Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps 166 Membalas Nathan


__ADS_3

Di dalam kamar Jovi meminta Nathan untuk menemaninya sebentar sebelum berangkat kerja.


“Kak bagaimana dengan Champion Group ?” tanya Jovi yang masih memikirkan perasaan ayahnya.


“Aku sudah mengatasinya dan kau tak perlu khawatir.”


“Benarkah ? Kakak memang bisa diandalkan.” Nathan hanya tersenyum kecil mendengar pujian dari kekasihnya itu.


“Lalu apa penyebab perusahaan itu tiba-tiba performanya menurun drastis ?” tanya Jovi ya masih penasaran meskipun sudah merasa lega.


“Itu... ulah dari Sanjaya Group.”


“Apakah itu Deon yang melakukannya ?” Jovi kesal dan seketika duduk saat melihat Nathan yang mengangguk.


“Sialan sekali dia ! Apa mau dia sebenarnya ? Apa tidak cukup sudah membuatku menderita sebelumnya ?” umpat Jovi terlihat emosi.


“Aku sudah mengatasinya dan membalasnya.” balas Nathan dan terlihat Jovi seketika tenang mengetahuinya.


Ia kemudian duduk di samping Jovi sambil mengusap perutnya. “Yang terpenting sekarang yang ada di perut mu ini, kau harus memikirkannya.”

__ADS_1


“Tapi kak bagaimana nanti jika bayi ini lahir tanpa ayah ?”


“Apa maksud mu Jovi ?” Nathan mengusap pipi Jovi dan menatapnya tajam. “Kita akan menikah sebelum perutmu membesar dan sudah pasti anak ini akan membawa nama ku nanti.”


“Tapi kak kita belum mendapatkan restu dari kedua orang tua kita.” Jovi kembali tertunduk. Nathan mengangkat dagu Jovi ke atas. “Kita akan mencoba meminta restu dari ibuku besok.”


Jovi pun hanya mengangguk sambil memeluk Nathan meskipun ia tak yakin apakah orang tua pria itu akan merestui hubungan mereka.


Siang hari informan Deon kembali krnator dan menemui pria itu.


“Bagaimana apa ada informasi yang kau dapatkan ?” tanya Deon langsung pada pria berbaju dan berkacamata hitam di depannya.


“Jangan bertele-tele katakan padaku siapa pelakunya.” balas Deon tak sabar ingin segera mengetahuinya.


“Dari informasi yang kudapat di lapangan hal itu mengarah pada Atmaka Group, tuan.”


Deon ketika membelalakkan matanya tak percaya kenapa bisa perusahaan itu ikut campur tangan dengan masalahnya.


“Ini tuan semua buktinya.” informan tadi menyerahkan bukti yang didapatnya.

__ADS_1


Deon tersenyum lebar dan yakin jika pelakunya adalah Nathan. “Tunggu aku akan membalasmu cepat atau lambat.”


“Tuan apa ada tugas lagi untukku ?” tanya informan tadi sebelum meninggalkan ruangan.


“Cukup nanti aku akan memanggilmu jika ada tugas lagi untuk mu.”


Informan tadi kemudian keluar dari ruangan Deon menghilang di tengah keramaian perusahaan.


“Aku tidak mengganggu mu, Nathan. Tapi kau berani menyerang ku. Kau kira aku tak berani melawan mu ?” Deon tersenyum menyeringai dan mengibarkan bendera perang di antara mereka.


Deon kemudian mengambil beberapa staf nya untuk melakukan meeting kecil terkait insiden barusan. Tak hanya itu saja bahkan dia membentuk sebuah tim yang bertugas untuk menyerang balik Nathan.


“Baik kami akan melaksanakan tugas kami masing-masing tuan Deon.” ucap peserta meeting serempak setelah mendapatkan tugas yang berbeda setiap orangnya.


Beberapa jam setelah meeting usai tim bentukan Deon segera bergerak sesuai tugas mereka masing-masing.


Di saat yang sama Nathan juga melakukan tindakan antisipasi yang tidak ia persiapkan sebelumnya jika saja Deon balas menyerang perusahaannya.


“Hancurlah kau Nathan Alison. Kau sudah mengambil mainanku juga menyerang perusahaan ku.” Deon tersenyum lebar di ruangannya kemudian pergi berlalu begitu saja.

__ADS_1


Sementara Nathan duduk diam memikirkan rencananya besok untuk menemui ibunya.


__ADS_2