
Keesokan harinya di kantor Jovi. Pagi hari Ia pun berangkat ke kantor seperti biasa. Tapi kali ini ia berangkat naik taksi karena mobilnya masih ada di kantor.
“Sudah sampai di tempat tujuan, nona.” driver taksi menghentikan mobilnya tepat di depan kantor Jovi berada. “Baik, terimakasih.” ia pun segera turun dari taksi dan menyerahkan beberapa lembar uang pada sang driver.
“Nona Jovi berangkat ke kantor naik taksi ?” Rani secara tak sengaja setelah keluar dari ruang absen melihat Jovi turun dari taksi dan menyeberang jalan masuk ke kantor. “Jadi kemarin nona tidak membawa pulang mobilnya ? Jadi... apa dia menginap bersama CEO Nathan ?” muncul pikiran negatif yang terlintas begitu saja dalam benak Rani.
“Oh... apa yang ku pikirkan ?” Rani segera menghapus pikiran negatifnya tentang Jovi dan segala perjalanan pergi dari sana saat melihat nonanya semakin dekat dengan dirinya berada saat ini.
“Itu kan Rani ?” Jovi melihat sekretarisnya itu seolah menatap dirinya tapi sekarang pergi dengan cepat. “Mungkin itu hanya perasaan ku saja.” Jovi tak mau memikirkan hal itu lebih lanjutan segera berjalan menuju ke kantornya.
Di dalam kantor gadis itu kembali melihat dokumen setumpuk di mejanya.
“Pekerjaan tak ada habisnya.” Jovi mengeluh namun tetap mengerjakan setumpuk dokumen yang ada di mejanya.
__ADS_1
Di tengah pekerjaan nya ia tiba-tiba berhenti setelah menyelesaikan separuh dokumen yang ada.
“Kak Nathan... apa yang harus kukatakan padamu ?” Jovi teringat kembali pada pernyataan cinta yang diungkapkan oleh Nathan sehari sebelumnya. “Aku bingung mau jawab apa ?” pipinya terlihat bersemu merah memikirkannya.
“tok... tok...” dari alah luar kantor terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
“Ya Rani, masuk saja.” Jovi menjawab tanpa menatap ke arah pintu karena ia yakin itu pasti sekretarisnya. “Nona ada paket untuk mu.” Rani membuka pintu kemudian masuk ke ruangan Jovi dengan membawa sebuket mawar merah.
“Maaf nona, di buket ini tidak tercantum siapa pengirimnya.” Rani memeriksa siapa pengirimnya dan ternyata anonim. “Taruh saja di meja.” Jovi masih terlihat sibuk dan meminta sekretarisnya untuk meninggalkannya saja.
“Baik, nona.” Rani menaruh buket mawar merah tadi ke meja seperti arahan dari Jovi dan segera pergi dari sana kembali ke ruangannya.
Lima menit kemudian setelah Jovi mengerjakan beberapa dokumen lagi Ia pun berdiri dari tempat duduknya dan mengambil buket mawar merah dari meja lain.
__ADS_1
“Siapa kira-kira yang mengirim mawar merah ini padaku ?” Jovi mencari siapa pengirimnya namun tak tercantum di buket tersebut.
“Ding.” belum sempat Ia berpikir pengirim rahasia itu, ia mendengar nada pesan masuk pada ponselnya. “Pesan dari siapa ?” Jovi Kembali ke tempat duduknya dan duduk sambil menelpon soal yang ia letakkan di dekat dokumennya.
“Pesan dari kak Nathan ?” Jovi membaca nama pria itu sebagai pengirim pesan. “klik.” ia pun segera membuka pesannya karena penasaran.
Jovi... apakah kau sudah menerima kiriman mawar merah dariku ? Apa kau menyukainya ?
“Oh.... ternyata dia yang mengirimkan buket bunga itu padaku.” Jovi tersenyum lebar membaca pesan dari Nathan setelah mengetahui dialah pengirimnya.
Jovi pun segera membalas pesan dari Nathan sambil mencium bunga mawar merah itu. Selama tiga hari berturut-turut ia menerima buket mawar merah setiap harinya.
“Oh ya Tuhan... aku semakin tak berdaya saja jika dia terus seperti ini.” membawa buket mawar merah yang barusan diserahkan oleh Rani padanya.
__ADS_1