
Nathan mengikuti meeting dan baru selesai lewat dari siang hari tak seperti ini sampaikan pada Jovi sebelumnya.
“klak.” Jovi yang sedang rebahan di kamar karena merasa bosan menunggu berlari ke arah pintu begitu mendengar suara pintu terbuka.
“Kak... katanya sebelum siang sudah selesai ? Sekarang jam berapa ?” Jovi menyambut kedatangan pria itu dengan mengalungkan tangannya di leher. “Hmm... kau rindu padaku ya, baru sebentar kita tidak bertemu.” Nathan menaruh tas yang ia bawa ke meja kemudian memeluk pinggang Jovi.
“Ada banyak hal yang dibahas dalam meeting tadi jadi sedikit lebih lama dari jadwal yang ditentukan.” Nathan mengusap lembut pipi Jovi lalu mengajaknya duduk di kursi.
Semenjak kejadian semalam terlihat Jovi semakin lengket pada Nathan dan tak bisa lepas dari pria itu.
“Kau tidak lapar ?” Nathan bertanya pada Jovi sambil melepas tasedonya. “Ya, kakak mau makan apa ?” balas Jovi sambil memegang perutnya yang sedikit terasa perih. “Aku mau makan kamu.” Nathan bergeser mendekat lalu langsung mencium bibir Jovi.
“mmm....” Jovi merasa ciuman dari pria itu kasar dan terasa panas sekali.
Tak lama setelahnya Nathan membopong tubuh Jovi dan membaringkannya di tempat tidur.
__ADS_1
“Ahh...” tak lama setelahnya terlihat Nathan mengunci Jovi di bawah tubuhnya dengan pakaian yang sudah menjadi alas mereka dan Jovi yang menggeliat di sana.
Beberapa jam setelahnya terlihat mereka berdua sedang duduk di kursi dengan menyantap makanan yang mereka pesan via room service.
“Coba ini...” Nathan menyuapkan satu sendok puding ke bibir lembut Jovi. “Aku sudah kenyang. Ganti kakak yang memakannya.” Jovi balas menyuapi Nathan.
Terlihat mereka berdua tersenyum lebar bersamaan untuk beberapa waktu.
Meeting lima hari di Filipina berjalan dengan lancar begitu pula dengan hubungan mereka berdua yang terlihat semakin lengket saja.
Setiap harinya Jovi dan Nathan berjalan-jalan di sekitar hotel menuju ke resort wisata terdekat setelah selesai meeting. Mereka berwisata kuliner di sana dan mencoba semua jenis makanan yang ada di sana tanpa terlewatkan satupun.
“Jovi... kaulah wanita pertama yang pernah aku sentuh.” Nathan memegang tangan Jovi dan mengunci gadis itu di bawah tubuhnya. “Bukankah kakak sebelumnya pernah menikah ?” Jovi menarik tangannya lalu mengusap dada bidang Nathan.
“Aku tak bisa melakukannya dengan wanita itu dulu.” bisik Nathan lirih telinga Jovi sambil mencium telinga gadis itu.
__ADS_1
“Benarkah ?” Jovi merasa senang sekali mengetahui jika dirinya adalah wanita pertama yang disentuh oleh Nathan. Ia pun kemudian menarik pinggang Nathan lebih merapat ke tubuhnya sambil mencium bibirnya. Dan tak lama kemuliaan ranjang mereka berguncang hebat.
“Sekarang istirahatlah, besok pagi kita akan kembali ke Jakarta.” dua jam setelahnya Nathan menyelimuti tubuh mereka lalu mengecup dahi Jovi.
“Ya, Jovi memejamkan matanya sambil memeluk erat Nathan.
Pagi harinya
Nathan dan Jovi terlihat bersiap untuk segera keluar dari hotel. Barang-barang sudah mereka packing kembali dengan rapi.
“Aku merasa berat untuk kembali ke Jakarta.” ucap Jovi setelah mereka check out dari hotel. “Aku juga merasa seperti itu. Tapi kita harus kembali sekarang.” Nathan menyeret koper menuju ke bandara setelah turun dari taksi.
Jovi dan Nathan sudah duduk dalam pesawat dan pesawat tinggal landas 5 menit setelahnya.
“Apa kau dingin ?” Nathan mengambil topi rajut untuk Jovi. “Sedikit, kak.” Nathan memakaikan topi itu untuk Jovi.
__ADS_1
Seorang penumpang lain yang perjalanan melewati mereka hendak menuju ke toilet sekilas menatap mereka.
“Mereka berdua apa pengantin baru yang baru bulan madu di sini ?” melihat Nathan yang tak malu-malu memeluk Jovi, kemudian berlalu.