
Jovi memakan buah yang diberikan oleh Chris padanya untuk mengatasi rasa mualnya yang kembali muncul. Namun beberapa saat setelahnya gadis itu terlihat tertidur karena pengaruh obat.
Di ruangan sana menyisakan Chris dan juga Shasha seorang. Mau tak mau mereka pun akhirnya mengobrol dan berkenalan selama beberapa saat.
“Senang berkenalan denganmu nona Shasa.” ucap Chris dengan tersenyum kecil setelah mengobrol dengan gadis itu. Dalam hati pria itu juga mengagumi kecantikan Shasha.
“Ya tuan Chris aku juga senang bicara denganmu. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu kembali dan mengobrol.”
“Tentu saja nona.” jawab Chris singkat. “Maaf nona aku harus segera kembali dulu karena masih ada pekerjaan yang belum ku selesaikan.” lanjut Chris terbalik dan bersiap berjalan menuju ke pintu.
“Ya silahkan.”
Chris pun kemudian keluar dari rumah sakit. Pria itu kembali menjalankan tugasnya dari Nathan untuk menghancurkan nama baik perusahaan Sanjaya.
“Jadi pria tadi bekerja di kantor kekasih nya Jovi, laik waktu aku bisa menanyakan hal itu padanya.” Shasha tersenyum tipis menatap ke arah pintu.
Ia pun kembali duduk menatap Jovi yang masih tertidur. “Semoga aku juga menemukan Mr. Right ku seperti dirimu Jov.”
Di kantor Nathan pria itu terlihat gelisah memikirkan perusahaan ayahnya Jovi. Ia tak habis pikir kenapa Deon sampai menghancurkan perusahaan yang menurutnya tak ada hubungannya dengan masalah rumah tangganya dengan Jovi.
__ADS_1
“Dia benar-benar kekanak-kanakan sekali.” Nathan menarik nafas kasar kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi.
Dua jam setelahnya Chris kembali dan membawa laporan untuk tuannya.
“Chris... kau sudah kembali ?” ucap Nathan menegakkan tubuhnya setelah melihat sekretarisnya itu datang ke ruangannya.
“Ya tuan.”
“Bagaimana dengan nona Jovi ?” tanya Nathan yang mengkhawatirkan kondisi kekasihnya itu. “Nona sudah memakan separuh buah yang tuan kirim dan saat ini sedang tidur. Ada nona Shasha di sana yang menemaninya.” jelas Chris dan Nathan hanya mengangguk saja mendengarkan penjelasannya dan merasa lega karena Jovi tak sendiri.
“Bagaimana dengan tugas lain yang kuberikan padamu ?”
“Good job. Kau boleh pergi sekarang.”
Chris pun segera pergi dari sana dan kembali ke ruangannya.
Tiga hari kemudian di kantor Deon. Pria itu sedang duduk manis dan tersenyum lebar sambil membaca surat resmi perceraiannya dengan Jovi dari pengadilan.
“Tuan ada kabar buruk.” tiba-tiba seorang staff masuk ke ruangan Deon.
__ADS_1
“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk ?”
“Maaf tuan, tapi ada kabar buruk mengenai perusahaan ini yang harus segera tuan ketahui.” jawab pria itu yang ternyata adalah sekretaris Deon.
“Kabar buruk ?” Deon mengerutkan keningnya. “Cepat katakan pada ku apa itu.” lanjutnya tak sabar.
“Ada yang menyebarkan isu buruk di luar tentang perusahaan ini sehingga membuat performa perusahaan ini menurun 20%.”
“Apa ? Bagaimana bisa itu terjadi ?!” Deon tak percaya mendengar hal itu dan menggebrak mejanya karena kesal. “Selidiki sekarang juga apa penyebabnya dan segera beritahu aku jika sudah mendapatkan informasinya.” tambahnya dengan tatapan tajamnya membuat sekretaris yang gemetar menatapnya saja.
“Baik, tuan.” pria itu tidak berjalan namun setelah berlari keluar dari sana dan segera melakukan penyelidikan.
Di apartemen Nathan. Terlihat Jovi baru masuk ke rumah setelah keluar dari rumah sakit.
“Aku bisa jalan sendiri kak.” ucap Jovi saat Nathan menggendongnya turun dari mobil dan masuk ke apartemen. “Ssts... kau menurut saja karena kondisimu masih lemah dan dokter juga bilang kau tidak boleh banyak gerak dulu.” Nathan sampai rumah dan membaringkan Jovi di tempat tidur.
Di rumah orang tua Jovi terlihat Samuel yang sedang memeriksa perkembangan perusahaannya.
“Oh Champion Group kembali meskipun sekarang menempati posisi ke 15.” pria itu tersenyum lebar melihat performa perusahaannya yang pulih. “Oh, ini pasti berkat dia.” tambahnya tanpa mau menyebut nama Nathan.
__ADS_1