
Setelah lama mengobrol dan meluapkan isi hatinya sampai plong, Shasha merasa tenang.
“Jov sudah malam, sebaiknya kita pulang dulu.” Shasha melirik jam tangannya yang menunjukkan sudah pukul 23.00 dan tak terasa waktu berhala begitu cepat saat mereka mengobrol yang baginya terasa singkat.
“Apa kau mau aku temani di rumahmu malam ini ?” Jovi berdiri dari tempat duduknya. “Tidak, Jov aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mau mendengarkan curhatan ku. Ini sudah lebih dari cukup bagiku.” Shasha menolak tawaran temannya itu.
Mereka berdoa kemudian berjalan bersama menuju ke mobil kuning Jovi. Dan tak lama setelahnya mobil meluncur menuju ke rumah Shasha.
“Bye Jov... see ya next...” Shasha Melambaikan tangan setelah Ia turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah. “Bye, sweety.” Jovi melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah.
Di tengah jalan ia kembali memikirkan perkataan Shasha.
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa menjalin suatu hubungan baru Jika aku masih terikat suatu pernikahan dengan pria busuk itu ?” Jovi merasa ucapan Shasha benar adanya namun dia tak berdaya sama sekali. “Apa bisa aku menjalin hubungan dalam status seperti ini ? Lalu siapa yang mau menjadi hubungan dengan seseorang yang sudah bersuami seperti itu ?” ragu dan mempertanyakan dirinya sendiri. “Kecuali jika aku sudah bercerai dari Deon.” memejamkan mata karena merasa berat melihat ke belakang ke perusahaan orang tuanya.
Jovi tiba di rumah. Ia segera masuk ke kamarnya karena sudah larut.
“Kau keluyuran ke mana saja jam segini baru pulang ?” Deon keluar dari kamar saat mendengar langkah kaki melewati kamarnya. “Bukan urusan mu aku mau keluar kemana, dengan siapa jika kau tak mau aku melaporkan semua perbuatan mu ini pada ayah mertua.” Jovi berhenti kemudian membuka pintu kamar Deon. Terlihat seorang gadis yang tidur pulas di balik selimut dengan pakaian berceceran di lantai.
“Kau.... awas jika kau berani melaporkannya pada ayah.” Deon merasa kalah dan tak bisa berkutik sama sekali, ia pun kembali masuk ke kamar.
“Sungguh menyebalkan !” Jovi masuk ke kamar dan membantingnya dengan keras.
“Kak Nathan...” Jovi kembali teringat pada pria itu ia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa tak ada pesan ataupun panggilan untuknya hingga dia meletakkan kembali ponselnya ke meja lalu merebahkan dirinya di tempat tidur.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian ponsel Jovi bergetar.
“Ayo Jovi... angkat telepon ku.” terlihat Nathan yang bangun lebih awal mencoba menghubungi Jovi. “Oh...mungkin dia sedang tidur. Padahal aku hanya ingin mendengar suaranya saja.” Nathan mengulang kembali panggilannya tiga kali dan mematikannya setelah tak ada respon.
Pagi harinya Jovi bangun. Ia melihat lampu depannya berkedip.
“Siapa yang menelepon ku ?” Jovi meraih ponselnya dan memeriksanya. “Kak Nathan telepon ?” kaget sekaligus tersenyum. Ia berniat untuk menelepon balik namun ia urung kan karena sepertinya lebih baik dia menemuinya langsung saja.
Tiga jam setelahnya Jovi menuju ke kantor Nathan. Di sana dia bertemu dengan Chris.
“Permisi apakah CEO Nathan ada ? Aku ingin bertemu dengannya sebentar.” ucap Jovi di dekat ruangan Nathan. “Tuan Nathan ke Australia selama lima hari dan akan kembali besok lusa, nona.” Chris menjelaskan. “Oh, baiklah terimakasih. Nanti aku akan meneleponnya saja.” Jovi kemudian kembali ke mobilnya setelah mengetahui pria itu tak ada di kantor.
__ADS_1
Jovi mengeluarkan ponselnya. Ia mengirim pesan untuk Nathan karena ia tak mau mengganggunya.
“Ding...” nada pesan masuk ponsel Nathan. Namun pria itu sama sekali tak menyentuh ponselnya karena ia berada dalam sebuah meeting.