
Pagi harinya Jovi bangun dan melihat Shasha yang masih tidur. Ia pun menatap jam yang tergantung di dinding kamar temannya itu.
“Sudah jam 06.00 rupanya.” Jovi duduk dan beralih menatap Shasha. “Sha, bangun. Apa kau tidak ke kantor hari ini ?” menepuk-nepuk pelan bahu temannya itu agar segera bangun.
Shasha juga merupakan putri dari seorang pengusaha di Jakarta, namun masih di bawah kesuksesan orang tua Jovi. Ia pun sudah terbiasa membantu ayahnya untuk mengelola perusahaan sejak lulus dari kuliah hingga saat ini. Namun tak setiap hari ia masuk ke kantor, jika dia sedang tidak mood maka tak akan masuk kantor.
“Ohh... Jovi hari apa ini ?” Shasha membuka mata dan mencoba mengingat hari apa sekarang. “Sekarang hari Rabu, Sha. Cepat bersiaplah.” Jovi menarik selimut yang masih menutupi tubuh temannya itu kemudian melipatnya dan merapikannya yang membuat Shasha terpaksa bangun.
“Jov... aku hanya masuk ke kantor hari Selasa, Kamis dan Jumat saja. Hari ini aku off.” Shasha menjelaskan kemudian kembali berbaring di tempat tidur. “Kenapa kau membuat jadwal seperti itu ?” tanyanya karena merasa aneh sekali dengan pengaturan hari kerja temannya itu. “Ya, tak ada arti khusus. Aku hanya ingin kerja dengan tenang, tanpa beban dan tetap bisa hangout.” Shasha malah menarik Jovi untuk ikut berbaring bersamanya. “Dasar kau ini.” Jovi hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Kenapa kau duduk lagi ? Lebih baik kita habiskan waktu kita untuk tidur sebentar lagi dan bangun 3 jam kemudian. Atau kau mau pulang sekarang ?” Shahsa yang malas bangun melirik Jovi.
__ADS_1
“Tidak sekarang. Jam segini Deon masih ada di rumah. Mungkin nanti setelah jam masuk kerja atau agak siangan dikit aku akan kembali.” Jovi kembali duduk dan ikut berbaring di samping Shasha karena tak ada yang bisa ia kerjakan meskipun dia tidak tidur lagi.
Di Villa Cempaka.
Terlihat Deon yang sedari tadi duduk di ruang tamu dengan pintu terbuka dan menatap ke arah luar.
“Sudah satu jam lebih aku duduk, namun dia belum kembali juga. Ha, dia pasti takut padaku dan masih tak berani pulang.” Deon yang sudah berpakaian rapi dan bersiap kerja tampak menunggu kedatangan Jovi.
“Sudahlah lebih baik aku berangkat saja. Buat apa aku menunggunya kembali ?” Deon berdiri karena sudah jam 08.00 pagi lebih dan merasa membuang-buang waktu saja menunggu Jovi kembali. Ia pun kemudian berdiri dan berjalan keluar menuju ke mobilnya.
Tiga jam kemudian terlihat Jovi sudah terlihat rapi dan berbau harum.
__ADS_1
“Sha... aku pulang dulu. Terimakasih sudah mengizinkanku menginap di rumahmu semalam.” Jovi memeluk temannya setelah berpamitan. “Datanglah kemari jika kau ingin menghabiskan waktumu bersamaku. Pintu rumah ini terbuka lebar untukmu.” Shasha melepas pelukannya kemudian ia mengantar temannya itu hingga ke pintu.
“Bye...” Jovi menutup kaca mobil lalu segera mengemudikan mobilnya menuju ke Villa Cempaka.
“klak.” Jovi tiba di rumah dan dia pun menutup sendiri pagar rumahnya. “Aku merasa lega setelah bertemu dengan Shasha dan kak Nathan.” ia membuka pintu rumah dan menguncinya kembali. “Si bunglon Deon sudah pergi rupanya. Dia berani menemui ku. Pengecut sekali dia.” melihat rumah yang kosong tak berpenghuni hanya ada dirinya saja.
Jovi kemudian masuk ke kamar. Dia benar-benar merasa lega dan sudah siap untuk menghadapi Deon lagi.
“Kak Nathan... kenapa dia seolah bisa mengatasi masalah ku saja ?” Jovi tiba-tiba terpikirkan pada sosok pria itu. “Lalu sebenarnya siapa dia ?” penasaran pada sosok Nathan yang belum yang ketahui secara lengkap. “Kenapa aku tidak mencarinya saja ?”
Jovi mengeluarkan ponselnya dan ia pun mulai melakukan pencarian secara online karena pasti informasi mengenai pria itu yang merupakan seorang CEO dari sebuah perusahaan besar.
__ADS_1