyangka saja Jovi melihat adegan ranjangnya dengan teman tidurnya. “plaak !” Jovi tidak tahan lagi dan menampar pipi Deon dengan keras dan menatapnya dengan tatapan tajam.
“Jangan pernah menyentuhku setelah menyentuh wanita lain ! Ingat itu !” Jovi segera bergeser dan menjauh dari Deon.
__ADS_1
Deon baru pertama kali ini ditampar oleh seorang wanita. Sebelumnya ia tak pernah mendapatkan perlakuan yang baginya seperti hinaan untuknya, bahkan teman tidurnya saja tak pernah baterai apa adanya seperti Jovi berteriak barusan.
“Jovi...” Deon menyentuh pipi bekas di tampar Jovi dan masih terasa panas sekali. “Ingat perusahaan keluarga mu sedang mengalami krisis dan hanya keluargaku saja yang bisa membantumu.” Deon kembali mengingatkan dan lebih terdengar seperti ancaman. “Aku bisa saja bilang pada Ayahku untuk tidak membantu orang tua mu. Tapi bagaimana dengan orang tuamu nanti, apa mereka siap hidup menjadi gembel ?” Deon menetap ke arah Jovi dengan tersenyum lebar.
Jovi yang tak bisa berbuat apapun setelah mendengar kata orang tuanya disebut hanya bisa diam tak mengucapkan sepatah katapun, dan hanya bisa menghafalkan tangannya erat menahan semua rasa sakit dan rasa marahnya pada Deon.
“Jika kau masih ingin orang tuamu hidup nyaman seperti sekarang ini, kau harus tetap tinggal bersama ku.” Deon kembali berjalan dan berhenti sebentar saat melewati Jovi, memberikan tatapan tajam kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.
“Fuck !!!” teriak Jovi sekencang yang ia bisa menatap ke arah pintu.
“Bastard kau Deon !!!” Jovi menatap ke arah pintu dengan amarah yang masih membuncah, kemudian membanting tubuhnya dengan keras ke tempat tidur.
Di lain tempat, di siang hari.
__ADS_1
Terlihat Nathan yang saat ini sedang berada di kantor. Ia duduk di sudut ruangan sambil menatap ke arah jendela.
“Gadis itu tidak juga menghubungiku hingga saat ini.” Nathan menatap ponsel yang ia pegang berharap Jovi menghubunginya. “Aku juga tidak meminta nomornya saat itu. Tapi tak masalah bagi ku. Aku sudah tahu tempat tinggal mu dan aku bisa mencari tahunya sendiri.” Nathan memutar-mutar ponsel yang ada di tangannya kemudian memasukkan ke saku bajunya kembali.
Nathan kembali duduk di kursinya. Ia kemudian menelepon seseorang.
“Chris... datanglah ke ruangan ku sekarang.” ucap Nathan Setelah telepon tersambung. “Ya tuan.” jawab singkat suara di ujung telepon.
Chris adalah sekretaris Nathan, seorang lelaki. Ia memang sengaja memilih sekretaris berjenis kelamin lelaki karena merasa lebih nyaman bekerja dengan pria daripada wanita.
Dua menit setelahnya seorang lelaki masuk ke ruangan Nathan.
“Ya tuan, Nathan. Tugas apa yang tuan berikan padaku ?” ucap seorang lelaki begitu tiba di ruangan Nathan.
__ADS_1
“Chris... aku ingin kau mencari tahu siapa yang tinggal di Villa Cempaka.” ucapnya.
“Baik tuan.” jawab Chris tanpa bertanya lebih lanjut dan segera keluar dari ruangan Nathan.