Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 112 Mengungkapkan Rasa


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian mobilnya Nathan berhenti di sebuah restoran yang berada seribu meter dari Devoyage Bogor.


“Ini area resort lagi ?” Jovi yang tak tahu tempat apa itu melontarkan pertanyaan pada Nathan begitu ia turun dari mobil. “Kau akan tahu sendiri nanti setibanya di dalam.” sengaja pria itu tak mau menjawabnya dan membiarkan gadis itu penasaran serta mengetahuinya sendiri.


Nathan berjalan masuk ke Hobbit Hills dan Jovi mengikutinya. Ternyata area itu luas sekali sekitar empat hektar.


“Apa ini benar restoran ?” Jovi berhenti dan menatap ke sekitar. Di sana terdapat bangunan-bangunan yang dibangun dan ditata seperti perkampungan para hobbit seperti yang ada di film-film dan juga beberapa bangunan kecil seperti camp yang terlihat unik dengan bentuk kerucut seperti perkampungan Indian. “Benar, tidak salah.” Nathan tersenyum kecil menanggapinya.


Jovi yang masih tidak yakin jika tempat itu merupakan restoran hanya diam saja dan tak berani mengajukan pertanyaan lagi yang mungkin saja akan membuatnya terlihat konyol di depan pria itu dengan ketidak tahuannya.


“Ini...” Jovi mengikuti Nathan masuk ke sebuah bangunan yang dibangun mirip seperti goa dan merupakan tempat tinggal para Hobbit. “Kau suka duduk di mana ?” Nathan menanyakan di mana sebaiknya mereka duduk di restoran sebelum memesan menu makan siang.

__ADS_1


“Bagaimana jika di sana saja kak ?” Jovi melihat keisi restoran dan kemudian memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan. “Oke kita duduk di sana.” Nathan langsung setuju dan sama sekali tak menolak pilihan Jovi.


Mereka berdua kemudian duduk di kursi yang berada di sudut ruangan sambil melihat daftar menu makanan.


“Aku pesan ini saja.” Jovi menuliskan menu yang ia pesan kemudian menyerahkannya pada Nathan. “Kau yakin tidak ingin pesan lainnya ?” Nathan bertanya setelah membaca apa yang dipesan oleh Jovi sebelumnya menyerahkan daftar pesanan mereka pada pelayan yang ada di sana.


“Tidak kak.”Jovi menjawab singkat sambil menggelengkan kepala.


“Ini tuan dan nona pesanan anda.” tak lama kemudian pelayan datang ke meja Nathan dan membawakan pesanan mereka. “Terima kasih.” jawab mereka berdua bersamaan.


Jovi yang lapar setelah menyantap hidangan yang ada di depannya.

__ADS_1


“Apakah tepat jika aku mengungkapkan perasaanku padanya sekarang ?” Nathan terlihat gugup dan sama sekali belum menyentuh hidangan yang tersaji di depannya. “Lalu apa jawabannya nanti ?” merasa takut jika Jovi menolaknya.


Pria itu diam sejenak dan berpikir dan Iya pun akhirnya memutuskan untuk mengungkapkannya hari ini juga apapun jawaban dari Jovi karena menurutnya saat inilah momen yang tepat di mana ada kesibukan atau hal lainnya yang bisa mengganggu fokusnya.


“ehm... Jovi... mengenai hal yang tadi ku bicarakan sebelumnya aku ingin menyampaikan sedikit hal padamu.” Nathan terlihat gugup bahkan terlihat keringat sedikit menetes dari dahinya.


“Ya, kak apakah itu masalah kerjasama kita ?” Jovi menaruh sendok yang ia pegang ke piring dan menatap Nathan dengan serius.


Nathan menarik nafas panjang sekali sebelum mulai melanjutkan ucapannya.


“Jovi... a-aku... sebenarnya suka pada mu.” Nathan Akhirnya bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan pada gadis itu dengan susah payah. “ Aku suka pada mu dan ingin menjalin hubungan dengan mu.” lanjut Nathan dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


Jovi diam mematung mendengar pernyataan cinta dari Nathan.


__ADS_2