Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 153 Menemani Ke Pengadilan


__ADS_3

Keesokan paginya Jovi bangun di tempat tidur Nathan. Ia selalu bangun lebih pagi daripada Nathan agar ia bisa bersiap terlebih dulu di rumahnya sebelum berangkat ke kantor.


“Kak, aku pulang dulu.” Jovi membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari tempat tidur sambil mengecup dahi Nathan. Namun sayang pria itu masih tertidur pulas.


Jovi mengeluarkan kunci apartemen yang di berikan padanya oleh Nathan agar ia bisa keluar masuk dengan leluasa.


“klak.” Jovi mengunci kembali pintu Sesampainya di luar apartemen. Ia segera duduk di mobil dan mengemudikannya menuju ke rumah.


“Oh... dia sudah pulang rupanya.” Deon yang baru bangun tidur mendengar suara derap langkah kaki masuk ke rumah. Ia pun segera bersiap untuk menyambut kedatangan Jovi.


“Kau dari mana saja ? kelayapan setiap hari ?” Deon terdiri dari tempat duduknya dan menatap jauhi dengan tatapan tajam.


“Aku ?” Jovi menampilkan kedua alisnya. Sejak kapan dia peduli dan mengurusi waktunya. “Mencari kesenangan di luar.” terus berjalan dan menyingkirkan tangan Deon yang menghalanginya di pintu.


“Apa kesenangan yang kau maksud itu bermain-main dengan seorang pria ?”


Deg

__ADS_1


Jovi terkejut mendengar ucapan Deon tersebut.


“Kau bersenang-senang dengan seorang pria selama ini ? Seorang pria yang ku kenal ?” tambah Deon sambil tersenyum merendahkan.


“Minggir kau ! Omong kosong apa yang kau bicarakan itu ?” Jovi merasa heran apa Deon benar-benar mengetahui hubungannya dengan Nathan ?Tapi bagaimana bisa ?


“Kubilang Minggir ! Aku mau bersiap untuk berangkat kerja.” bentak Jovi lebih keras dan barulah Deon memberinya jalan karena gendang telinganya serasa mau jebol.


Jovi tak menggubris ataupun mengindahkan lagi perkataan Deon.


“Jika kau berani macam-macam denganku maka lihat saja sebentar lagi perusahaan akan seperti apa ?” Deon berbalik menatap punggung Jovi sembari tersenyum lebar.


“Ya Jovi... kau tenanglah. Kita akan urusi hal ini nanti, oke. Kau bersikaplah sewajarnya saja.” Nathan mengakhiri telepon yang membangunkan tidurnya itu. Ia pun turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya kembali, siap untuk berangkat kerja.


“Sepertinya Deon sudah mengetahui hubungan kami. Jika begitu aku harus bertindak lebih cepat. Mungkin inilah saat yang tepat untuk menggugat cerai dia.” Nathan menenteng tas kerjanya setelah 30 menit ia kemudian masuk ke mobil.


Siang hari Nathan datang ke kantor Jovi dan masuk ke ruangannya.

__ADS_1


“Kak kita mau kemana ?” Jovi bertanya karena Nathan tiba-tiba saja menarik tangannya dan mengajaknya keluar dari kantor.


“Kau akan tahu sendiri nanti setelah kita sampai.” balas Nathan saat mereka sudah berada di mobil.


Pria itu kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat dan berhenti di sebuah tempat setelahnya.


“Pengadilan agama ?” Jovi membaca plang yang tertera di sana setelah turun dari mobil dengan Nathan yang mengikutinya turun.


“Ya menurut ku kau harus segera menggugat cerai Deon.”


“Tapi kak--”


“Sudahlah ayo masuk.” Nathan menarik tangan Jovi masuk ke Pengadilan Agama.


Di dalam sana Jovi pun mendaftarkan gugatan perceraian nya dengan Deon atas tuduhan perselingkuhan.


Tak hanya itu saja bahkan Jovi menyebutkan alasan lainnya untuk memuluskan gugatan perceraiannya dengan menyebutkan jika Deon tidak pernah menafkahinya baik lahir maupun batin. Karena selama ini dia hanya pemegang credit card mertuanya juga credit card milik Nathan, bukan Deon.

__ADS_1


“Baiklah nona kami akan memproses gugatan cerai anda. Kami akan berikan kabar secepatnya pada anda.” ucap petugas pengadilan agama menerima berkas pengajuan gugatan cerai Jovi.


__ADS_2