Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 176 Kembali Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Nathan dan Jovi tiba di depan pintu rumah ibunya Nathan. “Ding-dong.” pria itu segera menekan bel rumah.


“Kak... bagaimana jika kita pulang saja ?” Jovi belum bertemu ibunya Nathan saja sudah takut duluan.


Belum sempat Nathan menjawabnya, pintu rumah terbuka. Jovi hanya menggenggam tangan Nathan untuk menguatkan dirinya.


“Nathan... kau datang...” ibunya Nathan seketika diam saat melihat wajah Jovi yang berdiri di samping putranya. Bahkan tersenyum padanya saja tidak. “Untuk apa malam-malam datang kemari ?”


“Begini bu ada yang ingin ku bicarakan dengan ibu.” Nathan mengajak masuk Jovi meskipun ibunya tidak mempersilahkan mereka untuk masuk.


Wanita itu hanya mengerutkan keningnya sambil duduk menatap Jovi yang duduk di samping Nathan.


“Ibu kami kemari untuk meminta restu darimu. Dua minggu ke depan kami akan melangsungkan pernikahan. Aku harap ibu bersedia hadir dalam pernikahan kami nanti.” ucap Nathan panjang lebar meminta restu dari ibunya.


“Di hari itu aku ada acara.”


“Sebentar saja ibu, tak apa.” Nathan memaksa yang membuat ibunya yang sebenarnya tidak mau menghadiri acara tersebut menjadi emosi karena kehabisan kata untuk berbohong lagi.


“Tidak Nathan. Dari awal aku sudah bilang padamu jangan lanjutkan hubungan ini tapi kau keras kepala.” akhirnya ibunya Nathan berkata jujur depan mereka.


“Ibu aku sudah bilang pada ibu jika Jovi mengandung anak ku.” tekan Nathan.

__ADS_1


“Gugurkan saja. Mudah bukan ?”


Perkataan itu membuat Jovi sangat ketakutan dan meremas tangan Nathan yang masih digenggamnya dengan erat.


“Ibu... aku menginginkan anak ku, darah daging ku. Dia juga adalah cucu mu.” protes Nathan dengan keras.


“Bukan. Sampai kapanpun aku takkan pernah mengakui anak itu sebagai keturunan keluarga kita.” jawab ibunya Nathan tak kalah bersikeras tidak mau mengakuinya.


Jovi yang sedari tadi diam hanya menahan emosi saja sampai tubuhnya gemetar.


“bruk.”


“Ibu... kondisi kandungan Jovi lemah apalagi dia sedang mengandung anak kembar dan emosinya harus stabil. Ku harap perkataan ibu barusan tidak berdampak apapun pada Jovi dan buah hati kami.”


Nathan beralih menatap ibunya. Ia merasa coba sekali ada apa yang diucapkan oleh ibunya yang juga tak hanya melukai Jovi tapi juga melukai dirinya.


“Jovi...” Nathan tak mau menerima resiko maka ia pun segera membawa Jovi ke rumah sakit tanpa berpamitan terlebih dulu pada ibunya.


“Salahkah aku melindungi putra ku ?” ibunya Nathan hanya diam saja menatap mobil putranya yang melaju keluar dari rumahnya.


“Aku harap tidak terjadi apapun padamu.” Nathan menatap Jovi dengan sedih sambil mengemudikan mobil menuju ke rumah sakit terdekat. “Maafkan aku... harusnya aku mendengar ucapan mu.” dalam hati ia kecewa.

__ADS_1


Tak beberapa lama kemudian mereka tiba di rumah sakit dan petugas medis segera bergerak dengan cepat menangani pasien.


“Tolong tunggu sebentar di luar.” seorang dokter meminta Nathan keluar terlebih dulu.


Nathan duduk di kursi tunggu dengan cemas dan berulang kali menetapkan pintu yang tertutup di belakangnya.


“klak.”


Nathan segera beranjak dari tempat duduknya begitu mendengar suara pintu terbuka.


“Dokter bagaimana keadaan pasien ?” tanya Nathan menghampiri dokter yang ada di dalam ruangan.


“Pasien tidak apa-apa hanya syok ringan saja dan sudah siuman.”


Nathan merasa lega mendengar penjelasan dari dokter. Ia pun segera menghampiri Jovi setelah dokter dan petugas medis keluar dari sana.


“Kenapa aku di rumah sakit lagi ?” ucap Jovi saat melihat Nathan berdiri di sampingnya.


“Untung lah kau tidak apa-apa.” Nathan memeluk Jovi dengan erat. “Besok kau boleh pulang. Aku aku akan menunggu mu di sini. Jangan pikirkan lagi apa yang yang diucapkan oleh ibuku.” bisiknya lirih.


Jovi hanya mengangguk dan balas memeluk Nathan sambil menitikkan air mata yang tertahan untuk melonggarkan dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


__ADS_2