
Keesokan paginya Jovi bangun dari tidur. Gadis itu sebenarnya malas keluar dari kamar, namun ia harus ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Shit... ! Dasar Deon gila ! Apa maksudnya dia seperti itu ?!” berjalan keluar kamar dan melewati kamar yang ada di sebelah kamarnya dengan pintu yang terbuka lebar dan terlihat Deon sama gadis barunya yang masih tertidur pulas dalam keadaan telanjang bulat dan berpelukan. “Ck... aku tidak melihatnya.” Jovi segera mengalihkan pandangan dan berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Jovi keluar dari kamar mandi dan berpapasan kembali dengan Deon dan gadis barunya yang sudah memakai pakaian.
“Sayang aku haus.” gadis baru Deon menyentuh tenggorokannya yang kering.
Tak lama setelahnya jauhnya lewat di depan mereka.
“Hey kau tunggu dulu.” gadis barunya Deon memanggil Jovi. “Aku ?!” Jovi berhenti menatap gadis itu. “Ya kau siapa lagi di sini yang aku panggil selain dirimu.
Jovi menautkan kedua alisnya tak mengerti kenapa gadis hina itu memanggilnya.
__ADS_1
“Kau ambilkan aku minuman dingin dari kulkas.” gadis itu berbicara dan menyuruh Jovi layaknya majikan menyuruh pembantunya. “Jika ada lemon, bawakan aku es lemon saja.” gadis tadi menambahkan.
“Ambil saja sendiri.” Jovi merasa enek melihat apalagi meladeni gadis hina itu. Secara, dia itu siapa dan harus tahu posisinya yang hanya sebagai gadis teman tidur Deon saja, yang lebih rendah kedudukannya daripada dirinya yang berstatus sebagai istri syah Deon.
“Sayang, pembantu mu kurang ajar sekali berani menolak perintah majikannya.” ucap gadis tadi sambil menatap daun dan mengelus pipinya.
“Mungkin sebaiknya aku beri Jovi pelajaran saja biar dia tidak berani macam-macam denganku.” Deon merasa ada kesempatan yang datang untuk mengerjai Jovi dan ia akan memanfaatkan kesempatan bagus itu.
“Ehm.... Jovi... kau pembantu di sini. Buatkan saja es lemon untuknya.” Deon ikut bicara. “Apa ?” Jovi berbalik kemudian berhenti sampai mengepalkan tangannya erat karena pria itu ikut memperlakukan dirinya sebagai seorang pembantu di depan gadis hina tadi. “Jika kau tak mau membuatkan es lemon, maka aku akan memotong bantuan untuk orang tuamu.” Deon segera mengancam saat melihat Jovi yang hendak protes dan menolak.
“Kali ini kau bisa menekan ku, tapi ada saatnya nanti kau akan mendapatkan balasannya.” Jovi menatap daun dengan penuh murka kemudian segera pergi dan masuk ke dapur.
Di dalam dapur ia pun mengambil lemon yang ada di kulkas. Tak tanggung-tanggung, Jovi mengambil sepuluh lemon sekaligus dan memerasnya dalam satu gelas.
__ADS_1
“Ini lemon special untuk mu.” Jovi menuang air es kemudian menambahkan gula dan mencampur nya dengan satu botol cuka.
Setelah selesai membuat es lemon kembali ke kamar tempat Deon dan gadisnya berada.
“Ini es lemonnya.” Jovi menaruh satu gelas es lemon di meja dan segera berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada Deon ataupun gadisnya.
“Aah segar nya...” gadis tadi meminum habis es lemon buatan Jovi yang menurutnya terasa segar dan berbeda dari es lemon kebanyakan.
“Ha... rasakan, beraninya kau memperlakukan aku sebagai pembantu.” Jovi Tersenyum dalam hati saat melihat gadis itu menghabiskan lemon buatannya.
Satu jam setelahnya gadis tadi ndak keluar dari villa dan kembali ke tempatnya bekerja.
“Uuh... ada apa dengan perutku ?” gadis tadi merasa perutnya mulas bagai diaduk-aduk. “Jadi pulang atau tidak ?” Deon yang akan mengantar gadis itu pulang berhenti sebentar.
__ADS_1
“Sayang, tunggu di mobil saja aku mau ke toilet sebentar.” gadis tadi segera berlari menuju ke toilet setelah Deon menunggunya di mobil.
Selama satu jam gadis itu berada di toilet dan belum keluar juga.