Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 54 Meluapkan Emosi


__ADS_3

Pagi hari Jovi bangun dan keluar dari kamarnya. Ia sebenarnya tak ingin melihat ke kamar yang ada di sebelahnya namun tanpa sengaja ia pun melihatnya juga.


“Hiss... benar-benar menjijikkan !” Jovi tak sengaja melihat pintu kamar sebelah yang terbuka lebar terkena hembusan angin saat ia melewatinya dan terlihat Deon dan sugar baby nya yang masih tertidur pulas dengan pakaian yang berserakan di lantai dan juga peralatan bersenang-senang lainnya yang mereka gunakan selama di ranjang. “Kau benar-benar gila !” Jovi segera mengalihkan pandangannya karena merasa miris melihatnya dan dalam hati bersyukur pria itu tidak menyentuhnya sama sekali karena sudah pasti ya pasti tak tahan diperlakukan kasar oleh Deon seperti itu.


“Sebaiknya aku pergi sebelum mereka berdua bangun dan kembali menyuruhku seperti beberapa waktu yang lalu.” Jovi segera masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi dari sana setelah teringat beberapa waktu yang lalu suaminya itu memperlakukan dirinya seperti pembantu dan lebih memihak pada sugar baby-nya ketimbang dirinya.


Lima 11 menit kemudian Jovi keluar dari kamar mandi dan masuk kamarnya. Ia pun menutup mata saat melewati gambar di sebelahnya yang masih terbuka lebar dan penghuninya masih belum bangun.


“Aku akan memberi kalian berdua waktu untuk bersenang-senang sepuasnya.” Jovi berjalan dengan cepat keluar dari sana sambil membawa kunci mobil barunya.

__ADS_1


“Broom....” gadis itu pun sudah berada di mobil dan melaju di jalanan keluar dari villa Cempaka. Kali ini ia sengaja tidak menelepon maupun mengajak Shasha untuk menemaninya keluar.


“Aku ingin sendiri saja.” meskipun terlihat kuat, namun hati Jovi terasa teriris saat melihat penghianatan Deon yang dilakukan di depan matanya berulang kali dan setiap hari, meskipun ia sama sekali tak menaruh rasa pada pria itu.


Jovi mengemudi di jalanan tanpa tujuan hingga akhirnya dia berhenti di sebuah danau yang ada di ujung kota.


Jovi tertunduk sambil memegang kepalanya.


“Deon... aku yakin aku akan bisa membalas mu cepat atau lambat.” Jovi yang masih tak puas meluapkan amarahnya berdiri dan berhenti di depan sebuah pohon pisang yang ada di sisi lain danau. “buk-bak-buk.” Ia pun mengepalkan tangannya dan memukul batang pohon pisang di depannya dengan bertubi-tubi, mengumpamakan batang pohon itu sebagai Deon dan meluapkan semua kesalahannya di sana.

__ADS_1


“Kraaak.” Jovi yang pernah mengikuti kelas karate walaupun sebentar, baru berhenti melayangkan pukulannya setelah batang pohon pisang yang ia jadikan samsak itu roboh.


“Haaah.... haah...” Jovi mengatur nafasnya yang tidak beraturan dan mencoba untuk menenangkan dirinya kembali. Ia pun duduk kembali dan merebahkan dirinya di atas rumputan di tepi danau dan menatap lepas ke langit.


“Sebaiknya aku pulang.” Jovi merasakan air hujan mulai turun menetes dan membasahi mukanya.


Ia bangkit kemudian berjalan menuju ke mobil dan tak lama setelahnya segera mengemudikannya kembali ke rumah.


“Rasanya lega bisa meluapkan semua emosiku.” Jovi tersenyum tipis di tengah jalan menuju ke Villa setelah dirinya benar-benar stabil dan tenang kembali.

__ADS_1


__ADS_2