
Jovi melajukan mobil kuningnya kembali dan mengendarai dengan kecepatan standar. Ia melihat lagi kue yang dia belikan untuk ibunya.
“Masa hanya ini yang kuberikan untuk mereka ?” merasa yang di bawanya kurang. Sambil jalan ia pun kembali melihat sekitar jalanan untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai tambahan. “Mungkin ayah dengan buah itu.” melihat kios buah.
Jovi menempatkan mobilnya menuju ke kios buah di tepi jalan dan memarkirnya di samping kios.
“Buah apa yang katanya mana sebaiknya ku berikan pada ayah ?” Jovi melihat bermacam-macam buah yang ada di sana dan bingung mau membeli apa. “Pak tolong di bungkus yang ini... ini... itu dan itu.” menunjuk anggur, alpukat, pome, kelengkeng dan apel merah. “Baik nona.” pemiliknya segera mengambilkan dan menimbang pesanan Jovi.
Seperti biasa Nathan berhenti empat meter dari kios buah berada, di belakang sebuah mobil yang kebetulan berhenti di tepi jalan.
“Buat apa dia beli buah sebanyak itu ?” Nathan melihat Jovi kembali ke mobil kuning dengan membawa banyak buah di tangannya. “Apa ada yang sakit ? Siapa yang dia jenguk ?” Nathan hanya menebak-nebak saja.
__ADS_1
“Klak.” Nathan segera melajukan mobilnya kembali saat melihat Jovi masuk ke mobil dan menutup pintu. “Kemana sebenarnya dia pergi ?” mengikuti Jovi melewati jalan raya kemudian masuk ke sebuah gang dan berhenti di depan sebuah rumah mewah di antara sederetan rumah yang ada di sekitarnya.
“Ding-dong. Ibu... Ayah...” Jovi segera memencet bel dan memanggil kedua orang tuanya begitu turun dari mobil.
“Itu seperti suara Jovi. Apa aku tidak salah dengar ?” ibu dari dalam rumah seperti mendengar suara putrinya memanggilnya. “Aku periksa saja untuk memastikannya.” ibu berjalan menuju ke ruang tamu dan segera membuka pintunya.
“Ibu...” panggil Jovi ketika melihat ibunya keluar dari rumah. Jovi...” balas Ibu memanggilnya kemudian memeluknya. “Ibu sudah lama menunggu kedatangan mu kemari. Masuklah dan ajak Deon untuk masuk.” ibu melepas pelukannya kemudian menatap ke arah mobil yang tertutup.
Jovi mengambil buah dan kue yang ia beli dan sebagian ia berikan pada ibunya karena tak bisa membawa semuanya sendirian.
“Wanita itu apa mungkin dia ibunya Jovi ?” Nathan menatap sosok wanita yang terlihat ada kemiripan dengan Jovi. “Jadi di sini rumah orang tuanya.” Nathan melihat dari dalam mobil tanpa membuka kaca jendela.
__ADS_1
“Jovi banyak sekali yang kau bawa, nak.” ibu tersenyum lebar membawa puding dan buah sambil berjalan masuk ke rumah. “Dimana ayah, bu ?” Jovi duduk dan menatap ke sekitar mencari keberadaan ayahnya yang tidak kelihatan.
“Ayah mu belum pulang mungkin sebentar lagi akan datang. Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan pada ayah ?” ibu ikut duduk di depan Jovi. “Tidak ada bu, sebenarnya besok aku akan kembali masuk ke kantor ayah. Ayah mertua mengizinkan aku kembali bekerja.” Jovi bercerita dengan berapi-api dan melanjutkan ceritanya.
Di luar rumah Nathan terlihat memutar balik mobilnya tepat di saat mobil ayah Jovi masuk.
“Aku seperti pernah melihat mobil itu.” ayahnya Jovi menatap sekilas mobil Nathan yang melewatinya. “Mobil kuning itu milik siapa ?” penasaran pada tamu yang bertamu di rumahnya.
Setelah memarkir mobil, ayahnya Jovi masuk ke rumah. Dari luar dia mendengar suara putrinya.
“Jovi.... ?!” ucapnya saat melihat yang datang memang benar putrinya. “Ayah...” Jovi berdiri kemudian menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangannya. “Dimana Deon ?” mencari sosok menantunya yang tidak terlihat.
__ADS_1
“Dia sibuk yah. Jangan tanyakan dia lagi.” Jovi menjawab tegas dan membuat pria itu jadi berpikir apa benar menantunya sibuk atau memang ada sesuatu di antara mereka berdua, namun itu hanya dugaannya saja. Dan ia mengesampingkan hal itu lebih dulu dan mengobrol dengan putrinya yang lama tidak bertemu dengannya.