Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 89 Sedikit Perhatian


__ADS_3

Jovi masih menatap Intens pria yang duduk di depannya dan terlihat mukanya sampai memerah karena kepedasan.


“Ha...” Jovi tersenyum kecil melihat Nathan kembali mengipasi bibir. “Kak... jika tidak suka makanan pedas tak perlu dipaksa seperti ini. Kakak bisa pesan menu lain.” menyerahkan satu gelas penuh air mineralnya yang sama sekali belum ia sentuh pada Nathan karena ia masih tampak kepedasan.


“Terimakasih Jovi.” Nathan menerima air mineral tadi dan segera menghabiskannya. “Aku ingin mencobanya saja. Agar aku tidak kalah denganmu yang doyan masakan pedas.” menimpali dengan memaksakan tersenyum dalam kondisi masih kepedasan.


“Pria ini dia benar-benar penuh simpati. Coba saja Deon sedikit saja seperti dia.” Jovi kembali membandingkan Nathan yang lebih unggul daripada Deon.


“Ada apa ?” Nathan katanya pada cabe karena gadis itu sudah dari tadi menatapnya tanpa berkedip. “Uhuk... uhuk...” seketika Jovi tersedak karena terkejut.


“Pelan-pelan makannya.” Nathan mengambilkan air minum Jovi dan memberikan pada gadis itu. “Glek... glek...” Jovi segera meminum beberapa teguk untuk mengatasi tersedak nya.

__ADS_1


“Tunggu sebentar.” Nathan tiba-tiba mengambil tisu yang ada di dekatnya. “Ada saus di sudut bibir mu.” mengusap tisu dan membersihkan sisa saus di bibir Jovi.


Di tempat duduk lain ternyata ada dua orang staf yang bekerja di tempat Jovi.


“Coba lihat yang duduk di sana itu.” seorang gadis menunjuk ke arah tempat duduk Jovi berada. “Bukankah itu nona Jovi ?”


“Ya benar, itu nona Jovi.” timpal gadis lain yang bisa mengenali dan hafal dengan Jovi meskipun dari kejauhan. “Pria itu... bukankah dia CEO dari Atmaka Grup ?” melihat Nathan tentu saja langsung mengetahui identitasnya. “Lihat mereka berdua kelihatannya dekat. Apa ada sesuatu diantara mereka ?” melihat mereka berdua yang terlihat perhatian seperti sepasang kekasih.


“Jovi bagaimana jika kita kembali sekarang ?” Nathan sudah selesai makan dan berniat untuk berdiri dari tempat duduknya. “Jangan keluar dulu kak.” Jovi menarik tangan Nathan dan menahannya untuk pergi setelah ia menoleh ke belakang dan melihat orang stafnya makan di sana.


“Baiklah kita akan kembali nanti.” Nathan pun duduk kembali meskipun ia tak tahu apa alasannya gadis itu menahannya.

__ADS_1


Nathan yang memang tidak doyan pedas, masih merasakan kebebasan meskipun ia sudah minum 3 gelas air mineral untuk menghilangkan rasa panas pada lidahnya, namun tetap saja lidahnya serasa terbakar.


“Kakak tak apa ?” Jovi merasa cemas saja saat melihat Nathan yang tampak gelisah. Secara naluriah ia pun ngambil tisu yang ada di sebelahnya saat melihat pria itu mulai bercucuran keringat kemudian mengusapnya.


“Jovi aku tak apa.” Nathan menyentuh tangan Jovi yang masih mengusap keringatnya.


Dalam hati pria itu merasa senang sekali karena Jovi mulai menunjukkan perhatian padanya.


“Apa perut kakak tidak mulas setelah makan tadi ?” Jovi membuang tisu setelah tisunya basah oleh keringat dan kembali menatap intens Nathan. “Perutku baik-baik saja.” Nathan berusaha tersenyum meskipun sebenarnya ia mulai merasa perutnya tak nyaman sekarang.


Sepuluh menit kemudian 3 staf yang tadi ada di sana sudah keluar dari restoran.

__ADS_1


“Kak kita kembali saja sekarang.” Jovi mengajak Nathan untuk keluar dari restoran setelah melihat ke belakang ke arah kursi 3 stafnya tadi berada yang sekarang kosong.


__ADS_2