
Beberapa hari berlalu akhirnya kabar tentang gugatan cerai Jovi pun terdengar sampai ke telinga Sanjaya, ayahnya Deon.
Pria itu sedang berada di rumah dan duduk bersantai dengan setumpuk koran di dekatnya.
“Apa yang sebenarnya Deon lakukan hingga Jovi minta cerai darinya ?” Sanjaya melipat korannya karena merasa tidak tenang setelah mendengar selentingan kabar yang beredar akhir-akhir ini dan ia berharap kabar angin itu tidak benar.
“Sebaiknya katanya saja sama mereka berdua langsung ayah.” celetuk ibu yang duduk di sebelah ayahnya Deon itu setelah mengganti bunga segar di vas bunga yang ada di meja.
“Hmmh... ya baiklah nanti malam saja kita ke sana.” jawab pria itu singkat.
Malam harinya, Sanjaya bersama istri bertandang ke rumah putranya sendiri guna mengecek kebenaran informasi perceraian Deon dengan Jovi.
“klak.” dari dalam Deon mendengar suara pintu rumah dibuka oleh seseorang.
“Apakah itu Jovi ? Buat apa dia pulang ?” Deon dari sebuah kamar yang berada di dekat ruang tamu segera keluar begitu mendengar ada suara seseorang masuk.
__ADS_1
“Ayah... ibu... kenapa kalian datang tidak bilang-bilang dulu ?” Deon sekejap melihat kedatangan mereka berdua. Terang saja saat ini dia sedang bersama Nadia di rumah.
“Apa menurutmu kami harus bilang dulu jika mau menemui putra kami sendiri ?” timpal Ayah menatap tajam Deon. “Tidak ayah.” Deon tak berani berkata-kata lagi karena salah ucap dan membuat ayahnya itu marah padanya.
“Dimana Jovi ?” tanya pria itu tiba-tiba. “Jangan ke sana ayah.” Deon segera mengejar ayahnya yang sudah berjalan menuju ke kamar Jovi.
“Celaka.... semoga saja Ayah tidak membuka kamarnya.” Deon terlihat ketar-ketir dan berusaha menghentikan ayahnya namun rupanya semuanya sudah terlambat.
“klak.” Sanjaya membuka pintu kamar Jovi dan Deon hanya bisa menetupkan kedua telapak tangannya ke mukanya.
“Om... tante...” sapa wanita itu dari dalam kamar sambil tersenyum kecil menatap kedua orang tua Deon.
“klak.” Sanjaya sama sekali tak meresponnya dan malah menutup kembali pintu kamar itu dengan keras.
Tatapannya beralih pada Deon.
__ADS_1
“Jangan bilang wanita itu hamil dengan mu !” bentak Sanjaya menatap dengan penuh amarah hingga membuat Deon menutup kedua telinganya dengan rapat karena suara ayahnya yang menggelegar bagai petir. “Jelaskan pada ku ! Jadi kau benar bercerai dengan Jovi ?!”
“Ayah aku bisa jelaskan semuanya. Sebaiknya kita bicara di depan saja.” jawab Deon dengan terbata-bata.
Mereka bertiga kemudian kembali ke ruang tengah dan duduk bersama membahas semuanya.
“Deon kau memang sudah keterlaluan !” teriak Sanjaya lagi lebih keras hingga istrinya yang ada di sebelahnya ikut menutup telinganya sama seperti Deon.
“Asal kau tahu saja aku tak mau mempunyai cucu dari wanita tidak jelas seperti itu. Kau urusi wanita itu.” Sanjaya dengan mata melotot menunjuk ke arah belakang ke kamar Jovi.
Deon hanya mengangguk saja menanggapi perkataan ayahnya yang masih marah.
“Kami sudah mencarikan seorang istri yang baik untukmu tapi kau sendiri yang membuatnya pergi meninggalkanmu. Setelah ini kau introspeksi dirimu. Jika aku sampai melihatmu lagi bermain dengan banyak wanita apalagi sampai hamil seperti wanita tadi, lebih baik kami tak mempunyai anak sepertimu.” Sanjaya berdiri dari tempat duduknya setelah puas meluapkan semua emosinya.
“Bu kenapa masih duduk ? Kita pulang sekarang.” Sanjaya terbalik dan menarik tangan istrinya yang seolah enggan pulang dari sana.
__ADS_1
“Tidak ayah....jangan usir aku dari keluarga. Aku berjanji tidak akan main-main wanita lagi.” ucap Deon dengan memohon namun Sanjaya hanya menatapnya saja dan berlalu meninggalkan putranya.