Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 55 Telepon Pertama


__ADS_3

Ternyata di tengah jalan Jovi menghentikan mobilnya kembali dan berhenti di sebuah swalayan di tengah rintik hujan.


“Aku akan mampir sebentar ke sini.” Jovi turun dari mobil kemudian masuk ke swalayan. Ia terus berjalan dan baru berhenti di sebuah outlet fast food. “Tolong dua fried potato dan dua cokelat panas.” Jovi memesan kudapan dan minuman favoritnya di saat ini sedang merasa gundah. Karena sudah terbukti coklat bisa meningkatkan serotonin, hormon kebahagiaan.


Ia pun duduk di pojokan sambil menunggu pesanannya datang. Ia terlihat malas untuk pulang kembali ke villa dan memutuskan untuk berhenti sejenak di sana.


“Terimakasih.” ucap Jovi saat perayaan datang mengantarkan pesanannya setelah 15 menit kemudian. “Cuaca dingin seperti ini memang enak minum minuman hangat seperti ini.” langsung meminum coklat panas yang menurutnya tidak panas.


Memang Jovi tak pernah mengungkapkan pada siapapun jika dirinya sedang dilanda stres ataupun depresi namun jika gadis itu sedang berada dalam kondisi seperti itu ia pasti akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melahap fast food yang menurutnya tidak membuatnya kenyang meskipun dia makan dalam jumlah besar.


“Hujannya sudah reda.” Jovi menatap ke arah jendela dan melihat hujan di luar sudah reda. Kebetulan hidangan di depannya juga sudah habis. “Aku pulang saja sekarang.” Jovi mengambil tasnya namun ia sekolah enggan pergi dari sana.

__ADS_1


“Tolong coklat panas dua, di bungkus.” Rupanya ia masih ingin meminum coklat panas, maka ia pun memesannya kembali. “Ini nona pesanan anda.” pelayan menyerahkan dua cup coklat panas pada Jovi. “Terimakasih.” Jovi menerimanya dan segera membayarnya.


Ia berjalan keluar dari Swalayan dan masuk ke mobil kuningnya menuju ke villa.


“Ternyata aku sudah lama berada di luar.” Jovi melirik jam yang melingkar di tangannya yang ternyata menunjukkan jika dirinya sudah 8 jam keluar dari rumah hingga malam seperti ini.


Di rumah, Deon terlihat sudah duduk dengan seorang gadis dan tentunya berbeda dari semalam sebelumnya di ruang tamu. Ia duduk di sana sambil menunggu kedatangan Jovi.


“klak.” Jovi tiba di rumah. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju ke ruang tamu. “Suara apa itu ?” perasaannya tidak enak saat mendengar suara yang biasa di dengarnya setiap malam.


“Astaga... !” Jovi terperanjat kaget begitu membuka pintu ruang tamu dan melihat Deon bersama seorang gadis dan menggendong nya di depan tubuhnya merapat ke dinding sambil terus bergerak yang membuat gadis itu terus mendesah merasakan kenikmatan yang tiada. “Deon ! Dan kau... kalian keterlaluan ! Kalian binatang dan bertindak terlalu berani.” Jovi yang barusan merasakan ketenangan mendadak kembali marah bahkan lebih marah daripada sebelumnya.

__ADS_1


“Jovi apa kau mau bergabung ? Duduklah di sana, dan tunggu aku menyelesaikan yang ini.” Deon terus bergoyang sambil menoleh ke arah Jovi.


Jovi benar-benar merasa amarahnya memuncak dan tak bisa membendungnya lagi melihat mendengar hinaan dari Deon.


“cuuur... !” reflek ia pun menyeramkan Dua coklat panas yang dipegangnya ke tubuh Deon dan gadisnya. “Argh...” teriak Deon dan gadis itu bersamaan saat merasakan panas dan lengket di kepala mereka.


Jovi pun segera berlari keluar dan masuk ke mobil. Ia kembali meluncur di jalanan tanpa tujuan yang jelas.


“Aku butuh seseorang untuk aku ajak bicara.” Jovi merasa benar-benar butuh seseorang saat ini. “Apa aku telepon dia saja.” tiba-tiba ia terpikirkan pada Nathan.


Tanpa panjang pikir lagi, ia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Nathan.

__ADS_1


__ADS_2