
Nathan menatap Jovi pernah berbicara dengan seperti ia tak boleh mendengarnya.
“Jov... siapa yang menelepon mu ?” tanya Nathan langsung tanpa basa-basi. “Ohh... ini-ini telepon dari teman dekatku kak.” jawab Jovi sambil menjauhkan ponsel dari bibirnya dan menutup dengan tangannya agar percakapannya dengan Nathan tak terdengar oleh Shasha.
“Sha... sudah dulu ya nanti kita sambung lagi aku kasih repot sekarang.” Jovi menaruh kembali ponsel di dekat bibirnya dan mengakhiri pembicaraan mereka.
“Tunggu Jovi.” Shasha masih ingin bicara dengannya. “tuut... Tuut...” Shasha pun terlihat kesal dan menghembuskan nafas berat lalu memasukkan kembali dalam tas.
Gadis itu pun segera memesan menu makan siang daripada memikirkan Jovi karena perutnya sudah tak bisa diajak kompromi lagi.
“Apakah yang Jovi maksud adalah sahabatnya wanita yang terlihat seperti pasangan lesbi ?” Nathan hanya menebaknya saja dan tak melanjutkan pertanyaannya karena hal itu tak perlu ia khawatirkan sama sekali karena tak akan mengganggu hubungannya dengan Jovi.
Beberapa saat kemudian mobil Nathan berhenti tepat di kantor Jovi.
__ADS_1
“Kak... terimakasih sudah melempar dan menyentuh untuk makan siang.” Jovi mengambil tas dan bersiap untuk turun dari mobil. “Tunggu, Jovi.” Nathan menarik tangan kanan gadis itu mendekat ke arahnya.
“Ya, kak ?” Jovi berhenti bergerak dan menatap wajah Nathan yang sangat dekat dengan wajahnya. Ia berpikir pria itu akan kembali mencium dahinya tapi Ternyata apa yang dilakukan Nathan membuatnya terkejut.
“mmm...” Nathan mencium bibir merah Jovi di mana sudah lama sekali pria itu ingin merasakan kehalusan dan kelembutan bibir Jovi. “mmm...” Jovi yang awalnya malu-malu dan membuka matanya masih menatap Nathan, kemudian memejamkan matanya dan membalas ciuman Nathan yang terasa hangat.
“Aku kembali dulu, kak.” ucap Jovi setelah ciuman mereka berakhir sambil memegang bibirnya. “Kabari aku jika kau sudah masuk ke ruangan mu.” Nathan tersenyum lebar menatap Jovi yang membuka pintu mobil.
“Ya, kak.” jawab Jovi dengan wajah bertemu merah sambil menutup kembali pintu mobil.
“Jovi aku sudah selangkah mendapatkan mu. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan benar-benar mendapatkan dirimu seutuhnya.” Nathan menyentuh bibirnya dimana masih terasa bibir merah Jovi yang tadi ******* bibirnya.
Jovi sampai di ruangannya dan duduk di kursinya. Gadis itu duduk termangu ingat apa yang barusan ia lakukan dengan Nathan.
__ADS_1
“Kenapa aku selalu tak bisa menolak permintaan Kak Nathan ?” Jovi terlihat melamun dengan pipi yang bersemu merah dan dia terus terpikirkan pada pria itu selama berada di kantor.
Sore hari
Jovi kembali pulang seperti biasa ke rumah. Baru saja ia selesai mandi dan berganti baju ponselnya berdering.
“Jov... aku ada di depan rumahmu sekarang. Kau keluarlah dan temani aku menghabiskan waktu.” ucap seseorang di telepon.
“Sha... kapan kau datang ?” Jovi menaruh handuk basahnya dan menyampirkannya ke kursi. “Ahh... ya tunggu sebentar aku akan ke sana.”
Jovi berjalan keluar rumah dan membuka pintu pagar.
“Ayo masuklah.” Shasha menurunkan kacamatanya menatap Jovi yang ada di dekat pintu mobilnya. “klak.” untuk sahabatnya itu Jovi tak pernah ada kata lelah apalagi setelah beberapa waktu yang lalu Shasha mencoba untuk bunuh diri yang membuatnya tak bisa menolak ajakannya meskipun ia tiket lelah sebenarnya setelah bekerja.
__ADS_1
“Kita akan menyenangkan diri kali ini.” Shasha kembali menoleh menatap Jovi yang sudah duduk di sampingnya. “Bersenang-senang apa maksud mu ? Dimana ?” Jovi tidak mengerti apa yang dimaksud oleh temannya itu.
Shasha hanya tersenyum kecil saja kemudian segera melajukan mobilnya keluar dari kawasan Cempaka.