Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 119 Sebuah Undangan Dan Pisau


__ADS_3

Setiap hari Nathan makin gencar melakukan PDKT pada Jovi. Tak hanya mengirim buket mawar merah ke kantornya saja, tapi terkadang ia juga mengirim manisan, boneka dan lain sebagainya untuk mengambil hati gadis itu.


“Bagaimana ini...” Jovi membuka sebuah paket yang barusan diantar oleh Rani ke ruangannya berupa coklat putih berbentuk love. “Kenapa dia setiap hari mengirimiku paket ?” membuat pendiriannya goyah untuk menjaga martabatnya sebagai wanita terhormat yang lurus.


Jovi mencoba membuang pikiran itu dan lebih tertarik untuk mencicipi coklat putih itu daripada memikirkannya lebih jauh.


“Apa sebaiknya aku ketemuan dengan Shasha dan membahasnya ?” Jovi maunya coklat putih yang terasa lumer di lidah sambil memikirkan sahabat itu.


Sore harinya sepulang kerja, Jovi tak langsung pulang ke rumah. Ia mampir sebentar ke tempat Shasha.


“klik.” Jovi berhenti di depan rumah Shasha. Ia turun dari mobil dan menguncinya. “kriek.” Jovi memutar gagang pintu dan ternyata tak dikunci.


Ia pun masuk ke dalam rumah dan melihat ke sekitar.


“Permisi... Om, tante...” Jovi memanggil ayah dan ibu Shasha saat masuk ke dalam. “Kog sepi ? Pada kemana semuanya ?” mengedarkan pandangan ke sekitar karena tak ada respon sama sekali. “Mungkin tante dan om sedang keluar.” menebak sendri.

__ADS_1


Jovi kemudian terus berjalan masuk ke dalam.


“Sha.... kamu di mana ? Aku ingin bicara dengan mu ?” memanggil temannya itu dan ternyata juga tak ada respon. “Apa dia tidur ?” berjalan menuju ke kamar Shasha.


“klak.” Jovi membuka pintu kamar Shasha. “Kosong... dimana dia ?” menatap kamar Itu tampak kosong, tapi ada tas kerja Shasha di meja. “Mungkin dia keluar sebentar atau ke mana.” memutuskan untuk duduk sebentar di tempat tidur temannya itu, menunggunya kembali.


Jovi sudah biasa langsung masuk ke kamar Shasha seperti masuk ke kamarnya sendiri meskipun gadis itu tak ada di rumah.


Jovi menaruh tasnya dalam pangkuannya.


“Undangan ?!” Jovi terkejut saat melihatnya dan ternyata itu sebuah undangan. “Undangan pernikahan Daniel ?” lebih terkejut lagi setelah mengetahui ternyata itu adalah undangan pernikahan mantan kekasihnya Shasha yang akan dilangsungkan pada besok.


“Astaga... !” Jovi segera tersadar dan berlari keluar dari kamar Shasha karena menurutnya undangan itu bukan sengaja terjatuh melainkan dibuang dengan sengaja.


“Sha... kamu di mana ?” Jovi terlihat panik dan mencari temannya itu ke seisi rumah karena khawatir terjadi sesuatu pada temannya itu.

__ADS_1


Ia mencari ke dapur, ke belakang rumah, ke ruang tengah, ke kolam dan tak menemukan keberadaan sahabatnya itu.


“Kamar mandi !” pekik Jovi selama ingat satu tempat itu yang belum ia periksa.


“zrash...” benar saja terdengar suara shower menyala dan air yang mengalir dari kamar mandi.


“Sha... ! Sha... apa kamu di dalam sana ?” Jovi terus memanggil nama sahabatnya itu dengan panik setibanya di depan kamar mandi.


Tak ada jawaban dan Jovi pun membuka pintu kamar mandinya yang ternyata tidak dikunci.


“Sha... !” teriak Jovi saat melihat sahabatnya itu duduk bersimpuh di bawah shower dengan pikiran kosong.


Terlihat Shasha memegang pisau di tangan dan menatap urat nadi pergelangan tangan kirinya.


“Sha... buang itu !” teriak Jovi menahan rasa takutnya saat melihat temannya akan mengiris urat nadi. “Klang.” karena ada respon maka jadi pun mengambil paksa pisau dari tangan Shasha dan melemparnya ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2