
“Argh...” sontak Jovi yang terkejut dan juga menahan tubuhnya agar tidak jatuh berpegangan pada leher Nathan. “Oh pria ini kenapa dia selalu menyelamatkan aku ?” Jovi menatap mata Nathan yang hangat. Dari dekat ia bisa melihat dengan jelas paras Nathan yang rupawan dengan hidung mancung dan alis hitam tegas yang memperkuat matanya yang dingin namun tajam.
“Terimakasih, tolong turunkan aku.” Jovi segera minta turun karena merasa tak enak saja pada Nathan, juga tidak nyaman seseorang menyentuh nya. “Ya, apa kau baik-baik saja ?” Nathan yang sebenarnya masih ingin lebih lama lagi membopong Jovi, terpaksa menurunkan gadis itu.
“Aku baik-baik saja.” ucap Jovi setelah Nathan menurunkan dirinya. “Ayo kita pulang.” Jovi segera berjalan kembali. “Hiss.” berhenti sejenak saat merasakan pergelangan kaki kirinya sakit.
“Ada apa ? Apa kaki mu terkilir ?” Nathan yang sudah berjalan duluan berhenti dan berpaling setelah mendengar Jovi merintih. “Tidak... tidak ada.” Jovi yang menatap pergelangan kaki kirinya menggelengkan kepala. “Tidak mungkin aku bilang kaki ku terkilir. Jika aku bilang padanya, aku khawatir dia akan kembali menggendong ku.” Jovi kembali melangkahkan kakinya dan berusaha berjalan dengan normal meskipun ia menahan rasa sakit.
Jovi sedari dulu memang selalu menjaga jarak dari seorang pria. Entah apa sebabnya gadis itu tidak terlalu suka berdekatan dengan seseorang berjenis kelamin pria, apalagi melakukan sentuhan atau kontak fisik dengan mereka yang membuat tubuhnya merinding. Karena hal itulah ia tipe yang merupakan sulit jatuh cinta pada seorang lelaki. Bahkan beberapa orang sempat menganggapnya lesbi karena kebanyakan temannya seorang wanita.
__ADS_1
Jovi dan Nathan duduk di mobil dan tak lama setelahnya mobil meluncur keluar dari area taman bunga menuju ke kawasan cempaka.
“Oh ada apa ini ?” mobil yang mereka naiki tiba-tiba berhenti di tengah jalan. “Bensin masih penuh.” Nathan melihat bensinnya masih banyak karena memang ia baru mengisi bahan bakar tadi siang.
“Jovi kau tunggu sebentar di sini.” Nathan menatap gadis yang duduk di sampingnya setelah membuka pintu mobil. “Aku akan mengeceknya dulu dan tak akan lama.” keluar dari mobil dan menutup kembali pintunya.
Ia kemudian membuka kap mobil untuk memeriksa apa ada korsleting, atau kabel yang putus, atau lainnya yang membuat mobilnya ngadat.
“Ada apa sebenarnya kenapa dia belum masuk juga ke mobil ?” Jovi yang sudah menunggu selama 20 menit lebih menatap Nathan yang terlihat termenung.
__ADS_1
“Jovi, aku butuh waktu sedikit lagi. Ada masalah pada yang belum kutemukan. Kau tunggu sebentar lagi.” Nathan kembali membuka pintu dan memberitahu Jovi kondisi mobil saat ini. “Biar aku periksa saja. Tapi aku butuh bantuan untuk menerangi saat memeriksanya.” Jovi menawarkan diri untuk membantu.
Nathan sempat tertekan mendengar perkataan dari Jovi.
“Kau mengerti mesin mobil ?” balas Nathan Jovi yang terlihat tak percaya. Namun gadis itu tidak menjawabnya dan hanya tersenyum tipis saja.
Jovi turun dari mobil dengan pelan sambil menahan kaki kirinya yang terkilir. Ia pun berjalan sedikit tertatih menuju ke kap mobil.
“Tolong nyalakan senter.” ucap Jovi setelah membuka kap mobil. “Ya baiklah.” Nathan mengeluarkan ponsel dari toko bajunya kemudian menyalakan aplikasi center di sana dan mulai menerangi mesin mobilnya.
__ADS_1
“Ada selang yang tersumbat dan ini harus dibersihkan.” Jovi memeriksa semua mesin dan kabel yang ada di sana hingga akhirnya ia menemukan selang bensinnya tersumbat.
“Hey, apa kau akan menghisap nya ?” Nathan mencoba menghentikan Jovi saat melihat gadis itu akan membawa selang ke arah bibirnya. “Biar aku saja yang melakukannya.” Nathan mengambil selang itu dari tangan Jovi.