Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 183 Mencari Darah


__ADS_3

Nathan duduk di samping Jovi dan menatap intensi istrinya itu.


“Sayang cepatlah bangun.” Nathan menggenggam erat tangan Jovi. “jagoan kembar kita sudah lahir. Kau pasti akan senang jika melihat mereka sekarang.”


Jovi sama sekali tak merespon cerita dari Nathan. Bahkan saat pria itu mencium keningnya, Jovi juga tidak merespon sama sekali.


“Ohh... ini semua salahku meninggalkanmu sendiri di tempat parkir.” isak Nathan menyalahkan dirinya sendiri sembari menitikkan air mata dan terus memandang istrinya itu lihat pucat dan dingin tangan nya.


Nathan lantas tak mau larut dalam kesedihannya dan ia memutuskan untuk mencari darah yang sesuai dengan golongan darah Jovi daripada harus menyerah dengan keadaan selagi masih ada kesempatan.


“Ya ibu... setahu ku ibu penggolongan darah A tapi aku tidak tahu itu rhesus negatif atau positif.” di tengah kekalutannya tiba-tiba ia teringat pada ibunya.


Langsung saja Nathan mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi ibunya.


“Halo ibu...” ucapnya setelah telepon tersambung.


“Ya Nathan ada apa, nak ?” balas ibunya tumben sekali putranya menghubunginya.


“Ibu, Jovi masuk rumah sakit. Dia mengalami pendarahan juga melahirkan bayi prematur serta saat ini kondisinya kritis. Di rumah sakit sedang kehabisan golongan darah A. Apakah ibu bersedia memberikan darah ibu pada menantu mu ?” ucap Nathan menjelaskan panjang lebar berharap ibunya mau mendonorkan darahnya.

__ADS_1


Hening tak ada jawaban.


“Bagaimana ibu ?” Nathan mengulangi pertanyaannya setelah diam 2 menit menunggu jawaban.


“Nathan, dia bukan menantu ibu. Ibu sedang kurang darah cerita bisa memberikan darah.” jawabnya dengan ketus.


Nathan hanya mengelus dadanya yang terasa sesak sambil mengeluarkan nafas perlahan.


“Ibu... setidaknya apakah ibu tak ingin melihat cucu ibu, dua jagoan kecil ?”


“Ibu sedang sibuk ada acara di luar sekarang. Nanti saja kita bicara lagi. Tut.” wanita itu segera memutuskan sambungan telepon meskipun ia saat ini ada di rumah dan dalam keadaan sehat.


“Ibu...” Nathan terlihat sangat kecewa dengan perlakuan ibunya namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


Masih dalam pikiran yang semakin kalut setelah mendengar jawaban dari ibunya maka ia pun terpikirkan untuk menelepon kedua mertuanya. Karena menurutnya salah satu dari mereka pasti bergolongan darah sama dengan Jovi.


“Halo ibu... ini Nathan.” ucap dalam sambungan telepon.


“Ya nak, ada apa ?” jawab wanita itu singkat dan lebih tepatnya terkejut tiba-tiba saja menantunya menelepon dirinya.

__ADS_1


“Ibu saat ini Jovi ada di rumah sakit. Kondisinya kritis karena kehabisan darah.” Nathan menjelaskan dengan suara parau hampir menangis.


“Jovi kritis ? Apa yang terjadi padanya ?”


Nathan kemudian menceritakan detail kronologisnya pada ibu mertuanya.


“Lalu bagaimana kondisi janin dalam kandungannya ?” ibu terlihat khawatir sekali mendengar kabar tersebut.


“Bayinya lahir prematur dan sekarang masih berada di ruang NICU. Aku tidak tahu harus minta tolong lagi pada siapa bu.” ucapnya terlihat putus asa karena mungkin saja ibu mertuanya juga tak mau membantu dirinya sama seperti ibunya.


“Gologam darah Jovi A rhesus negatif bukan ?” ibu ingat apa golongan darah putrinya tersebut. “Ayah bergolongan darah sama dengan Jovi. Mungkin saja ia mau membantumu. Ibu akan mencarinya dulu.”


Ibu pun tampak tergesa-gesa dan segera memutuskan sambungan telepon. Wanita itu kemudian mencari suaminya di seisi rumah dan menemukan di dapur.


“Ayah ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak sekali.” ibu terlihat panik dan menghampiri suaminya. Ia pun segera menjelaskan kabar yang barusan didapat dari menantunya.


“Ibu...biar saja Nathan yang mencarikan darah untuk Jovi dari rumah sakit lain, pasti ada.” tolaknya dengan tegas yang membuat Ibu tampak kecewa karenanya.


Ibu keluar dengan lemas Meskipun begitu ia tak tinggal diam saja dan menelepon saudara serta temannya menanyakan pada mereka mungkin saja bergolongan darah sama dengan Jovi.

__ADS_1


“Jovi...” sedangkan ayahnya duduk termenung sambil menghela nafas berat teringat pada putrinya tersebut dengan hati yang miris meskipun ia tak mengungkapkannya kepada siapapun.


__ADS_2