Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 14 Sosok Mirip Qiana


__ADS_3

Singkat cerita Ke tujuh istri siri Nathan kembali minta cerai karena pria itu tak berdaya saat harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami di malam pertama mereka.


Dua bulan berlalu, rasa kesedihan akibat perceraian karena menyandang status duda kembali membekas di hati Nathan.


“Aku harus terus maju, bukankah terus melihat ke belakang akan menghambat langkah kaki kita ?” Nathan menyemangati dirinya sendiri dari semua luka batin yang dideritanya akibat perceraian.


Nathan sebagai pria normal akhirnya bangkit dan mencoba menantang ulang kembali hidupnya. Ia kembali menjalin hubungan dengan beberapa gadis sekaligus, yang ia kenal dari situs biro jodoh dengan sebelas orang wanita. Jika di total dengan jumlah sebelumnya, berjumlah genap 20 orang wanita.


Tiga bulan berlalu dan Nathan kembali menikahi kesebelas wanita yang dikenalnya dari situs biro perjodohan, dengan status nikah siri.


Genap satu bulan berikutnya kesebelas wanita tersebut kembali menggugat cerai Nathan karena hal yang sama, pria itu lettoy, tak bisa memberikan nafkah batin pada mereka di malam pertama pernikahan mereka hingga akhir.


“Untung saja aku hanya menjadikan mereka semua sebagai istri siriku bukan istri syah.” ucap Nathan menghela nafas panjang setelah mendapatkan kembali status duda untuk yang ke-20 kalinya di kamar tidurnya.


Dua tahun berlalu sudah. Nathan kini berusia 29 tahun dan ia tak menjalin hubungan dengan wanita manapun setelah perceraiannya yang ke-20 kali hingga saat ini.

__ADS_1


Suatu sore pria itu pulang lebih awal dari kantor dan melajukan mobilnya menuju ke arah pemakaman.


“Qiana... hingga saat ini, aku masih saja tak bisa melupakan dirimu, semuanya tentang diri mu.” Nathan duduk berjongkok di makam cinta pertama nya, Qiana sambil menaburkan bunga di atas makamnya. “Aku tidak tahu lagi bagaimana harus hidup. Aku sudah mencoba menjalin hubungan dengan banyak wanita namun semuanya berakhir pada perceraian.” tertunduk menatap nisan Qiana.


Sore itu langit terlihat mendung dan angin berhembus kencang.


“Qiana jika kau tidak mengutuk ku, dan ingin aku bahagia pertemukan aku dengan gadis yang mirip dengan mu. Entah dia sudah tua atau masih bocah, masih single ataupun sudah janda jika itu kau aku akan menerimanya.” Nathan menyentuh nisan Qiana dengan mata yang berkaca-kaca berkata seperti itu karena perasaan cintanya yang mendalam pada Qiana.


“Jeder... !” tiba-tiba kilat menyambar dengan kencang setelah pria itu mengucapkan permintaannya di atas nisan kekasihnya. Dan tak lama setelahnya hujan deras turun mengguyur.


Nathan berlari masuk ke mobil. Ia mengemudikan mobilnya dengan pelan di tengah derasnya hujan. Di tengah jalan dari kejauhan ia melihat sosok gadis yang berjalan dengan gontai ke arahnya.


“Diin....” Nathan membunyikan klakson mobilnya untuk memberi isyarat agar gadis tadi minggir.


Namun apa yang terjadi, bukannya gadis tadi menepi. Ia malah berlari ke arah mobil Nathan seperti orang bingung, entah apa sebabnya.

__ADS_1


“ckiiit... !” Nathan menginjak rem dalam untuk menghentikan mobilnya.


“bugh... !” Namun tetap saja meskipun laju mobil menjadi pelan, ia tetap menghantam gadis itu dan membuatnya ambruk.


“Sial... !” Nathan keluar dari mobil dan menghampiri gadis yang di tabraknya.


“Hey kalau jalan yang benar !” ucapnya saat menghampiri gadis yang ia tabrak dan berdiri.


“Astaga... ! Qiana... itu kau... Qiana.” Nathan seketika terperanjat kaget saat gadis yang di tabraknya berbalik menatapnya.


Tentu saja ia kaget karena gadis itu benar-benar mirip sekali dengan cinta pertamanya, Qiana. Dari postur dan wajah mereka berdua benar-benar serupa.


“Hey apa kau tak apa ?” Nathan menyentuh bahu gadis itu dan menatapnya intens.


Namun Jovita yang masih merasakan pusing bukan karena terbentur oleh mobil Nathan, tapi karena masalah di rumah tidak menjawab pertanyaan Nathan dan ia pun tiba-tiba pingsan di depan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2