Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 149 Memperkenalkan Jovi


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelahnya. Meskipun Nathan sudah membeli apartemen untuk mereka tinggali bersama, namun ia beberapa kali terlihat membawa Jovi ke rumahnya. Seperti kali ini ia membawa Jovi ke rumahnya setelah pulang kerja.


“Kakak sebentar atau lama ?” tanya Jovi saat mobil berhenti di depan rumah Nathan dan ia enggan untuk turun.


“Sebentar, tapi sebaiknya kau turun dan ikut masuk bersamaku daripada menunggu di sini.”


Jovi pun akhirnya turun setelah pria itu menarik tangannya turun dari mobil tanpa bisa menolaknya.


Jovi tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Nathan ambil untuk di bawa ke apartemen karena pria itu selama berada di sana biasanya tak pernah membahas atau mengurusi masalah kerjaan.


“Jovi kau ikut masuk apa tunggu di sini ?” Nathan berhenti sejenak saat mereka berada di ruang tamu.


“Di luar saja kak.”


Nathan mengira gadis itu sedikit marah padanya karena ia memaksanya untuk masuk tadi.


“Kau ikut bersama ku ke kamar saja.” Nathan malah mengajak gadis itu untuk masuk ke kamarnya. Ya, selama ini ia memang belum pernah menunjukkan kamarnya pada Jovi dan mungkin ini saatnya.


“Kak, aku menunggu di sini saja jika begitu.” Jovi menarik tangannya dari Nathan. “Tidak, kau harus ikut dengan ku.” tapi Nathan memaksa mengira gadis itu semakin marah padanya karena kembali menolak.

__ADS_1


Di dalam kamar Nathan, Jovi duduk diam di tempat tidur pria itu. Ia hanya mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mengamati ruangan Nathan yang super rapi, super bersih dan harum, yang membuatnya betah jika diminta berlama-lama di sana.


“Dimana dokumen itu ? Aku menaruhnya di sini tapi belum ketemu juga.” Nathan mencari berkas penting dokumen untuk bahan meeting besok di kantornya. “Ini dia.” akhirnya menemukan dokumen yang ia cari lima menit kemudian.


Nathan duduk sebentar di samping Jovi sebelum keluar dari kamar.


“Dari tadi kau diam saja, apa kau marah pada ku ?” tanya Nathan sambil mengusap lembut pipi Jovi.


Gadis itu tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya saja.


“mmm...” Nathan tiba-tiba mencium bibir Jovi dengan pintu kamar yang masih terbuka lebar.


Jovi yang terkejut melihat kedatangan bi Ijah segera mengakhiri ciuman nya dan diam seribu bahasa karena menahan malu ketangkap basah berciuman.


“Oh, terimaksih bi Ijah.” Nathan terlihat tenang seperti biasanya dan merapikan bajunya.


“Kak bagaimana ini, aku belum siap bertemu dengan ibumu.”


“Tenang saja ada aku. Ibu ku ramah. Satu lagi dia juga ingin aku menunjukkan gadis ku padanya.” balas Nathan menjelaskan.

__ADS_1


Nathan mengajak Jovi keluar dari kamarnya dan duduk di ruang tengah. Tiga menit setelahnya ibu Nathan datang.


“Nathan ibu pulang. Susah sekali bertemu denganmu akhir-akhir ini.” Dahlia berhenti di ruang tengah saat melihat putranya duduk di sana.


“Maaf ibu, sekarang aku akan meluangkan waktu untuk ibu.”


Dahlia terkejut saat melihat ada seorang gadis yang duduk di samping Nathan.


“Ibu... kebetulan sekali Ibu kemari aku juga mencari ibu. Ehm...ibu perkenalkan ini Jovi.” Nathan langsung saja mengenalkan gadisnya.


Jovi tersenyum manis di depan ibunya Nathan. Mereka kemudian mengobrol beberapa saat lamanya hingga Nathan mengakhiri pembicaraan mereka.


“Bu, maaf aku pergi dulu. Aku harus mengantar Jovi pulang dulu baru nanti kembali lagi. Ibu tunggu sebentar di sini.” Nathan berpamitan pada ibunya.


Setelah kepergian Nathan dan Jovi, Dahlia duduk diam di sofa.


“Gadis yang di bawa Nathan tadi aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana ?” gumamnya.


Dahlia mencoba ingat-ingat kembali gadis cantik yang pasti adalah kekasih Nathan, di mana dia pernah bertemu dengannya.

__ADS_1


__ADS_2