
15 menit kemudian Jovi sudah selesai bersiap, namun ia kembali duduk di kursinya menunggu waktu, juga menunggu Rani.
“tok... tok... tok...” kembali terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
“Apa itu Rani ? Cepat sekali dia kembali.” Jovi menatap ke arah pintu dan menebaknya. “Masuk, saja.” tambahnya. “Kriek.” pintu terbuka dan benar saja yang datang adalah Rani.
“Nona apa nona sudah siap ?” Rani membawa dokumen sambil menghampiri Jovi. “Seperti yang kau lihat. Siap tidak siap aku tetap harus berangkat bukan ?” Jovi berdiri kemudian berjalan keluar bersama sekretarisnya itu.
“Klik.” Jovi menekan kunci mobilnya dari kejauhan. “Nona kita naik mobil ku saja.” Rani menawarkan untuk ikut menumpang mobilnya saja. “Baiklah.” Jovi menekan kembali kunci mobilnya untuk mengunci kemudian masuk ke mobil Rani.
Jovi duduk di belakang dan Rani mengemudikan mobil menuju ke lokasi meeting, di Atmaka Grup.
“Malah enak naik mobil Rani. Setidaknya aku bisa beristirahat sebentar.” Jovi yang sedikit merasa lelah setelah mengerjakan setumpuk dokumen mencoba untuk memejamkan matanya barang 5 atau 10 menit saja.
__ADS_1
“Nona tertidur rupanya.” Rani melihat dari kaca karena tak ada suara sejak Jovi duduk di sana.
Perjalanan dari kantor Jovi menuju ke Atmaka Grup ternyata tidak lama.
“Nona kita sudah sampai.” Rani mematikan mobilnya setelah sampai ke perusahaan itu dan tiba di tempat parkir. “Ha... ini baru 10 menit tapi sudah sampai saja.” Jovi terbangun mendengar suara Rani dan terlihat enggan untuk membuka matanya.
“Ya, kau turun dulu aku akan menyusul mu. Meeting baru akan dimulai 30 menit lagi kan ?” Jovi sengaja mengulur waktu dan akan masuk ke ruang meeting on time saja. “Baik, nona.” Rani pun meninggalkan Jovi sendiri di mobil untuk masuk ke ruang meeting, mencari tempat duduk untuknya juga untuk Jovi baru nanti akan kembali menjemputnya.
Di ruangannya, Nathan merasa tak tenang melihat waktu yang terus berjalan.
Di luar, Jovi yang mencoba untuk tidur kembali tak bisa memejamkan matanya karena suasana di sekitarnya ramai. Banyak orang berseliweran di sana.
“Sial !” Jovi pun keluar dari mobil dan bermaksud untuk menghirup udara segar di sana. “Mungkin jika berjalan-jalan sebentar di sekitar sini saja tak masalah, aku akan kembali sebelum Rani mencari ku.”
__ADS_1
Jovi berjalan dengan pelan sambil mengamati keadaan sekitar di sana.
Di tengah waktu yang terus berjalan dimana pikirannya harus tenang saat mengikuti meeting. Nathan yang Sampai detik ini masih terpikirkan pada Jokowi akhirnya memutuskan untuk meneleponnya, sekedar untuk menanyakan kabarnya saja.
“Kriing... kriing...” Jovi mendengar ponselnya berdering. “Mungkin itu Rani yang mencari ku. Baru aku berjalan 2 menit dia sudah menelepon ku.” Jovi kembali mengerucutkan bibirnya dengan kesal, tapi meskipun merasa kesal Ia pun tetap mengambil ponselnya.
“Kak Nathan ??” Jovi terkejut saat mengetahui yang meneleponnya ternyata bukan sekretarisnya melainkan pria itu. “Aneh sekali, kenapa dia tiba-tiba meneleponku di siang hari begini lagi ?” masih merasa aneh dan tak percaya saja.
“Halo kak Nathan... ada apa ?” Jovi segera menjawabnya dan tanpa basa-basi. “Hai Jov... em aku hanya ingin tahu kabarmu saja, lama kita tidak bertemu.” jawab Nathan gugup. “Kabar ku baik kak.” Jovi terus berjalan dan berhenti di bawah sebuah pohon yang rindang untuk berteduh dari panasnya terik matahari.
“Siang ini kau ada waktu tidak ? Aku ingin mengajakmu makan siang.” Nathan bermaksud kabur dari meeting jika Jovi setuju dengan ajakannya. “Maaf kak bukannya aku menolak, tapi aku tidak bisa. Sekarang aku akan meeting sekitar 20 menitan lagi.” Jovi menjelaskan.
“Meeting ?” Nathan terkejut sekali mendengar jawaban dari Jovi. “Kau ikut meeting dimana ?” lanjutnya. “Aku di Atmaka Grup, kak.”
__ADS_1
“Apa ??” Nathan semakin terkejut dan ia pun langsung keluar dari ruangannya.