
Keesokan harinya di pagi hari Nathan mengantar Jovi ke kantor. Ia tak mengizinkan gadis itu berangkat sendirian kesana karena dokter bilang sebenarnya Jovi masih harus beristirahat selama beberapa hari lagi selama di rumah.
“Jika ada apa-apa telepon aku segera.” Nathan menurunkan Jovi di depan kantor. “Ya, kak.”
Jovi berjalan dengan pelan masuk ke kantornya setelah kepergian Nathan.
“Kenapa CEO Nathan mengantar nona Jovi kali ini.” gumam Rani yang melihat mobil pria itu memutar haluan.
“Bagaimana keadaan nona ?” tanya Rani saat berjalan di samping nona nya untuk menuju ke ruangannya.
“Ya aku sudah sehat.”
Jovi terus berjalan menuju ke ruangannya di saat Rani sudah sampai di ruangan. “Aneh sekali, kenapa nona masih terlihat pucat sekali meskipun ia bilang sudah sehat ?” masih teringat wajah pucat nonanya.
“Aku lupa belum minum vitaminnya.” ucap Jovi setelah duduk di kursi ruangannya. Ia kemudian mengeluarkan vitamin untuk kehamilannya dan segera meminumnya.
“Sore nanti kita akan bertemu dengan nenek mu.” Jovi menetap perutnya dan mengusapnya lembut.
Di kantor Nathan terlihat pria itu sedang melakukan percakapan dengan seseorang.
“Kenapa tidak diangkat juga ?” Nathan mengulangi kembali panggilannya hingga diangkat.
__ADS_1
“Ya, nak ada apa kau menelepon ibu ?” jawab suara di ujung telepon.
“Ibu apa nanti sore ada waktu ? Aku ingin bertemu denganmu.”
“Ya, sebenarnya aku ada acara tapi aku akan meluangkannya untukmu.”
“Terimakasih ibu.” ucap Nathan kemudian mematikan telepon.
“Hal penting apa yang ingin dibahas Nathan dengan ku ?” Dahlia mengerutkan keningnya dan menaruh kembali ponselnya ke dalam tas lalu lanjutkan kembali kegiatannya bersama rekannya di sebuah LSM.
Sore harinya Nathan membawa Jovi ke rumahnya. Mereka Tengah duduk di ruang tamu menunggu kedatangan ibunya.
“Jangan gugup. Tenang saja, apapun yang terjadi aku akan tetap bersama mu.” Nathan mencoba meyakinkan dan mengikis rasa ragunya sendiri pada ibunya.
Satu jam berikutnya terdengar sebuah mobil memasuki rumah.
“Nathan maaf ibu terlambat karena masih ada urusan dengan teman ibu.” ucap Dahlia begitu memasuki rumah. “Apa yang mau kau bahas denganku ?” tatapannya tertuju pada Jovi yang duduk di samping putranya.
“Oh...” tanpa perlu mendengar jawaban dari Nathan, wanita itu bisa tahu apa urusan putranya.
“Mmm....ibu aku ingin membahas suatu hal yang penting dengan mu.” Nathan memulai ucapannya.
__ADS_1
Sedangkan Jovi hanya diam dan mencoba untuk tenang sebelum bicara dengan ibunya Nathan.
“Ya, Nathan katakan saja nak.” balas Dahlia singkat meskipun ia sudah tahu ke mana arah pembicaraannya.
“Ibu ini mengenai pernikahan ku yang sudah lama kau inginkan. Aku sudah menemukan calon istri untuk ku, ku harap ibu bersedia merestui hubungan kami.”
Dahlia, tak lama segera menjawab karena sebelumnya ia sudah menyiapkan jawaban.
“Aku tahu Jovi adalah gadis yang baik.” Dahlia menatap ke arah Jovi. “Dan tentu saja ia tak akan jadi hubungan dengan seorang pria dengan statusnya yang merupakan istri dari seseorang.”
Ucapan wanita itu begitu mengena di hati Jovi dan membuatnya terdiam saat ia akan mulai bicara. Ia begitu shock ternyata wanita itu mengetahui identitasnya.
“Ibu... apa yang ibu katakan itu sungguh melukai ku. Jovi tidak seperti yang Ibu pikir. Dia juga sudah resmi bercerai dari mantan suaminya.” Nathan langsung membela Jovi.
“Lantas apa kata orang jika baru bercerai ternyata sudah langsung menikah lagi ?” Dahlia bersikeras dengan pendiriannya.
“Ibu... aku tak peduli dengan orang lain. Toh mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin bukan aku membuka aib orang pada semuanya ? Dan yang lebih penting lagi saat ini Jovi sedang hamil anak ku.”
Dahlia terlihat menautkan kedua alisnya mendengar perkataan Nathan barusan.
“Kau pasti bercanda bukan ? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi ? Aku tak bisa menerimanya !” ucap Dahlia sangat marah bercampur kecewa lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua di sana.
__ADS_1