
Entah kenapa Jovi seakan terhipnotis untuk menatap Nathan yang tampak menarik. Ia pun segera berjalan dengan pelan dan mengatur jalannya seperti normal serta menahan rasa sakitnya.
“Pasti ia berpura-pura tidak sakit dan menahan rasa sakitnya di depanku, padahal aku sudah mengetahuinya.” Nathan yang sudah sampai mobil dan membukakan pintu untuk Jovi berdiri di depan mobil menunggu Jovi yang berjalan pelan sekali.
“Maaf lama menunggu.” Jovi terlihat berkeringat setelah tiba di depan mobil Nathan dengan susah payah. “Ayo masuk.” Nathan yang bisa mengerti keadaan Jovi pun tidak merasa kesal karena menunggu selama lebih dari lima menit.
“Klak.” Jovi Medan duduk di mobil dengan susah payah namun ia sama sekali tidak menunjukkan rasa sakitnya di depan Nathan.
Gadis itu sejak dulu memang terbiasa tidak pernah menunjukkan kelemahannya atau ketidakberdayaannya di depan orang lain untuk menghindari seseorang berbuat jahat ataupun mengambil kesempatan darinya, dan ia tak mau hal itu terjadi.
__ADS_1
“Kau merasa lapar tidak Jovi ?” tanya Nathan setelah mengemudikan mobil keluar dari area kolam renang walaupun sebenarnya ia tidak terlalu lapar dan hanya ingin lebih lama bersama gadis itu saja. “Aku tidak terlalu lapar, tapi jika kakak lapar aku akan menemanimu makan.” jawabnya singkat karena ia merasa tak enak jika ia cerewet. Secara dia hanya menumpang saja.
“Kau suka makan apa ?” Nathan kembali melempar pertanyaan dan menatap Jovi. “Apa saja aku tak akan menolaknya. Kakak makan di tempat kakak biasa makan saja.”
“Baiklah.” Nathan segera melanjutkan mobilnya menuju ke cafe tempat ia biasa makan. Di tengah jalan ia tiba-tiba berhenti di depan sebuah apotek. “Jovi tunggu di sini sebentar.” Nathan keluar dari mobil dan berlari menuju ke apotek.
“Apa ada cream massage untuk kram atau nyeri ?” Nathan bertanya pada tugas apoteker di sana. “Ada, tuan. Mau yang ini atau yang ini ?” petugas apoteker mengambilkan beberapa cream massage sekaligus menunjukkan harganya. “Aku ambil yang ini saja.” Nathan memilih krim dengan harga yang paling mahal.
“Kita sudah sampai.” Nathan turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Jovi. “Kau bisa jalan ?” Nathan yang khawatir berniat untuk membantu gadis itu berjalan. “Ya tentu saja, kak.” Jovi turun dari mobil dengan susah payah.
__ADS_1
Ia pun kemudian berjalan pelan mengikuti Nathan masuk ke cafe. Di sana ternyata ada dua pilihan tempat duduk, kursi biasa dan ada karpet di sisi timur yang berada dekat dengan taman kecil.
“Kita duduk di sana saja.” Nathan lebih memiliki untuk duduk di bawah. Jovi mengangguk saja dan mengikuti pria itu berjalan ke sana.
Nathan sengaja duduk di depan Jovi. Ia pun segera menyerahkan daftar menu pesanan mereka pada pelayan yang mengambil daftar pesanan para pengunjung.
“Jovi luruskan kaki kiri mu.” tiba-tiba Nathan meminta Jovi untuk meluruskan kaki setelah ia mengeluarkan krim massage yang tadi dibelinya. “Ha... ?” Jovi tak mengerti maksud Nathan dan menautkan kedua alisnya.
“Tolong luruskan saja aku akan membantu mu.” Nathan mengulangi perkataannya. “Oh...” Jovi pun mengikut saja dan meluruskan kakinya yang memang terasa kembali kram lebih parah setelah ia mendudukinya.
__ADS_1
“Kak... apa yang kakak lakukan ?” Jovi terkejut saat pria itu menyentuh kakinya yang kram dan terasa dingin setelah Nathan mengoleskan sebuah krim di sana. “Aku bilang aku akan membantumu.” Nathan mulai memijat lembut kaki Jovi.