
Jovi duduk sambil memegang credit card unlimited pemberian ayah mertuanya.
“Oh lumayan... dengan kartu ini aku bisa membeli apapun yang ku mau. itung-itung sebagai ganti sikap anaknya yang sangat luar biasa menyebalkan sekali.” Jovi tersenyum menatap kartu kredit itu sambil melirik Deon. “Masa bodoh Deon mau membawa berapa banyak gadis kemari, yang penting aku bisa menyenangkan diriku sendiri dengan selembar kartu ini.” tersenyum dalam hati penuh kemenangan.
“Dasar ular, puas kau sekarang bisa mendapatkan perhatian dari ayah ? Jangan sampai kau meminta perhatian lebih dari ayah dan menuntut macam-macam.” Deon hanya bisa menatap Jovi dan menahan kesal.
“Hoahem...” ibunya Deon terlihat menguap sambil menutup bibirnya.
“Ibu mengantuk ? Aku akan temani ibu ke kamar.” Jovi menawarkan diri pada Ibu mertuanya. “Sebaiknya kalian berdua istirahat dulu.” ayah ikut menimpali sambil menatap dua wanita itu bergantian. “Ya, ayah.” jawab dua wanita itu bersamaan kemudian berdiri. “Nanti aku akan menyusul. Sekarang aku masih ingin bicara dengan Deon.” lanjut ayah menjelaskan.
Jovi dan ibu mertua kemudian berjalan meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam.
__ADS_1
“Ibu mau ku temani dulu sampai ayah kembali atau gimana ?” Jovi mengantar Ibu mertuanya sampai ke kamar yang berada jauh dari kamarnya yang masih ke dalam lagi. “Terima kasih Jovi, tapi ibu benar-benar mengantuk dan ingin tidur.” duduk di tempat tidur dan menatap Jovi yang duduk di sampingnya.
“Baiklah jika begitu Ibu istirahat saja aku akan kembali ke kamarku.” Jovi berdiri dan berpamitan kemudian keluar dari kamar, menutup kembali pintunya.
Jovi kembali ke kamarnya. Di sana ia tersenyum lebar dan segera mengambil dompetnya kemudian memasukkan kredit card yang didapatkannya dari ayah mertuanya.
Sementara di ruang tamu terlihat dua lelaki itu masih mengobrol.
“Ya, ayah.” jawab Deon singkat tak bisa berkutik jika ia dihadapkan dengan ayahnya. Karena memang sedari dulu ayahnya itu otoriter juga keras sehingga tak ada satupun yang berani melawan perintahnya dalam keluarganya atau akan mendapatkan hukuman berat darinya.
“Ayah harap kau dan Jovi akan segera memberi aku dan ibu mu cucu.” pria itu menambahkan. “Ya ayah. Kami masih berusaha.” jawabnya dengan berkeringat dingin.
__ADS_1
Keesokan paginya Jovi bangun dengan semangat, bahkan ia membuatkan sarapan pagi untuk ayah dan ibu mertuanya.
“Ayah, Ibu ini aku buatkan sarapan pagi untuk kalian.” Jovi menghidangkan nasi goreng ke meja lengkap dengan jus jambu. “Tapi maaf jika rasanya tidak seenak di cafe atau restoran.” tambahnya ikut duduk di tengah mereka.
“Hmm... rasanya lumayan, tidak buruk Jovi.” ibu mertuanya memberikan komentar setelah memakannya. “Deon ibu suka dengan masakan istrimu.” menatap Deon yang belum menyantap sarapan paginya.
“Aku harap kalian berdua segera pulang karena terus-menerus memihak Jovi bukannya padaku yang putra kandung kalian sendiri.” Deon merasa enek melihat tingkah laku Jovi yang berusaha mengambil perhatian orang tuanya. Ia pun tak menjawab dan terpaksa memakan masakan dari Jovi yang juga baru pertama kali ia rasakan.
Dua jam kemudian ayah dan ibu terlihat rapi dan membawa tas mereka masing-masing.
“Ayah dan ibu mau kemana ?” tanya Jovi menatap mereka seolah bersiap-siap akan pergi. “Kami berdua mau pulang. Ku rasa kami sudah cukup berada di sini. Jika lama-lama di sini, maka takut akan mengganggu waktu kalian berdua.” Ibu menjawab sambil tersenyum kecil. “Ya, lalu bagaimana kami akan segera punya cucu ?” ayah mengedipkan matanya kemudian segera berjalan pergi dari sana menggandeng istrinya.
__ADS_1
Deon terlihat senang sekali orang tuanya sudah pergi dari rumahnya sedangkan Jovi terlihat kecewa kenapa mereka cepat sekali pergi dari sana.