
Jovi dan Nathan benar-benar menikmati keindahan langit malam itu. Tak ada yang mengganggu mereka berdua sehingga serasa sanatorium itu hanya milik mereka berdua saja.
Beberapa hari berlalu semakin hari hubungan Nathan dan Jovi semakin dekat dan mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama, juga tidak malu-malu saat mereka sedang berduaan saja.
Suatu hari di jam kerja, Jovi dan Nathan terlibat meeting bersama di kantor Nathan. Mereka mengikuti meeting yang juga dihadiri oleh banyak perusahaan besar lainnya.
“Baiklah meeting kali ini sudah selesai dan cukup sampai di sini. Kita akan menggunakan meeting kembali minggu depan.” Nathan memberikan sambutan penutup sebelum meeting berakhir dan ia terlihat tak gugup lagi meskipun ada juga di sana sebagai peserta meeting. “Terimakasih atas kehadirannya dan partisipasi dari semuanya.” Nathan duduk kembali setelah selesai memberikan sambutan.
beberapa saat setelahnya para peserta meeting bubar dan tinggallah Nathan dan Jovi saja di ruangan meeting.
“Apa kakak lelah ?” Jovi menghampiri Natan dan duduk di sebelahnya. Ia melihat pria itu berkeringat dan mengambil tisu yang ada di meja kemudian mengusap keringat Nathan.
“Jovi setelah ini ikut aku sebentar ke rumah sebelum aku mengantarmu ke kantor.” ucap Nathan tiba-tiba setelah teringat sesuatu. “Ada dokumen penting yang tertinggal di rumah dan aku harus mengambilnya sekarang juga.”
“Ya, kak.” jawab Jovi singkat kembali mengusap keringat Nathan.
__ADS_1
Dari ruangan lain terlihat Chris yang berada di sebuah ruangan dan tak berani keluar.
“Kenapa tuan dan nona Jovi belum keluar juga dari ruangan meeting ini ?” mengintip dari jendela dan mengurungkan niatnya kembali untuk keluar ruangan karena ingin mengganggu mereka.
“Ayo kita berangkat sekarang.” Nathan berdiri. sebelum berjalan ia menoleh ke sekitar ruangan dan kemudian memegang tangan Jovi saat melihat tak ada orang di sana.
“Aku yakin tuan pasti ada sesuatu dengan nona Jovi.” Chris masih mengintip dari balik jendela, melihat kedekatan mereka yang tidak seperti klien biasa pada umumnya.
Jovi dan Sean sudah berada di mobil. Tak Berapa lama setelahnya mobil segera keluar dari kantor Nathan menuju ke rumahnya.
Ini pertama kalinya bagi Jovi menginjakkan kaki di rumah Nathan. Ada sedikit rasa gugup Jika ia bertemu dengan orang tua pria itu atau keluarga lainnya.
“Kak sebaiknya aku tunggu di sini saja jika hanya sebentar.” Jovi belum siap bertemu dengan keluarga Nathan dan memilih untuk menunggu di teras saja.
“Tidak Jovi kau harus menunggu di dalam meskipun hanya sebentar.” Nathan melarangnya keras bahkan sampai ia menarik tangan Jovi untuk berjalan masuk mengikutinya. “Tunggu di sini dulu aku takkan lama.” meninggalkan Jovi sendiri di ruang tamu sedangkan ia masuk ke ruang dalam untuk mencari dokumen penting urgent.
__ADS_1
Kebetulan saat itu bi Ijah sedang bersih-bersih di teras kemudian masuk ke ruang tamu. Ia terkejut saat melihat ada tamu seorang wanita di sana dan lebih terkejut lagi saat melihat parasnya.
“No-no-nona Qiana...” ucap bi Ijah keceplosan dan salah ucap memanggil nama tamu. “Ya...” Jovi menautkan kedua alisnya dan tak mengerti kenapa pelayan itu memanggil nya dengan nama lain yang tidak ia ketahui sama sekali.
Bi ijah sedikit lama mengamati dan memperhatikan Jovi yang benar-benar mirip sekali dengan Qiana.
“No-nona pasti tamunya tuan Nathan. Nona mau minum apa, bibi akan buatkan.” menawarkan untuk minum, menutupi keterkejutannya.
Jovi saat itu memang harus dan Kebetulan sekali pelayan itu menawarinya minum.
“Jika boleh, aku minta air putih saja bi.”
Bi Ijah pun segera masuk ke dapur untuk mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Jovi.
“Nona tadi kenapa bisa benar-benar mirip dengan nona Qiana ?” Bi Ijah kembali ke dapur dan masih tak percaya saja dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1