
“Aku mau mengambil kontrak kerjasama kita.” Nathan menjawab demikian karena ia menduga Jovi tak ingin orang lain termasuk sekretarisnya mencuri dengar ataupun mengetahui urusan mereka.
“Ya, silahkan duduk dulu, CEO.” Jovi mempersilahkan Nathan untuk duduk di sofa empuk dalam ruangannya. “Rani, Tolong bawakan minuman untuk CEO.” beralih menetap sekretarisnya dan memintanya membuatkan minuman.
“Oh tak perlu, sungguh aku hanya akan sebentar saja di sini.” Nathan menolak dan menatap Rani. “Baiklah jika begitu jika memang tak ingin minum, aku permisi dulu.” Rani berpamitan dan segera pergi dari sana.
Setelah Rani pergi Jovi menutup pintu ruangan dan barulah mereka bisa mengobrol seperti biasanya.
“Kak mengenai dokumen perjanjian kerjasama kita aku belum membubuhkan tanda tangan ku di sana.” Jovi menjelaskan dan berkata dengan jujur. “Ya, mengenai hal itu sebenarnya tak perlu terburu-buru.” Nathan menanggapinya dengan santai. Malah jika semakin lama dia akan semakin senang karena itu bisa ia jadikan alasan untuk sering bertemu dengan Jovi.
“Tunggu sebentar kak aku akan mengambilnya.” Jovi berdiri dan mengambil dokumen perjanjian kerjasama mereka meskipun Nathan bilang tak perlu menyerahkannya sekarang. “Ini kak.” tak ada waktu baginya untuk membaca semua ketentuan dan persyaratan kerja sama mereka.
__ADS_1
Jovi hanya membalik halamannya sampai halaman terakhir kemudian membubuhkan tanda tangannya tanpa membacanya.
“Ini kak, maaf baru ku serahkan sekarang.” Jovi menyerahkan dokumen perjanjian itu pada Nathan. “Ya, aku akan menyimpannya.” Nathan menerimanya dengan berat hati terlihat dengan senyum di wajahnya yang dipaksakan.
Jovi kembali duduk di kursinya dan ia tiba-tiba teringat pada kunci Nathan yang di bawanya.
“Pasti kakak ke sini juga untuk mengambil kunci, bukan ?” Jovi kembali berdiri dan mengambil kunci Nathan yang ia taruh di rak khusus.
“Argh.... !” Malang bagi Jovi saat ia kembali dan bermaksud menyerahkan kunci yang dibawanya pada Nathan, ia tak tahu jika ada pen yang jatuh ke lantai tepat di depan Nathan dan membaca tergelincir saat menginjak nya.
“Kak... maaf... aku tak sengaja.” Jovi berusaha olahan keseimbangan tadi dan tak sengaja mengalungkan tangannya ke leher pria itu.
__ADS_1
“Tak apa Jovi.” kedua mata mereka kembali beradu pandang untuk beberapa detik.
“Krak...” tiba-tiba seseorang membuka pintu dan melihat ke arah dalam. “Astaga...” pekik Rani terkejut saat melihat Jovi duduk di pangkuan Nathan. “Oh maaf nona, aku hanya ingin menanyakan sesuatu pada anda. Tapi itu bisa aku tanyakan lagi nanti.” Rani segera keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintunya.
“Jadi... nona... dia apakah ada affair dengan tuan Nathan ?” Rani berpikiran negatif setelah melihat tadi. “Oh sudahlah itu bukan urusanku.” pergi berlalu dan masuk ke ruangannya.
“Oh... Rani pasti salah paham.” Jovi menetap ke arah pintu yang sudah tertutup. “Oh...” Jovi pun segera turun dari pangkuan Nathan kemudian mengambil kunci yang jatuh.
“Kak, ini kunci mu.” Jovi menyerahkan kunci pada Nathan dan terlihat sedikit malu. “Ya...” Nathan menerima kunci itu dan segera menyimpannya.
“Jovi... apa kau sudah makan siang ?” Nathan bertanya karena ia masih ingin bersama gadis itu.
__ADS_1
Jovi menggelengkan kepalanya pelan.
“Jika begitu temani aku keluar makan siang.” Nathan langsung mengungkapkan maksudnya. “Tapi aku...” Jovi berusaha menolak. “Tak akan ada menu ikan untuk mu.” Nathan meyakinkan Jovi setelah kejadian semalam dan hal itu tak akan terulang lagi.