
Nathan saat ini tak bisa menghentikan dirinya yang sedang bergejolak dan meluap. Pria itu ingin membuktikan dan memenuhi kodratnya sebagai lelaki sempurna.
“Aku ingin mengetes apakah aku benar-benar impoten atau tidak.” Nathan terus bergerak aktif dengan lembut menjamah setiap tubuh Jovi. Tanpa mereka sadari tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka.
“Kak... aku-aku tidak siap.” tubuh Jovi bergetar hebat karena baru pertama kali ini ada seorang pria yang menyentuhnya. Tapi Nathan tak menghiraukan itu karena ia sudah tak bisa mengendalikan dirinya.
“Aku akan bersikap lembut padamu.” Nathan seketika mencium bibir Jovi dan melanjutkan aksinya meskipun dia bisa merasakan tubuh tapi yang gemetar.
“Aah...” Jovi mendesah saat Nathan berhasil membenamkan tubuhnya dalam-dalam. “Ternyata aku adalah lelaki normal, sehat dan tidak impoten.” Nathan merasa lega bisa melepas kejantanannya tanpa kendala.
“Sakiit...” Jovi sambil menangis karena merasakan sakit yang teramat luar biasa.
Nathan berhenti sebentar dan terkejut saat melihat ada noda darah di kasur.
“Jovi... apakah aku yang pertama menyentuh mu ?” Nathan tak menyangka saja jika Jovi masihlah virgin. “Aah... ya kak.” jawabnya sambil mendesah.
Nathan terlihat semakin senang karena dialah yang pertama yang sudah menyentuh Jovi, bukannya Deon.
“Rileks... jangan tegang agar kau tak merasakan sakit. Percayalah padaku.” Nathan mengusap air mata Jovi sambil mencium bibirnya.
__ADS_1
Jovi mencoba untuk tenang seperti yang Nathan ucapkan. Dan kali ini rasa sakit yang ia rasakan tadi berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa.
“Aaah... kak...” Jovi kembali mendesah pelan sambil memeluk Nathan dengan erat.
Satu jam kemudian Nathan berbaring di samping Jovi dan memeluknya.
“Terimakasih Jovi.” Nathan memeluk gadis itu yang terlihat lelah dan tertidur sambil mengecup dahinya.
Mereka berdua kemudian tertidur dalam satu selimut.
Pagi harinya
“Aku tak percaya ini, aku sudah menyerahkan mahkota padanya.” Jovi melihat banyak tanda merah di sekujur tubuhnya. Ia pun kemudian meninggalkan Nathan yang masih tiduran dan masuk ke kamar mandi.
Splash
Suara sahur dari kamar mandi membangunkan Nathan dari tidurnya.
“Jovi, ke mana dia ?” Nathan duduk dan mendapati gadis itu sudah tak ada di sampingnya. “Apa dia sedang mandi ?” bangkit dari tempat tidur kemudian menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Ternyata Jovi hanya menutup saja pintu kamar mandi dan tidak menguncinya sehingga memudahkan Nathan untuk masuk.
“Kakak...” Jovi berbalik dan terkejut saat melihat pria itu masuk. “Aku ingin mandi bersamamu.” Nathan ikut membasahi dirinya di bawah shower.
“Emm...” Nathan kembali mencium bibir Jovi dan Jovi pun menyambutnya. Tak lama setelahnya terulang kejadian semalam. “Ahh....” Jovi mendesah dalam pelukan Nathan.
Beberapa saat kemudian terlihat mereka berdua sudah duduk di kursi dan juga berpakaian rapi. Seorang waiter datang ke sana untuk mengantar sarapan pagi yang Nathan pesan.
“Setelah ini aku ada meeting dan kemungkinan baru makan selesai siang hari.” Nathan menjelaskan tentang jadwal meetingnya sambil menikmati sarapan pagi mereka. “Apa aku boleh ikut dan menemanimu ?” Jovi tak ingin jauh dari pria itu setelah kejadian barusan.
“Tidak... kau tunggu di sini sampai aku kembali.”
Jovi hanya diam saja dan tak berkata apapun karena merasa kecewa tak bisa menemani pria itu meeting.
“Aku akan memberikan hadiah untukmu nanti.” Nathan menaruh garpu yang ia pegang lalu mencium kening Jovi untuk meyakinkan dan menenangkan gadis itu. “Ya, baiklah kak. Cepatlah kembali dan jangan pergi dengan wanita lain.”
“Tidak... sudah ada kau. Tak ada wanita yang bisa menggoda diriku selain dirimu.”
Sepuluh menit setelahnya pria itu keluar dari kamar dan menuju ke ruang meeting meninggalkan Jovi seorang diri di kamar.
__ADS_1