
Semalam sebelum hari keberangkatan Nathan ke Filipina. Terlihat pria itu sedang kalau masih beberapa barang yang akan ia bawa untuk berangkat meeting besok ke Filipina.
“Sepertinya ini sudah semua.” Nathan melihat tiga koper besar yang ada di lantai. “Apalagi yang kurang ?” kembali mengingat-ingat kira-kira apa ada yang tertinggal yang belum ia masukkan. “Sepertinya sudah semua.” kembali memeriksa barang bawaannya untuk lebih pastinya.
Karena semua keperluannya sudah ia packing, maka pria itu duduk sejenak untuk beristirahat sebelum melanjutkan aktivitas lainnya.
Di rumah Jovi
Gadis itu juga terlihat sibuk mengamati semua barang yang akan dibawanya. Ada tujuh koper besar di lantai kamarnya.
“Kenapa banyak sekali barang yang aku bawa ?” Jovi terkejut saat melihat jumlah koper yang harus ia bawa. “Padahal aku tidak membawanya semua dan banyak yang ku tinggal, tapi kenapa masih sebanyak ini ?” bingung apa yang harus ia kurangi agar bawaannya tidak terlalu banyak seperti itu.
__ADS_1
Jovi membongkar lagi satu persatu koper yang sudah rapi dan terpaksa mengeluarkan barang yang menurutnya tidak perlu ia bawa.
“Sepertinya aku harus meninggalkan mu di kamar kali ini.” Jovi mengeluarkan boneka koala dari Nathan yang menemani tidurnya setiap malam yang ia peluk sebagai dari pengganti memeluk Nathan. “Ini juga sepertinya tidak perlu.” mengeluarkan beberapa stel baju dan menyisakan 5 pasang baju saja karena menurutnya ia bisa beli baju di sana jika kurang daripada membawa baju sebanyak ini, baju hampir separuh lemari yang ia keluarkan tadi.
“Yup, sudah selesai.” Jovi mengembalikan banyak baju yang ia keluarkan dari koper tadi lalu menggantungnya kembali di lemari pakaiannya. “huft...” ia pun keluar sebentar dari kamar untuk mengambil air dingin sekedar untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Selang beberapa menit setelahnya Deon lewat dan melihat pintu kamar Jovi yang terbuka.
“Hey apa yang kau lakukan di sini mengintip kamarku ?” Jovi kembali dari dapur dan melihat dewan ada di depan kamarnya sedang mengintip ke dalam.
“Siapa yang mengintip ?! Ini kan rumahku sendiri.” Deon merasa tidak melakukan kesalahan dengan melihat kamar Jovi yang notabene adalah bagian dari rumahnya. “Kau mau ke mana dengan barang bawaan sebanyak itu ?” lanjutnya karena masih penasaran.
__ADS_1
“Kau mau tahu ?” Jovi segera berjalan dan berhenti di depan pintu sambil merentangkan kedua tangannya di pintu. “Setidaknya selama kurang lebih seminggu kau tak akan melihatku dan kau bisa bersenang-senang sepuasnya bersama ratusan gadis yang bisa kau bawa kemari.” berbalik dan bersiap untuk masuk ke kamar. “Aku ada perjalanan bisnis ke luar negeri !” jawabnya ketus kemudian masuk ke kamar dan membanting pintunya dengan keras sekaligus untuk mengusir pria itu agar segera pergi dari sana.
“Kau ada meeting ke luar negeri ? begitu saja kau sudah bangga ?!” Deon berbalik dan menuju ke kamarnya.
“kring...” suara ponsel Jovi yang berdering.
Gadis itu segera mengambil ponselnya yang ada di tempat tidur dan mengangkatnya sambil duduk.
“Ya, kak Nathan...” Jovi menerima panggilan yang ternyata adalah dari Nathan. “Bagaimana persiapan untuk besok ?” tanya Nathan sambil berdiri dan bersandar di dekat jendela kamar. “Aku Baru selesai mem-packingnya kak.”
Mereka berdua kemudian berbicara di telepon selama 30 menit dan saatnya mereka beristirahat karena besok mereka harus berangkat ke Filipina.
__ADS_1