Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 174 Meminta Restu


__ADS_3

Selesai memilih gaun, Nathan dan Jovi pulang. “Kau ingin ke mana lagi setelah ini ?” tanya Nathan di tengah perjalanan sebelum sampai ke apartemen.


Jovi yang merasa lelah merasa segera ingin berada di rumah meskipun ia terpikirkan pada kedua orang tuanya.


“Bagaimana kabar ibu dan ayah ?” ia tampak melamun dan tak mendengarkan ucapan Nathan.


Ya sejak Jovi mengaku mengandung anak Nathan, sejak itu pula ayahnya tak pernah menemui dirinya termasuk di kantor. Setelah pertemuan terakhir mereka di rumah sakit, Samuel hanya sebentar saja ke kantor dan itu pun hanya kalau kondisinya urgent sekali. Tak hanya itu saja, pria itu bahkan melarang keras istrinya untuk bertemu Jovi.


“Jovi apa ada yang kau pikirkan ?” tanya Nathan melihat raut muka Jovi yang sedih.


“Ah... tidak ada kak.” tepis Jovi dan segera merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum karena tak ingin membebani pikiran Nathan.


“Mungkin kau tak mau cerita padaku karena tak ingin menambah pikiran ku. Aku janji pada mu akan membahagiakan diri mu.” Nathan tak melanjutkan pertanyaannya lagi karena ia terus menjaga perasaan Jovi selama dia hamil sampai nanti melahirkan.


“Kita pulang saja jika begitu.”


“Ya, kak sebenarnya kaki ku sedikit pegal.” jawab Jovi menanggapi.


Nathan mengemudikan mobilnya langsung menuju ke apartemen.

__ADS_1


“Hari-hati turunnya.” selama kehamilan Jovi, Nathan lebih protektif pada kekasihnya itu karena ia tak mau sampai terjadi apa-apa pada Jovi dan juga buah hatinya.


Nathan membuka dan pintu untuk Jovi dan menggendongnya. “Kak kenapa menggendong ku ? Aku bisa jalan sendiri ?”


“Bukankah tadi kau bilang kakimu pegal ? Pegangan yang erat karena aku merasa kau semakin berat.” gurau Nathan hanya ingin membuat Jovi tersenyum.


Jovi mengalungkan tangannya ke leher Nathan dan mencium bibir lelakinya itu.


Dua jam kemudian terlihat Nathan dan Jovi sudah rapi dan juga harum. Mereka duduk di sofa dengan Jovi bersandar pada pada bidang Nathan. Sedangkan Nathan memeluknya dari belakang sambil mengusap lembut perut Jovi.


“Sayang aku sudah menemukan tanggal yang cantik untuk pernikahan kita.” bisik Nathan di telinga Jovi.


“Kapan tanggal cantik itu ?”


“Apa itu tidak terlalu dekat ?” Jovi merasa tanggal pernikahan mereka terlalu dekat karena mereka belum melakukan persiapan lainnya.


“Tidak jika semuanya terserah kan pada wedding organizer.”


“Lalu kak apakah kita akan mengundang semua temanmu juga temanku ?” tanya Jovi membuat Nathan terdiam.

__ADS_1


Pria itu bingung dan takut salah bicara mengungkapkannya. Ia ingin acara pernikahan mereka tertutup dan hanya dihadiri oleh sanak keluarga serta teman dekat saja mengingat ia tak yakin apakah ibunya aku merestui pernikahan mereka.


“Jovi untuk kali ini aku ingin pernikahan kita di lakukan secara tertutup saja untuk mengantisipasi berita buruk mengenai kita. Aku tak ingin itu memberatkan pikiran dan akan berpengaruh pada janin dalam kandungan mu.” jelas Nathan panjang kali lebar menyebutkan satu alasan lainnya.


“Ya kak sepertinya itu lebih tidak beresiko tapi meskipun tertutup Aku ingin orang tuaku hadir diberikan kita.”


Nathan merasa lega ternyata Jovi menyetujuinya dan tak punya pikiran buruk padanya.


“Ya setelah ini kita akan ke rumah orang tuamu dan bicara pada mereka, juga pada ibuku.”


Malam harinya Nathan dan Jovi pergi menemui kedua orang Jovi terlebih dulu.


“Ding-dong.”? Nathan segera menekan tombol bel rumah Jovi begitu mereka tiba di sana.


Tak lama kemudian pintu terbuka. “Jovi... ?” panggil ibunya Jovi melihat kedatangan putrinya. “Ada nak Nathan juga rupanya mari masuk.”


“Terimakasih tante.” jawab Nathan kemudian masuk ke rumah bersama Jovi.


“Sudah lama sekali ibu tak bertemu denganmu. Bagaimana kabar cucu ibu ?” tatapan ibunya Jovi tertuju pada perut Jovi yang sedikit membuncit.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja bu. Kami kemari ingin bicara dengan ayah.” jawab Jovi to the point.


kebetulan saat itu ayah sedang keluar dari sebuah ruangan dan melewati ruang tamu dan langsung berhenti begitu mendengar suara Jovi.


__ADS_2