
Jovi sampai di depan mobil dan memasukkan semua barang belanjaannya ke sana. Tak berapa lama kemudian gadis itu meluncur keluar dari swalayan.
Tak terasa meskipun menurutnya cepat ternyata sudah tiga jam ia berada di swalayan dan tak terasa sudah siang hari.
“kruuk...” bunyi suara perut Jovi yang berbunyi di jam makan siang.
“Sebaiknya aku mengisi perutku dulu baru pulang.” Jovi memerankan laju mobilnya kemudian menatap ke samping kiri dan ke samping kanan jalanan untuk mencari tempat makan. “Di sana saja.” Jovi melihat cafe geprek yang ada lima meter di depannya dan berhenti di sana.
“Tolong menu paket A dengan level pedas 10.” Jovi segera memesan pesanannya kemudian mencari tempat duduk yang nyaman.
Ia memilih duduk di dekat jendela karena di sana angin melimpah dan menambah kenikmatan saat sedang makan sesuatu yang pedas dengan angin yang semilir.
__ADS_1
“Ini nona pesanan anda.” seorang pelayan mengantarkan dada ayam goreng dengan sambal level 10 lengkap dengan lemon jus dan menghidangkan di meja Jovi. “Terimakasih.” Jovi segera menyantap menu masakan pedas favoritnya setelah pelayanan tadi pergi. Baginya pedas level 10 terasa seperti tingkat pedas level 1 dan ia sama sekali tak merasa pedas.
“glug.” 15 menit kemudian tulis itu selesai menyantap menu pedas favoritnya dan sudah menghabiskan lemon juice.
Selesai menyantap makanan Ia pun tak langsung pulang namun masih duduk di sana kurang lebih selama 30 menit sambil menunggu isi perutnya turun agar tidak terasa berat saat berjalan.
“Aku pulang sekarang.” Jovi berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan ke kasir untuk membayar tagihannya dan tolong masalahnya ia sudah duduk di mobil kuning nya.
Jovi merasa mendapatkan angin segar dan sedikit kebebasan setelah kedatangan mertuanya kemarin. Di tengah jalan ia terpikirkan pada orang tuanya.
Gadis itu memang sama sekali belum pulang ke rumah orang tuanya setelah pernikahannya dengan Deon. Bukannya ia tidak mau tapi karena tidak bisa ke sana atas larangan Deon yang mengungkungnya di villa.
__ADS_1
“Apa yang sebaiknya kuberikan pada ibu ?” Jovi memerankan laju mobilnya dan berpikir membawa oleh-oleh apa untuk orang tuanya. “Itu saja.” ia melihat ada toko bakery tak jauh dari tempatnya berada saat ini dan berhenti di sana. kebetulan memang ibunya juga suka pada kue.
“Tolong kue yang ini...” Jovi segera memilih dan menunjuk sebuah kue begitu sampai di sana. “Yang ini...” kembali menunjuk. “Juga ini dan ini.”
“Baik nona tolong ditunggu sebentar.” pelayan mengambilkan dan membungkus kue yang dipesan oleh Jovi, dan dari situ pun duduk di kursi yang tersedia di sana untuk menunggunya.
Tak berapa lama setelahnya pelayan menghampiri Jovi dan menyerahkan puding beserta kue lainnya.
“Terimakasih.” Jovi menerima semua aku yang di pesannya setelah melakukan pembayaran dan segera masuk kembali ke mobilnya.
Di luar jalanan terlihat mobil Nathan yang pulang mendahului satu jam sebelum jam pulang kantor. Ia penasaran sudah empat hari ini dia belum bertemu Jovi sama sekali.
__ADS_1
“Tunggu... itu seperti mobilnya Jovi ?” Nathan melihat mobil kuning keluar dari sebuah Bakery. Ia pun mencoba mengikutinya untuk memastikannya apakah itu benar mobilnya Jovi atau bukan. “Benar itu mobilnya Jovi.” Nathan lebih mendekat kemudian mengecek nopol mobil yang dia hafal.
“Kebetulan sekali bertemu di sini. Tapi dia mau ke mana ?” Nathan berhenti di sebuah perempatan tepat di belakang sebuah mobil yang terletak diantara mobilnya dengan mobil Jovi. “Aku akan mencari tahunya.” saat Lampu hijau menyala Ia pun kembali melajukan mobilnya dengan pelan dan di mobil lain untuk mengikuti Jovi.