Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 109 Phobia


__ADS_3

Nathan dan Jovi sudah masuk ke lokasi Curug Cibaliung. Mereka berdiri di sebuah bebatuan besar di dekat air terjun yang mengalir yang berada 10 meter dari tempat mereka berpijak saat ini.


Pemandangan di sana terlihat sangat indah sekali dan terasa adem di mata.


“Jovi bagaimana menurut mu, apa kau menyukainya ?” Nathan yang berdiri di samping Jovi menanyakan pendapatnya.


“Ini luar biasa indah kak.” Jovi menimpali sambil menoleh ke samping menatap Nathan. “Seandainya saja aku tahu kakak akan mengajakku ke tempat seperti ini maka aku pasti akan membawa baju ganti. Karena aku pasti akan bermain air di sini.” Jovi menambahkan dan terlihat sedikit kecewa karena hanya bisa melihat dan tak bisa merasakan keindahan yang ada di sana.


“Bagaimana jika kau lompat saja atau pergi ke balik air terjun, nanti masalah baju ganti kita pikirkan nanti.” Nathan mengajak gadis itu untuk bermain di sana karena ia sendiri juga tidak terpikirkan sebelumnya untuk membawa baju ganti dan tak ingin melewatkan momen ini bersamanya.


“Lalu apa ada toko baju di dekat sini ?” Jovi kembali bertanya sebelum memutuskan untuk melompat. “Tentang hal itu aku tidak melihat ada toko baju di sekitar sini tapi mungkin ada di tempat lain yang masih area.” timpal Nathan.

__ADS_1


“Whats ? Jika tidak ada toko baju di sini apa aku harus terus basah sampai menemukan toko baju ? Dan buruh waktu berapa lama kami akan menemukan toko baju ?” Jovi berpikir ulang dan tiba-tiba menjadi parno sendiri khawatir kedinginan dan dalam kondisi basah kuyup duduk di mobil.


“Sebaiknya tidak kak, aku akan berjalan-jalan saja melihat pemandangan di sekitar sini.” Jovi akhirnya memutuskan untuk tidak bermain air di sana.


“Oh ya baiklah.” senyum Nathan yang mengembang akhirnya pudar seketika. “Jika begitu kita berjalan-jalan saja di sekitar sini.”


Nathan dan Jovi kemudian berjalan bersama berkeliling di sekitar lokasi.


“Awas....hati-hati !” Nathan mengingatkan saat mereka melompat ke batu lain agar Jovi tak jatuh saat melompat.


“Ternyata kau tangkas juga.” Nathan memuji Jovi yang bisa melompat dan sekarang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Jovi hanya tersenyum kecil saja menanggapi nya namun tak bercerita jika dia sebelumnya pernah berlatih karate. Mereka berdua pun tiba di jembatan merah setapak yang terbentang di depan mereka.


“Kak tunggu sebentar tolong fotokan aku di sini.” Jovi menyerahkan ponselnya pada Nathan dan segera berpose di ujung jembatan. “klik.” Nathan mulai mengambil foto-foto Jovi.


“Jov, bolehkah aku foto bersama mu ?” Nathan segera berdiri di samping gadis itu karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. “Ya, kak boleh.” Nathan segera mengambil foto-foto mereka berdua.


Setelah selesai berfoto mereka berdua pun melewati jembatan setapak.


“Ouh...” Jovi phobia ketinggian dan merasa pusing setelah melihat jurang yang ada di bawah jembatan. “Jov kenapa berhenti ?” Nathan bertanya karena tiba-tiba gadis itu berhenti.


“Aku merasa pusing. Mmm... aku phobia ketinggian.” Jovi menjelaskan singkat dan tak menutupi kekurangan dirinya.

__ADS_1


“Kau terus jalan saja jangan lihat ke bawah.” Nathan memberi saran. “Ya, tapi kepalaku pusing, kak.”


“Aku punya solusi... bla-bla-bla.” Nathan memberitahu Jovi. “Ya kak.” Jovi kemudian berjalan pelan dengan Nathan yang mengikuti berjalan di belakangnya sambil menutup kedua matanya.


__ADS_2