
Hingga tengah malam Jovi masih belum bisa tidur dan terbayangkan pada Nathan, teringat semua yang sudah pria itu lakukan padanya, termasuk semua perhatiannya.
“huft...” Jovi menarik nafas panjang di tengah kebimbangan hatinya. “Sha... apa yang harus kulakukan ?” naik ke tempat tidur dan duduk menatap sahabatnya yang masih tertidur pulas. “Kenapa aku mengenalnya di saat posisiku seperti ini ?” diam-diam ia menyesali pernikahannya dengan Deon yang sama sekali tidak membawa kebahagiaan untuk dirinya.
Setelah satu jam lamanya gadis itu melamun dan memikirkan ulang semuanya Ia pun merasa mengantuk dan tertidur di samping Shasha.
Dua hari berikutnya di pagi hari.
Jovi semalaman tidak tidur dan baru bisa tidur pukul 03.00 dini hari setelah mengambil keputusan dan mempertimbangkannya matang-matang.
“Dasar kucing tidur pemalas, jam segini belum bangun kau !” Deon keluar dari sebuah kamar dan berhenti di depan kamar Jovi yang tertutup dan mengintipnya. “Pria mana yang sudi menikahi wanita sepertimu !” tersenyum merendahkan kemudian segera berlalu dari sana dan berangkat ke kantornya.
__ADS_1
“uuh... jam berapa ini ?” lima menit kemudian setelah Deon pergi, Jovi bangun. “Astaga sudah jam tujuh lewat.” terkejut dan segera bangun melompat dari tempat tidur setelah menyadari jika dirinya kesiangan.
“Pasti karena aku tidak bisa tidur semalam.” Jovi segera keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar mandi dengan mata yang terasa masih berat untuk dibuka.
Beberapa saat kemudian gadis itu sudah terlihat rapi dan juga harum.
“klik.” ia terlihat gugup saat masuk ke mobil dan menutup pintu mobil. “Semoga saja kak Nathan tidak meminta jawabannya pagi ini juga.” merasa berdebar hanya dengan membayangkan wajah Nathan saja.
Jovi mencoba mengemudi dengan tenang dan meredam degup jantungnya yang sedari tadi tak bisa ia ajak kompromi.
Ia pun mulai berkutat mengerjakan setumpuk dokumen yang ada di mejanya yang menurutnya setiap hari tak ada habisnya meskipun ia sudah menyelesaikannya dengan cepat.
__ADS_1
“Sebaiknya aku matikan ponselku dulu.” beberapa kali gadis itu terlihat tidak fokus karena terpikirkan pada Nathan, maka ia pun memutuskan untuk mematikan terlebih dahulu ponselnya dan akan menjawabnya langsung daripada bicara melalui telepon.
Nathan duduk di ruangannya dan terlihat tidak tenang.
“tuut... tuut...” Nathan berulang kali mencoba menghubungi nomor Jovi namun tidak tersambung. “Sepertinya dia mematikan ponselnya.” terlihat kecewa tanpa sebab kenapa gadis itu malah mematikan ponselnya harusnya ia memberikan jawaban pada Nathan.
“Oh... sudahlah mungkin dia memang sedang sibuk saat ini.” Nathan mencoba untuk mengerti dan fokus kembali pada pekerjaannya.
Sore harinya, barulah Jovi mengaktifkan ponselnya tepat di saat jam pulang.
“Klik.” tepat di saat Jovi masuk ke parkiran dan akan mengambil mobilnya terlihat mobil Nathan datang menjemputnya. “Masuklah, kali ini kau tidak bisa lari dariku.” Nathan membuka pintu mobilnya dan meminta Jovi untuk segera naik.
__ADS_1
“Kak, Nathan ?” terkejut mendapati pria itu datang menjemputnya. “Aku tidak lari dari kakak.” menggeleng menanggapi pria itu kemudian segera duduk di sampingnya.
“Jadi apa jawaban mu hari ini ? Kenapa kau menghindari ku ?” Nathan meminta jawaban dari Jovi sambil melajukan mobilnya di jalanan.